Jangan Telantarkan si Kecil

utama_anak_ed45Kasus penelantaran anak terjadi lagi. Tiga anak balita berusia 3,9 tahun, 1,8 tahun dan 9 bulan ditelantarkan kedua orangtuanya selama delapan hari tanpa mendapatkan bekal apapun di Tanggerang. Sebelumnya empat anak usia 8 tahun hingga 4 bulan juga ditinggalkan dan ditelantarkan di rumah oleh orangtuanya di Depok selama seminggu. Ternyata dua kasus yang menghebohkan ini hanyalah ujung yang kita lihat dari fenomena gunung es. Karena menurut data dari Departemen Sosial pada 2008 hingga 2009, ada 1,1 juta anak Indonesia yang terlantar dan terpaksa tinggal di panti asuhan. [Okezone.com, 12 Januari 2010].

Mirisnya melihat kenyataan bahwa ada orangtua yang tega-teganya menelantarkan anak-anaknya sendiri, sementara banyak dari orangtua yang sulit mendapatkannya, meski telah berusaha dengan berbagai cara. Seperti data yang terdapat pada majalah online Bio Spektrum Asia yang mengatakan bahwa setiap tahun sedikitnya 90 juta pasangan di seluruh dunia sedang mencoba untuk hamil, dan banyak yang tak mampu melakukannya, karena tingkat keberhasilan yang hanya 20% pada wanita hamil pada setiap siklus ovulasi. Tentu para orangtua yang belum beruntung ini menyayangkan tindakan orangtua yang telah menyia-nyiakan anugerah yang begitu mereka nanti-nantikan tersebut.

Padahal anak menurut Imam Al-Ghazali adalah amanat bagi orangtuanya yang hatinya masih bersih, suci, dan polos. Anak membutuhkan kedua orangtuanya untuk mendidiknya. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan peran dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak cukup jelas. Beliau berkata, “Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah swt pada Hari Kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orangtua tentang apa yang telah mereka lakukan terhadap anaknya, sebelum meminta pertanggungjawaban anak tentang orangtuanya. Karena sesungguhnya sebagaimana orangtua memiliki hak dari anaknya, demikian pula sebaliknya, seorang anak memiliki hak dari orangtuanya.”

Tidak mendidik anak saja akan dimintai pertanggungjawabannya, bagaimana dengan menelantarkan? Sahabat Mu’adz bin Anas berkisah mengenai apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw. Menurutnya Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa hamba yang tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk diajak berbicara, tidak disucikan, dan tidak dipandang pada Hari Kiamat nanti adalah mereka yang berlepas tangan dari orangtuanya bahkan membencinya dan berlepas tangan dari anaknya. [HR Ahmad dan Thabrani].

Namun kenyataan penelantaran anak yang banyak terjadi di Indonesia terjadi karena faktor kemiskinan. Mungkin saja para orangtua tersebut tidak ingin meninggalkan anak-anaknya begitu saja, namun karena desakan ekonomi, kebingungan dalam memberi penghidupan pada anak-anak yang masih kecil, serta beberapa masalah internal rumahtangga, membuat mereka akhirnya terpaksa menempuh jalan pintas, meninggalkan begitu saja anak-anak yang kelaparan di rumah.

Tentu sulit jika terus menerus mengharapkan peran pemerintah untuk mengatasi hal ini. Karena faktor pengentasan kemiskinan adalah tanggungjawab kita semua. Bukankah kita adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa hidup tanpa ada keterkaitan dengan orang lain. Sehingga keberadaan tiap individu di masyarakat juga harus ikut berperan serta dalam usaha mengurangi kemiskinan yang terjadi di sekitar kita. Mengapa kita tidak mulai membuka mata pada hal-hal yang terjadi di sekitar lingkungan rumah kita terlebih dahulu. Siapa tahu hal yang sama juga sedang terjadi pada tetangga kita?! « [esthi] – foto: sxc

Boks
Dian, 32, ibu anak 9 bulan, marketing
“Masalahnya orangtua yang menelantarkan anak tidak bisa disalahkan begitu saja, karena masalahnya saling berhubungan. Karena ini juga disebabkan oleh faktor kemiskinan pasti harus dikaitkan juga dengan peran pemerintah. Hal ini disebabkan karena belum meratanya pendidikan, bukankah ini kesalahan pemerintah. Dengan belum meratanya pendidikan maka si orangtua memiliki kesulitan yang lebih tinggi dalam mencari pekerjaan. Memang sih si ibu sudah pasti salah meninggalkan anak begitu saja, namun keadaan yang membuatnya demikian.”

Reni, 29, wiraswasta
“Menurut saya penelantaran anak merupakan kesalahan dari orangtua. Kalau si ibu ingin menghindari sesuatu, misalnya menghindar ditagih hutang, mengapa anak-anaknya tidak dibawa. Anak-anak usia itu kan tidak boleh ditinggal, mereka masih berada di bawah tanggungjawab kedua orangtuanya.”

Emma, 39, food stylist
“Semua ini disebabkan oleh suatu rantai yang panjang dan kompleks. Karena melibatkan negara yang gagal menyediakan lapangan pekerjaan, juga ketidak pedulian masyarakat di sekelilingnya. Namun juga tidak dapat disalahkan satu pihak saja, misalnya kepedulian masyarakat. Masalahnya masyarakat di sekitar rumah tersebut mungkin saja sama miskinnya sehingga seharunya orang yang mampu yang memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang seperti ini jika ini terjadi dilingkungannya.” «

Rubrik Sebelumnya

Beri komentar

Spam Protection by WP-SpamFree