“Enggak makan sekolahan ya?” Ingatkah dengan kata-kata berlogat Betawi ini, yang hingga kini masih kerap terdengar di teve terhadap seseorang yang menunjukkan perilaku yang buruk? Kata-kata ini secara umum menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan sepatutnya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sedangkan orang yang berperilaku seenaknya saja, tanpa aturan, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah mengenyam bangku sekolah, alias tidak berpendidikan.
Pernyataan tersebut sesuai dengan hakekat pendidikan dalam Islam yang seharusnya. Seperti yang diungkapkan Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah Ibnu Sina yang dikenal sebagai ilmuwan dan dokter legendaris. Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran itu menyangkut seluruh aspek pada diri manusia, mulai dari fisik, mental, maupun moral. Tak hanya itu, namun pendidikan juga seyogyanya dapat membentuk individu yang menyeluruh termasuk jiwa, pikiran, dan karakter, yang dapat menyiapkan anak menghadapi masa dewasa. Namun benarkah demikian?
Faktanya, semakin hari semakin banyak orang yang berpendidikan tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Jika melihat siswa yang masih duduk TK merusakkan barang, atau memukul temannya, tentu hal ini dimaklumi sebagai akibat anak-anak tersebut belum mampu mengendalikan emosi. Namun jika yang melakukan perbuatan merusak maupun penyerangan terhadap orang lain itu seseorang yang telah duduk di bangku kuliah, maka di manakah salahnya?
Tawuran yang berkali-kali terjadi menunjukkan adanya masalah serius di bidang pendidikan. Walaupun pihak kampus juga perlu dipertanyakan dalam hal ketegasan pemberlakuan sanksi, adanya kesenjangan komunikasi serta kemungkinan-kemungkinan lain, seperti kurangnya kegiatan-kegiatan positif yang diadakan di kampus. Namun pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang, sehingga tidak bijaksana jika hanya pihak kampus yang disalahkan.
Selain itu menyerahkan sepenuhnya kesalahan terhadap sistem pendidikan maupun institusi pendidikan juga bukan sebuah solusi yang tuntas. Walaupun pihak sekolah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, namun tidak akan mampu mendewasakan manusia seutuhnya. Karena pendukung dan pelaksana pendidikan bukan hanya dilihat dari segi tenaga, dana, dan sarana yang disediakan pemerintah. Lebih dari itu, juga kerjasama antara keluarga, masyarakat dan peserta didik secara timbal balik. Pendidikan merupakan tanggungjawab kita bersama, seperti pepatah, “Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.”
Orangtua pun merupakan tenaga kependidikan yang utama maupun pertama. Tentu sebagai orangtua, kita tidak bisa lepas tangan, bak menyerahkan adonan tanah liat ke pihak sekolah dan mengharap menerima kembali sebuah bejana yang indah di akhir masa sekolah, tanpa ikut campur membentuknya. Namun jika mendapatkan bentuk yang tidak sesuai, lalu orangtua sibuk menyalahkan pihak sekolah maupun pemerintah. Karena seperti sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan kepada setiap penggembala apa yang dilakukannya terhadap gembalaannya, menjaganya atau menghilangkannya hingga seseorang akan ditanya tanggungjawabnya terhadap keluarganya.” [An-Nasâi dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahih-nya secara marfu’]. « [esthi] – foto: sxc
subhanallah… kajian yang menggugah!