Tanya:
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Saya kebetulan bekerja di anjungan lepas pantai, di tengah laut dengan schedule 14 hari bekerja dan 14 hari libur.
Di tempat kerja kami bisa dibilang fasilitasnya lengkap, termasuk mushola juga ada. Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan dengan bapak sekalian mengenai pekerjaan kami yang menyangkut dengan sholat:
1. Dengan schedule kerja kami yang seperti diatas, apakah kami termasuk mukim atau musafir? (sebagian dari kami ada yang menganggap mereka Musafir dan sebagian Mukim).
2. Apa definisi dari “Musafir” dan “Mukim”? Biar kami lebih jelas memahami tentang definisi ini, karena sebagian dari kami ada yang mengqashar sholat yang 4 rakaat.
3. Apakah sholat Jumat di tengah laut (platform) memang seharusnya dilakukan atau tidak? (karena ada beberapa kawan yang menganggap tidah sah hukumnya).
4. Jika memang ternyata di tempat kami ada 2 pemahaman soal mereka musafir atau mukim, bagaimana seharusnya kami menyikapinya terutama dalam melaksanakan sholat yang diqashar? (Agar persatuan di antara umat muslim di tempat kami tidak terpecah belah).

Mudah mudahan bapak bapak berkenan memberikan kami jawaban atas pertanyaan kami.

Barokallahu fiikum.

[Ino – via Surel]

Jawab:
Wa’alikumussalam wr. wb.

Dalam hukum Islam, musafir adalah orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dalam jarak tertentu dan berniat tinggal di tempat yang dituju dalam waktu tertentu. Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki jarak yang ditempuh sekurang-kurangnya 77 kilometer, sedang menurut Abu Hanifah 115 kilometer. Batasan waktunya, menurut Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan Imam Malik adalah empat hari, sedangkan menurut Abu Hanifah 15 hari. Dengan demikian, dalam pandangan para ulama itu, jika seseorang telah berniat tinggal lebih dari waktu itu sejak semula, maka dia bukan musafir lagi. Jadi, dia tidak diberi izin untuk menjamak (menggabung shalat Zhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya), apalagi men-qashar (melaksanakan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat saja).

Dalam kasus Anda, saya cenderung berkata bahwa Anda dan teman-teman bukan musafir, karena sejak semula telah berniat untuk tinggal di tempat itu selama 14 hari untuk bekerja. Berbeda dengan orang yang berlayar dari Indonesia menuju suatu negara dengan kapal laut yang perjalanannya memakan waktu 14 hari, misalnya. Selama berada di atas kapal sebelum tiba di negara tujuan, mereka dapat dikatakan sebagai musafir. Keberadaan Anda di atas anjungan lepas pantai adalah tujuan, bukan perjalanan menuju tempat lain yang menjadi tujuan.

Seandainya yang musafir terpaksa menunda kepulangannya karena satu dan lain hal, maka statusnya sebagai musafir dapat diperpanjang satu hari. Kemudian, jika kepulangannya ternyata masih harus tertunda lagi sehari esok harinya, maka statusnya masih dapat diperpanjang lagi hari demi hari. Imam Syafi’i membatasi perpanjangan itu hanya sampai 17 hari atau 18 hari. Sementara itu, imam mazhab lainnya tidak membatasinya. Izin ini berlaku bagi mereka yang berstatus musafir dalam pengertian orang yang semula hanya bermaksud tinggal empat atau lima hari.

Imam Abu Hanifah mewajibkan musafir melakukan shalat qashar (Zhuhur, Ashar, dan Isya masing-masing hanya dua rakaat). Sementara tiga imam mazhab lainnya membolehkan meng-qashar atau melakukan empat rakaat sebagaimana biasa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas disebutkan sebagai berikut: Ketika Nabi saw. memasuki kota Mekkah (dari Madinah), beliau tinggal di sana 19 hari dan mengerjakan shalat dua rakaat. Ada juga riwayat yang menyatakan 17 hari, dan 18 hari. Agaknya, yang menghitung 17 hari tidak memasukkan hari datang dan hari pulang, dan yang menghitung 18 hari tidak memasukkan hari pulang. Hadis ini adalah salah satu alasan bagi mereka yang membolehkan shalat qashar selama penundaan sehari demi sehari itu tidak lebih dari 17 atau 18 hari. Memang, ada juga ulama yang membolehkan meng-qashar shalat selama yang bersangkutan meninggalkan tempat tinggalnya dan berapa lama pun dia berada dalam perjalanan. Akan tetapi, pendapat ini tidak mendapat dukungan banyak ulama karena alasan-alasannya tidak kuat.

Terkait dengan pelaksanaan shalat Jumat, shalat Jumat tidak wajib bagi musafir. Dalam kasus Anda, hemat saya, melaksanakan shalat Jumat lebih baik daripada shalat Zhuhur.

Demikian, wallahu a’lam.

[M. Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut:

Tagged on: