18/11/2009

Hakekat Pengorbanan

thought_2_ed34Oleh A. Wahib Mu’thi

Hari Raya ‘Idul Adha mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim as. Di tengah-tengah kaumnya yang menyembah berhala, Nabi Ibrahim gelisah mencari siapa Tuhan yang layak disembah. Siapa kekuatan di balik alam semesta, yang mengatur jalannya kehidupan. Siapa kekuasaan yang menyebabkan segala sesuatu terjadi. Maka Nabi Ibrahim memperhatikan tanda-tanda alam dan bertanya apakah bintang, atau bulan, atau matahari yang layak disembah sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim sampai kepada kesimpulan bahwa Tuhan yang layak disembah itu bukan bintang, bukan bulan, bukan matahari, tetapi Dia adalah Allah, yang menciptakan alam semesta, yang mengatur dan memelihara, dan menyebabkan segala sesuatu terjadi. Nabi Ibrahim, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, berkata: “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” [QS al-An’âm [6]: 79].

Tauhid kepada Allah artinya kita percaya bahwa alam semesta dan segala isinya itu ada yang menciptakan dan mengaturnya, yaitu Allah swt. Tauhid adalah keyakinan, yang diikuti dengan perbuatan mengerjakan yang diperintah Allah dan meninggalkan yang dilarang Allah. Tauhid kepada Allah membutuhkan kesediaan berkorban karena Allah. Dalam al-Qur’an diceritakan bahwa Allah swt memerintahkan kepada Nabi Ibrahim agar berkorban, yaitu agar menyembelih anaknya, Nabi Isma’il as. Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah itu kepada Nabi Isma’il, yang disambut oleh sang anak, dengan kesabaran. Itulah bukti yang sesungguhnya dari tauhid kepada Allah, yaitu tercermin dalam pengorbanan, kesetiaaan, kerelaan, dan kesabaran. Apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim sesunguhnya adalah suatu ujian. Allah tidak menghendaki Nabi Ibrahim menyembelih anaknya yang sangat dicintai, maka Allah menggantikan pengorbanan Nabi Isma’il itu dengan sembelihan yang besar. Allah swt berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” [QS Ash-Shaffat [37]: 107].thought_1_ed34

Menyembelih hewan kurban merupakan bukti kepatuhan kepada Allah. Kata kurban, dalam bahasa Arab “qurban”, berarti “dekat, “kedekatan”, atau “mendekatan diri”. Kurban adalah ibadah yang dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Caranya ialah dengan menyembelih hewan. Menyembelih hewan kurban mengandung makna bahwa kita dapat mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Orang yang berkurban adalah orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya. Pengorbanan mengandung pelajaran bahwa kita mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita untuk menuruti perintah Allah.

Carut marut yang menimpa kehidupan kita dewasa ini adalah karena kita menuruti hawa nafsu. Kita dikuasai oleh hawa nafsu cinta kepada dunia, sehingga kita lupa kepada Tuhan. Kita dikuasai oleh hawa nafsu cinta kepada kekuasaan sehingga kita tidak segan-segan berbuat zhalim untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Kita dikuasai oleh nafsu syahwat sehingga kita tidak segan-segan berbuat aniaya kepada diri kita dan kepada orang lain. Kita dikuasai oleh hawa nafsu sehingga lemah semangat pengorbanan dalam jiwa kita.

Semoga di Hari Raya ‘Idul Adha ini kita dapat mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim yang rela berkurban untuk menaati perintah Allah. Pengorbanan artinya kita memberikan sesuatu yang kita miliki dan yang kita cintai untuk suatu tujuan yang mulia. Dalam arti khusus yang dimaksud dengan berkurban ialah menyembelih hewan berupa kambing, sapi, kerbau, ataupun onta, dan kita memberi sedekah dengan daging hewan sembelihan itu kepada fakir miskin agar mereka merasakan kegembiraan dan bersyukur kepada Allah. Dalam arti yang luas pengorbanan mencakup pengorbanan dalam melaksanakan amanah dan kewajiban, pengorbanan untuk menolong sesama manusia, mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, pengorbanan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dan pengorbanan dalam membela agama Allah. Demikian, Wa Allah a’lam. « []


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Saat MAGHRIB tiba, dan Anda masih terjebak di kemacetan lalu lintas, apakah Anda

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010