10/03/2010

Menghalau Budaya Instan

utama_instan_ed49Journey thousand miles must begin with a single step”, begitu kata pepatah yang menyiratkan bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semua harus dimulai dengan proses, walaupun proses yang sangat sederhana sekalipun. Seperti sebuah langkah. Sayangnya yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya. Semua menginginkan hal-hal yang instan, tanpa memedulikan proses.

Ingin makan, ada makanan instan yang tinggal diseduh. Ingin bertemu orang tinggal buka MMS. Teknologi memang membantu manusia memangkas proses yang terlalu panjang. Jika masih terbatas pada sesuatu yang dipakai atau dikonsumsi untuk diri sendiri, masih dapat ditoleransi. Risiko dari efek menggunakan teknologi untuk memangkas proses pada kehidupan sehari-hari ditanggung sendiri. Namun jika menggunakan ilmu ‘instan’ untuk mencapai sukses, ketika cara-cara instan tersebut justru merugikan diri sendiri maupun orang lain, maka hal ini perlu dipertanyakan.
Ingin sukses dalam ujian, menggunakan jalan pintas lewat mencontek. Ingin sukses dalam membuat skripsi, jadilah plagiator. Ingin cepat kaya, mendatangi dukun pengganda uang atau mengikuti ilmu hitam. Ingin sukses dalam hidup, melakukan berbagai jalan pintas yang tak terpuji dengan korupsi, atau menikam rekan bisnis dari belakang. Hidup bukan diisi dengan ikhtiar dan kerja keras, namun dijejali angan-angan bagaimana mendapatkan sesuatu dengan mudah.

Saat ini orang cenderung mementingkan hasil akhir yang cepat, dibanding dengan penghargaan terhadap kelangsungan sebuah proses. Padahal apapun yang terjadi di dunia ini harus melalui suatu proses terlebih dahulu. Lihat saja bagaimana proses ulat menjadi kupu-kupu, harus melewati suatu proses metamorfosa yang panjang. Manusia pun harus melalui suatu proses pertemuan sel telur dan sperma yang menjadi embrio, kemudian janin, lalu menjadi bayi yang lama-kelamaan tumbuh menjadi manusia dewasa.

Pentingnya melampaui suatu proses juga disiratkan pada kisah-kisah Nabi Muhammad Saw. Simak saja bagaimana Rasulullah harus berkali-kali mengangkat senjata memerangi kaum musyrik Quraisy dan orang-orang Yahudi yang bersikeras meneruskan kejahatan mereka. Bahkan Nabi Saw juga harus mengalami kekalahan, misalnya pada Perang Uhud. Padahal bukankah Rasulullah merupakan seorang Nabi utusan Allah swt. Jika Allah berkehendak, pasti dengan cepat dipermudah semua urusan Rasulullah.

Namun bahkan seorang Nabi pun harus melampaui suatu proses yang sangat sulit untuk dapat mempelajari berbagai hikmah yang terkandung secara rahasia di dalam setiap peristiwa. Kesabaran dan tawakalnya Nabi Muhammad Saw saat menjalani berbagai proses dalam perjalanan kenabiannya yang kemudian menjadi teladan bagi umatnya. Contoh-contoh tersebut bagai buku terbuka yang dengan gamblang memberi pesan bahwa sukses bukanlah suatu hasil akhir, namun merupakan suatu proses yang terus menerus berjalan tanpa henti. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesabaran dan tetap tawakal dalam berikhtiar saat menjalani setiap proses di dalam kehidupan, Âmîn. « [esthi] – foto: sxc


2 Responses to “Menghalau Budaya Instan”

  1. spiderio says:

    subhanallah, sangat bermanfaat

  2. sial nya semua yang ada di indomaret maupun alfamart.. adalah produk instan… jadi??? jangan sok menggurui butuh proses… anda sendiri bikin artikel emang gak pake deadline?? ada nilai2 instan kan??

Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Saat MAGHRIB tiba, dan Anda masih terjebak di kemacetan lalu lintas, apakah Anda

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010