Sebagian besar desa di Indonesia masih mengalami paceklik listrik. Kondisi ini sedikit demi sedikit membaik berkat munculnya sosok pahlawan yang bisa menerangi desa dengan keuletan dan kemampuannya. Dia adalah Tri Mumpuni.

Pahlawan kelistrikan untuk pedesaan itu ternyata bukan pegawai PLN. Ya, Tri Mumpuni bukanlah teknisi PLN. Latar belakang pendidikan terakhirnya saja Jurusan Sosial Ekonomi, Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Namun karena selalu terjun ke pedesaan, gagasannya muncul untuk mengembangkan teknologi listrik dengan mikrohidro (listrik yang dihasilkan dari tenaga air). Lewat lembaga miliknya, Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), perempuan asal Semarang ini bahu membahu dengan suaminya–Iskandar untuk membantu pembangunan tenaga listrik khas pedesaan. “sejak dulu saya sangat mencintai alam pedesaan. Waktu masih kuliah di IPB,  saya selalu terjun ke desa-desa dalam kegiatan pembangunan. Bersama suami, saya mengembangkan pembangunan sosial masyarakat dan ekonominya,” kata Tri Mumpuni, yang lebih akrab dipanggil Puni.

Saking cintanya pada kehidupan pedesaan, Puni pun tergerak untuk membuat sesuatu yang sangat diperlukan oleh masyarakat desa. Akhirnya persoalan  listrik lah yang menjadi gagasan. Puni dan suaminya mencoba membangun pembangkit listrik mini di puluhan desa d berbagai pelosok tanah air.   “Sebenarnya listrik bukan tujuan utama kamu untuk membangun desa. Listrik adalah bagian untuk mendukung kegiatan produktif sesuai potensi desa supaya mereka berdaya secara ekonomi. ” jelas Puni.

Kepedulian Puni untuk membangun desa-desa terdorong oleh kedua orangtuanya.  Ayahnya pegawai BUMN dan ibunya pekerja sosial. Dari kedua orangtuanya inilah Puni banyak belajar memberi dan berbagi kepada sesama, terutama kepada kaum dhuafa. Almarhum ayah saya sebelum meninggal pernah berpesan supaya saya bekerja untuk kaum dhuafa. Demikian juga ibu saya sudah memberikan contoh kongkrit sebagai pekerja sosial. Waktu saya SD, saya melihat ibu saya membantu pengobatan gratis bagi kaum miskin. Beliau juga aktif dalam penimbangan balita,” kenang Puni.

Sejak orangtuanya menjadi tauladan semenjak kecil itulah membuat Puni yakin akan pilihannya. Dengan gelar kesarjaaan yang disandangnya, sebenarnya Puni bisa berkarir di bidang-bidang strategis. Namun itu tak membuatnya tergoda. Puni lebih memilih “bergerilya” dari satu desa ke desa lain dengan kemampuan dan kreativitasnya membangun sosial kemasyarakatan yang mashalat.

“Saya tidak punya pengalaman dalam kelistrikan. Saya ingin mengembangkan teknologi listrik di pedesaan karena selalu mendampingi pekerjaan suami sebagai engineer. Dia memang fokus pada teknologi. Karena itulah, saya ingin mensosialisasikannya ke masyarakat. Suami saya berperan dalam perkembangan mikhohidro di Indonesia. Tapi dia menanggap saya yang mempopulerkannya,” kata Puni.

Karena pengembangan mikrohidro ini kian populer di bidang kelistrikan beberada daerah, Puni pun menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah. Bahkan lembaga internasional. Karena Kiprahnya mensosialisasikan listrik mikrohidro di desa-desa, Puni pun mendapat banyak pujian dan penghargaan. Salah satunya disebut presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato pembukaan acara “Presidential Summit on Entrepreneurship“ di Washington, DC, Amerika. Obama menyebut Puni sebagai salah satu enterpreneurship yang berhasil di Asia dan kiprahnya layak dicontoh siapa saja. (teks: Yogira/ foto: dok pribadi)

Biodata Singkat:

Nama Lengkap: Tri Mumpuni
Tempat tanggal/lahir: Semarang 6 Agustus 1964
Nama suami: Ir Iskandar Budisaroso Kuntoadji
Nama Anak: Ayu Larasati &Asri Saraswati
Motto : Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti
Pekerjaan : Direktur Eksekutif IBEKA (Institut Bisnis Ekonomi Kerakyatan), Subang
Pendidikan:
Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB)
Energy and Sustainable Development International Session, Universidad da Costa Rica, 1992;
Trade and Sustainable Development Course, Chiang Mai University, Thailand, 1993;
Leadership for Environment and Development Course, 1993-1995, LEAD based in New York funded by Rockefeller Foundation; Lead Fellows (Cohort 2).

Penghargaan
Mendapat apresiasi dan pujian dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato pembukaan acara “Presidential Summit on Entrepreneurship“ di Washington, DC, Amerika Serikat (2010)
Terpilih menjadi salah satu objek foto pameran 10 Fotografer “A Tribute to Women 2010″, Jakarta (2010)
Tokoh Perubahan Versi Harian Republika (2009)
Eisenhower Fellow (2009)
Pendekar Lingkungan Hidup RI (2008).
Tokoh Pengembangan Energi Terbarukan dan Penghematan Energi (2007)
Terpilih menjadi salah satu tokoh versi Majalah Tempo (2006)
Fellow Ashoka (2006),
Climate Hero dari World Wildlife Fund for Nature (2005)