28/10/2009

Masjid Tan Kok Liong: Masjid Bergaya Tiongkok

next_1_ed33Salah satu cara agar masjid sering didatangi pengunjung adalah mengemas penampilan arsitekturnya. Demikian pula Masjid Tan Kok Liong. Masjid milik HM Ramadhan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan ini menawarkan daya tarik khas arsitektur Tiongkok.

Masjid bergaya klenteng? Mengapa tidak. Di negeri China, masjid-masjid seperti ini bertebaran di mana-mana. Toh, orang yang biasa menggunakan klenteng sebagai tempat ibadah tak ada yang protes. Tak salah juga kalau elemen budaya klenteng menjadi ekspresi seni dan arsitektur bagi sebuah masjid. Justru dengan begitu, penampilan masjid bisa terlihat unik dan menarik.

next_2_ed33 Kalau ada waktu luang, Friday Readers bisa mengunjungi kompleks Pondok Pesantren Terpadu at-Ta’ibin di Kampung Bulak Rata, Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor. Di pesantren untuk jenjang SMP/Tsanawiyah dan SMA/Aliyah ini terdapat Masjid Tan Kok Liong. Masjid berasitektur klenteng ini dibangun pada tahun 2005. Idenya muncul saat Anton menyimak berita kunjungan Presiden SBY ke China pada tahun 2004.

Anton yang memang berdarah Tionghoa akhirnya bertekad bulat membangun Masjid Tan Kok Liong dengan biaya sekira Rp 2 miliar. Sebelum dibangun, Anton yang memiliki workshop dan pelatihan bagi para mantan preman dan narapidana ini sempat riset dari sejumlah referensi arsitektur China. Anton pun menemukan gambar dan desain istana-istana yakni Istana Dinasti Ming, Ching, dan Hang. Akhirnya, Anton mengadopsi bentuk aristektur dinasti Ching dan dia sendiri yang mendesain sekaligus menjadi arsiteknya.

next_6_ed33 Lazimnya, masjid bergaya arsitektur klenteng berciri khas dominasi warna merah dengan sentuhan nuansa kuning dan hijau. Begitu juga penampilan Masjid Tan Kok Liong. Dari luar, masjid ini seperti istana. Padahal, sepertinya masjid ini dibangun dengan bahan bangunan biasa. Bagian dalam masjid ini tak terlalu luas. Namun, cukup untuk menampung jamaah sampai seratusan orang.

next_3_ed33 Ornamen atap masjid ini menyiratkan simbol naga dibangun berjenjang tiga. Ruang ibadah utama dibuat dalam satu lantai. Lantai bawah digunakan untuk kantor. Yang unik justru dua ruangan di atas masjid. Dua undakan bangunan yang menyerupai bentuk klenteng itu ternyata dibiarkan kosong. Mungkin memang arsitekturnya menyesuaikan dengan budaya dari China.

Dari luar memang Masjid Tan Kok Liong tidak tampak seperti masjid pada umumnya. Namun jika dilihat dari dekat, terlihat papan bertuliskan “Masjid Jami Tan Kok Liong”. Perpaduan religiulitas Islam dengan budaya Tiongkok pun menyiratkan makna persatuan [ukhuwah]. Jamaahnya selalu didominasi penghuni Pesantren at-Ta’ibin. Sayangnya, Masjid Tan Kok Liong tidak digunakan untuk shalat Jum’at. Ini karena ada masjid lain yang lebih besar yang letaknya tak jauh dari lokasi masjid di tengah pesantren itu.

Di samping kanan masjid, terdapat pendopo yang disebut-sebut sebagai lahan yang dipersiapkan untuk makam Anton. Lahannya tidak terlalu luas tapi menyatu dengan area masjid.

Karena bangunannya yang unik, Masjid Tan Kok Liong tak jarang menjadi objek wisata para pelancong domestik. Ibaratnya, mereka bisa menyelam sambil minum air alias berwisata sambil beribadah. Friday Readers tertarik untuk berkunjung? « [yogira] – foto: hagi

Box
Masjid Jami Tan Kok Liong
Pondok Pesantren Terpadu At-Ta’ibin
Jl. Raya Kp. Sawah Rt 02/RW 08
Kp. Bulak Rata Kel. Pondok Rajeg
Cibinong-Bogor, Jawa Barat – 16914
Tel 021-27142299
Laman www.antonmedancenter.com
Surel info@antonmedancenter.com


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Saat MAGHRIB tiba, dan Anda masih terjebak di kemacetan lalu lintas, apakah Anda

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010