Maslahat Menghadapi Pasar Bebas

utama_bebas_ed44Berlakunya perjanjian pasar bebas ASEAN dan China memicu keresahan rakyat Indonesia, khususnya bagi para buruh dan pedagang. Adanya pasar bebas membuat mereka kuatir kehilangan pekerjaan atau produk dagangannya kalah bersaing dengan produk China. Sebagai Muslim, bagaimana kita menyikapinya?

ASEAN China Free Trade Agreement [ACFTA] baru saja meretas. Tak pelak, perjanjian perdagangan bebas ini seperti ‘menodong’ bangsa Indonesia agar mau bersaing dalam menampilkan produk dan SDM-nya secara sehat dan berkualitas di antara negara-negara ASEAN dan China. Namun sayang, sebagian besar buruh, pedagang, dan pengusaha Indonesia sepertinya belum siap menerima tantangan ini. Maklum, terutama kalau bersaing dengan produk China, Indonesia selalu tak berdaya. Barang impor dari China ke Indonesia selalu lebih besar daripada ekspor produk kita ke Negeri Panda tersebut.

Beberapa orang beranggapan perdagangan bebas ASEAN-China ini ibarat ‘penjajahan ekonomi’, bagi bangsa Indonesia. Sebab hal ini akan berimbas pada merosotnya nilai jual produksi buatan Indonesia. Barang-barang dari China dikuatirkan akan menguasai pasar konsumen di Indonesia. Bebasnya produk-prodouk dari luar negeri yang beredar di Tanah Air, bisa membuat produk lokal tidak laku. Konsekuensi logisnya, banyak perusahaan lokal akan gulung tikar dan pengangguran kian meningkat. Kalau hal ini terjadi, kemungkinan besar bangsa Indonesia akan mengalami krisis ekonomi dan sosial. Na’udzubillâhiminzalîk.

Demikianlah kalau pemberlakuan pasar bebas diasumsikan berdampak negatif. Ini berarti kita pun harus menilai sisi positifnya. Dengan pasar bebas, kita berpeluang untuk  memperlihatkan citra Indonesia di mata internasional dengan produk-produk unggulan, baik produk barang maupun jasa. Demikian juga dari sisi SDM, tak menutup kemungkinan pasar bebas akan membuka kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di wilayah Negara ASEAN dan China.

Umat Muslim sebagai bagian terbesar bangsa di Indonesia tentu ikut memperhatikan pasar bebas ini. Islam memandang pasar bebas adalah bagian dari kegiatan muamalat. Islam membolehkan pasar bebas atau perdagangan internasional asalkan maslahat bagi kepentingan umat [al-maslahah al-'ammah].

Kekuatiran akan pasar bebas sebenarnya bisa memicu kita untuk lebih produktif dan bekerja sungguh-sungguh. Meskipun negara kita kaya akan sumberdaya alam, itu bukanlah sebuah jaminan bangsanya akan maju. Perekonomian sebuah negara akan maju apabila bangsanya lebih ditentukan oleh sumber daya manusianya dan juga kebijakan pemerintah yang bisa mengakomodasi aktivitas ekonomi, baik secara mikro maupun makro.

Dalam konteks tersebut, Ibnu Khaldun menyoroti aktivitas ekonomi di sebuah negara. Pemikir sekaligus Bapak Ekonomi Islam ini menyatakan bangsa yang maju adalah bangsa yang memperlihatkan kualitas dan kemampuan manusianya. Jika mereka malah hanya bergantung pada kekayaan sumber alam, justru akan menghambat aktivitas ekonomi. Menurutnya, bangsa yang ingin maju adalah bangsa yang bisa menentukan aktivitas ekonomi dengan baik, yang mencakup pembagian tenaga kerja, luasnya pasar, dan ketersediaan fasilitas dari negara. Semakin banyak aktivitas ekonomi di berbagai bidang, maka pendapatan negara pun akan semakin besar dan berimbas pada kesejahteraan rakyatnya.

Mencermati pemikiran Ibnu Khaldun tersebut, kita sebenarnya bisa berbuat sesuatu dalam menghadapi pasar bebas. Pemberlakuan perdagangan bebas ACFTA bukanlah sebuah ancaman apabila kita yakin kepada Allah swt dalam urusan jual beli dan perniagaan. Dengan berpegang pada keyakinan ini disertai dengan doa dan ibadah, Allah akan melancarkan urusan muamalat bagi umatnya. Bukankah Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” [QS Fâthir [35]: 29.] « [yogira] – foto: sxc

Boks
Apa Komentar Mereka?
Rini Rismiati, 30, pengajar

“Perdagangan bebas buat aku sangat merugikan perekonomian masyarakat Indonesia karena sekarang saja kita suka terkecoh jalan-jalan ke luar negeri beli oleh-oleh T-shirt atau cenderamata ukiran. Usut punya usut, ternyata proses penyablonannya ada di  Bandung. Mereka tinggal memberi label saja. Begitu pula dengan ukiran relief kota luar negeri ternyata prosesnya lagi-lagi dari Jepara. Miris ‘kan potensi hasil karya orang-orang kita harus diakui hasil produk sana?”

Aris Kurniawan, 34, pekerja seni
“Banyak faktor produk-produk baik barang maupun jasa kita belum mampu bersaing dengan produk asing, maka perdagangan bebas hanya akan memperburuk perekonomian bangsa kita.”

Nanik Dwiastuti, 29, karyawan swasta
“Bagi konsumen, tak bisa dimungkiri ACFTA berdampak positif karena konsumen dimanjakan dengan banyaknya pilihan produk dengan harga bersaing. Sementara dari sisi pelaku produksi, ACFTA bisa mengancam kelangsungan produk dalam negeri. Sebab, mereka harus bersaing ketat dengan produk China yg terkenal massal dan murah.”

Uwie, 36, karyawan swasta
“Dari sisi positifnya, masyarakat Indonesia lebih bisa memilih barang. Dan daya beli meningkat, tanpa memandang kualitas, yang penting murah. Sisi negatifnya, produk lokal yang asli buatan Indonesia bakal terpuruk bila harga mahal dan tidak bersaing dengan produk dari luar.”

Rubrik Sebelumnya

0 komentar

  1. vivi

    serasa menemukan kembali jalan lurus

Beri komentar

Spam Protection by WP-SpamFree