Kota di tepi sungai Burigangga ini ternyata sangat menarik untuk dikunjungi, karena berisi situs-situs kuno yang sayang bila dilewatkan.
Dhaka adalah ibukota dari Bangladesh. Kota ini terletak di bahu Sungai Burigangga dan merupakan kawasan penghasil yute terbesar di dunia. Yute adalah tumbuhan berserat dari kulit pohon yang dapat dibuat tali atau karung. Tumbuhan ini banyak terdapat di Dhaka. Kota ini telah berdiri sekira satu abad yang lalu, dan merupakan pusat perindustrian, perniagaan dan administratif Bangladesh. Selain yute, komoditas lain yang diperdagangkan adalah beras, gula, dan teh. Dhaka juga banyak memproduksi tekstil dan kerajinan tangan.
Kota berpenduduk 13.900.027 jiwa di tahun 2003 ini memiliki banyak situs menarik yang terletak di bagian kota tua. Selain ada 700 masjid, maka terdapat pula benteng, istana, juga berbagai pusat perbelanjaan, seperti Bashundhara, yang memiliki lebih dari 1.500 toko termasuk 150 toko makanan, pantai dari dua pelabuhan besar dan kota kuno Vikrampur. Tentu saja kota Dhaka akan sangat menarik untuk di kunjungi.
Beberapa objek menarik selain yang telah disebutkan di atas, antara lain:
Masjid Baitul Mukarram
Masjid ini mudah diakses dari jantung bisnis kota Dhaka. Dengan kapasitas 30.000 jamaah, Masjid Baitul Mukarram merupakan salah satu dari 10 masjid terbesar di dunia. Masjid yang mulai dibuat tahun 1960 ini merupakan bangunan modern yang bercampur dengan arsitektur tradisional Islam. Masjid ini dirancang oleh seorang arsitek Abdul Hussain Thariani, dan dihiasi interior yang sangat mewah.
Ahsan Manzil
Ahsan Manzil adalah sebuah istana megah dari keluarga Kerajan Dhaka. Tertletak di tepi Sungai Burigangga di pusat kota Dhaka. Tempat ini dulunya adalah sebuah pusat perdagangan pihak Perancis, namun dibeli oleh Nawab Kwaja Alimulah, lalu dibangun sebuah kompleks istana pada antara tahun 1859 – 1872. Tahun 1888 kompleks ini hampir dihancurkan oleh sebuah bencana tornado. Ahsan Manzil dibangun kembali, namun sekali lagi hampir di hancurkan oleh bencana gempa bumi pada tahun 1897. Namun kemudian direkonstruksi kembali oleh Nawab Ahsanullah.
Benteng Lalbagh
Benteng ini dibentuk pada awal tahun 1678 untuk pangeran Muhammad Azam. Sebelum kompleks seluas 73.000 m2 tersebut selesai, pangeran Muhammad Azam sudah keburu digantikan oleh Shaista Khan. Sayangnya benteng ini tidak diselesaikan oleh Shaista Khan walaupun ia tinggal di sini hingga tahun 1688. Pada tahun 1684, putrid Shaista Khan yang bernama Bibi Pari [Lady Fairy] meninggal dan dimakamkan di kompleks yang luas ini. Kuburan Bibi Pari sangat menarik pengunjung karena dibuat menyerupai kamar 8 pesegi dan dilapisi oleh marmer putih. Sedangkan di sudut ruangan dihiasi dengan keramik berpola bunga. « [esthi] – foto: google.com