Alkisah, seorang Badui bernama Shan bertemu seorang musafir di jalan dan memberikan tumpangan di bagian belakang untanya. Saat memulai perjalanan, Shan menoleh ke arah musafir yang menjadi penumpangnya dan bertanya:
“Apakah engkau lebih suka aku gendong atau engkau yang menggendongku, wahai musafir temanku?” Si musafir bingung dengan maksud pertanyaan itu karena keduanya kini sama-sama berada di atas unta. Ketika melintasi sebidang sawah, Shan kembali menanyakan pada musafir yang duduk di belakangnya: “Menurutmu, sawah itu sudah menghijau atau masih kering?” Sebuah pertanyaan ganjil, pikir sang musafir, mengingat sawah itu sudah jelas terlihat hijau dan subur.
Mendekati akhir perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang menyelenggarakan upacara pemakaman. Lagi-lagi Shan mengajukan pertanyaan ganjil: “Apakah orang yang berada di dalam peti mati itu sudah wafat atau masih hidup?”
Si musafir yang kebingungan itu akhirnya sampai di rumahnya. Ia menceritakan kisah pertemuannya dengan Shan kepada anak perempuannya, Tabaqa, dan pertanyaan-pertanyaan ganjil yang didapatnya selama perjalanan. Tabaqa merenung sesaat, lalu berkata: “Wahai Ayahanda, sahabatmu itu sebenarnya mengajukan sebuah pertanyaan yang mendalam.” Sang ayahanda pun tertegun mendengar perkataan putrinya dan ia pun ingin mengetahui jawabannya.
“Dari pertanyaan tentang engkau yang menggendong dia atau dia yang menggendong engkau, dia ingin mengetahui apakah engkau saat itu mau menghibur dia atau dia yang menghiburmu selama dalam perjalanan,” jelas Tabaqa.
“Tentang pertanyaan sawah itu sudah menghijau atau masih kering, ia ingin memastikan apakah si pemilik sawah itu sudah menjual hasil panennya dan membelanjakan uangnya terlebih dahulu, atau belum.”
“Sedangkan pertanyaannya tentang jenazah yang ada dalam peti mati itu sudah wafat atau masih hidup, ia ingin tahu apakah jenazah itu meninggalkan perbuatan baik ataukah ahli warisnya yang harus menjaga nama baik almarhum itu.”
Setelah mendapatkan penjelasan dari putrinya, orang tua itu segera menemui Shan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukannya itu. Shan ingin mengetahui siapa orang yang telah memberi tahu jawaban yang benar atas pertanyaannya itu. Akhirnya Shan pergi menjumpai Tabaqa dan menikahinya.
Kini, dalam kehidupan keseharian bangsa Arab, kalimat “Shan dan Tabaqa” menjadi ungkapan untuk pasangan yang serasi yang sering ditujukan kepada pasangan suami-istri atau dua sahabat yang hidup dengan harmoni, khususnya berkenaan dengan persamaan karakter dan persamaan tujuan hidup. « []