11/03/2010

Guru & Pendidikan Ideal Menurut Islam

utama_guru_ed49Mulai 22 Maret ini, Ujian Nasional [UN] digelar. Para guru pun berjuang ekstra keras memberikan bimbingan dan latihan kepada anak didiknya agar bisa lulus di UN nanti. Namun, ironisnya, baru-baru ini nasib sebagian guru terombang-ambing. Di satu sisi mereka dituntut harus kian berkualitas. Di sisi lain, hidup mereka kurang sejahtera.

Ketua Pusat Ikatan Guru Indonesia [IGI], Satria Dharma mengungkapkan data yang cukup mengejutkan tentang kualitas guru. Seperti yang dilansir Antara News [8 Maret 2010], Satria menyebutkan, sekira 1,3 juta atau 50 persen dari 2,7 juta guru di tanah air belum layak mengajar. Sebab mereka kurang memenuhi standar kualifikasi, maupun sertifikasi yang telah ditentukan pemerintah. Satria menambahkan, belum terpenuhinya kualifikasi guru ini tidak hanya di daerah pedalaman atau daerah terpencil, tetapi juga di perkotaan.

Kondisi tersebut berbenang merah dengan status guru yang masih belum jelas nasibnya, baik dilihat dari sertifikasi CPNS [Calon Pegawai Negeri Sipil], maupun kesejahteraan hidupnya. Maklum, di Indonesia masih banyak guru honorer dan guru bantu yang penghasilannya sangat minim. Imbasnya, mereka merasa terhambat dalam meningkatkan kualitas pengajaran bagi peserta didiknya. Terkadang loyalitas mereka terhadap dunia pendidikan terpaksa dinomorduakan karena mereka harus mencari penghasilan lain di luar gaji guru. Lantas, siapakah yang salah jika penyelenggaraan UN nanti tidak sesukses yang diharapkan, seperti pada tahun sebelumnya?

Jika ada kegagalan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, selalu saja ada yang dikambinghitamkan. Kalau pemerintah yang dikambinghitamkan, biasanya menyangkut regulasi yang tidak berpihak kepada guru. Sebaliknya, jika guru yang dikambinghitamkan, biasanya menyangkut dedikasi, loyalitas, dan moral guru yang bersangkutan.

Dalam kaitan dengan persoalan ini layak kita bicarakan bagaimanakah kita, sebagai Muslim, menyikapi dunia pendidikan agar sesuai dengan harapan dan sesuai dengan nilai-nilai kehidupan Islam?

Dalam buku Sistem Pendidikan menurut al-Ghazali, karangan Fathiyah Hasan Sulaiman, ada kurikulum pendidikan menurut pandangan al-Ghazali. Cendekiawan Muslim ini menyusun kurikulum pendidikan yang diatur berdasarkan arti penting yang dimiliki masing-masing ilmu, seperti berikut ini:

Urutan Pertama: al-Qur’an al-Karim, ilmu-ilmu Agama seperti fikih, sunnah rasul, tafsir, tauhid, dan akhlak. Urutan Kedua: ilmu-ilmu Bahasa [Bahasa Arab], ilmu Nahwu serta artikulasi huruf dan lafaz. Ilmu inilah yang melayani ilmu-ilmu agama. Urutan Ketiga: ilmu-ilmu yang termasuk kategori wajib kifayah, yaitu ilmu Kedokteran, ilmu Hitung, dan berbagai keahlian, termasuk ilmu Fisika. Urutan Keempat: ilmu-ilmu Budaya, seperti syair, sastra, sejarah, serta sebagian cabang Filsafat, seperti Logika dan Seni.

Pengurutan kurikulum dari al-Ghazali ini jelas memperlihatkan bahwa setiap Muslim harus menempatkan ilmu agama sebagai skala prioritas. Pasalnya, ilmu Agama adalah bekal seorang Muslim agar berakhlak lebih baik ketika mendalami ilmu-ilmu yang bersifat duniawi. Sebenarnya kurikulum al-Ghazali ini tidak bersifat kaku dan mengikat. Apalagi kalau kurikulum tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebagai Muslim, kita bisa menerapkan kurikulum al-Ghazali ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga. Manfaatnya adalah, anak-anak kita yang menempuh pendidikan di lembaga formal, setidaknya punya bekal akhlak sekaligus rasa kedekatan dengan Allah Sang Maha Pelindung, khususnya ketika mereka menghadapi masa-masa sulit dalam pembelajaran di sekolah.

Selain berbicara tentang kurikulum pendidikan, al-Ghazali pun membahas hubungan guru dengan muridnya. Menurut al-Ghazali, pendidikan bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan, mengejar status dan pangkat; untuk tampil sebagai orang yang berilmu; tenggelam dalam persaingan perselisihan dan pertengkaran; tenggelam dalam usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan. Bagi al-Ghazali semua itu tidak penting sama sekali. Yang paling penting adalah bagaimana guru menjadi teladan yang baik, kebaikan hati, dan sikap toleran. Sebab guru harus menunjukkan jalan yang dapat mendekatkan muridnya kepada Allah.

Sebagai Muslim, seharusnya kita memperhatikan berbagai masalah yang menimpa dunia pendidikan kita. Masalah kualitas guru, kurang maksimalnya sistem pendidikan nasional, biaya sekolah mahal, dan kondisi anak didik di sekolah, bukanlah ancaman serius jika kita membiasakan menerapkan pendidikan berdasarkan ajaran Islam.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” [QS al-Mujâdilah [58]: 11]. « [yogira] – foto: sxc


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Saat MAGHRIB tiba, dan Anda masih terjebak di kemacetan lalu lintas, apakah Anda

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010