Tanya:
Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya mau tanya pak Ustadz, Mengapa jika sholat Dzuhur dan Ashar berjamaah, pada rakaat 1 dan 2 imam tidak mengeraskan suaranya? Surat apa yang sebaiknya kita baca? Bagaimana baiknya, jika pada saat kita membaca surat pendek belum selesai, tetapi imam sudah ruku’? Saya ingin sekali belajar lebih dalam, mengenai cara, adab dan bacaan yang benar dalam sholat. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

[Beth Satrio – via formulir pertanyaan]

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Tidak ada penjelasan dari Rasulullah saw. mengapa pada rakaat pertama dan kedua shalat Zuhur dan Asar kita tidak mengeraskan bacaan al-Fatihah dan surah/ ayat setelahnya, sedangkan pada shalat Magrib, Isya, dan Subuh kita mengeraskan al-Fatihah dan surah setelahnya. Paling tidak, saya belum menemukan penjelasan itu. Yang jelas, begitulah yang dicontohkan oleh Nabi saw. dan diikuti oleh umat Islam dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Barang kali hikmah di balik itu –wallâhu a‘lam– adalah sebagai berikut. Shalat Magrib, Isya, dan Subuh dilakukan pada waktu gelap malam dan gelap fajar yang berpotensi membuat orang mengantuk atau merasa lelah. Apalagi kalau kita sadari bahwa ketika itu lampu listrik belum lagi ditemukan. Nah, untuk mengurangi kemungkinan jamaah terkena kantuk pada saat shalat, diperlukan suara imam yang dapat terdengar jelas oleh seluruh jamaah. Makanya, mengeraskan suara pun hanya dilakukan pada rakaat pertama dan kedua saja, dengan asumsi bahwa pada rakaat-rakaat berikutnya jamaah sudah terjaga dari kemungkinan mengantuk.

Sedangkan bacaan yang tidak dikeraskan pada shalat Zuhur dan Asar, itu antara lain karena shalat-shalat itu dilakukan pada waktu siang, terang benderang, yang kecil kemungkinan membuat orang mengantuk. Karena itu, tidak perlu suara keras dari imam. Bukankah ketika melakukan shalat kita pada hakikatnya sedang bermunajat dan berdoa kepada Allah? Bukankah Allah yang kita seru dalam shalat itu Maha Mendengar, bahkan untuk bunyi derap langkahnya semut sekalipun?

Memang, dalam hal berdoa dan bermunajat kepada Allah kita diperintahkan untuk tidak mengangkat suara terlalu tinggi, juga tidak merendahkan suara terlalu rendah hingga tidak terdengar. Sedang dan seimbang. Dalam satu riwayat pernah dikemukakan bahwa sahabat Nabi, Abû Bakar, berdoa dengan suara yang terdengar sayup dengan alasan “Allah mengetahui hajatku,” sedangkan ‘Umar berdoa dengan suara keras sambil berkata, “Aku mengusir setan dan membangunkan orang yang mengantuk atau tidur.” Lalu turunlah ayat berikut ini: Janganlah mengeraskan suaramu dalam shalat atau doa dan janganlah juga merendahkannya. Carilah jalan tengah di antara keduanya (QS. al-Isrâ’ [17]: 110). Nah, praktik mengeraskan suara pada shalat-shalat “gelap” dan tidak mengeraskan suara pada shalat-shalat “terang”, agaknya, juga dalam kerangka keseimbangan itu tadi.

Mungkin akan timbul pertanyaan: kalau begitu, mengapa pada shalat Jumat yang dilakukan pada siang hari (waktu terang) imam mengeraskan suara juga? Hemat saya, itu lebih merupakan syiar, karena hari Jumat adalah hari terbaik dari hari-hari yang lain. Hari Jumat adalah hari raya umat Islam. Kita dilarang berpuasa pada hari Jumat, seperti halnya dilarang berpuasa pada Idul Fitri dan Idul Adha. Makanya, pada shalat sunnah Idul Fitri dan Idul Adha pun –yang dilakukan pada waktu terang– imam mengeraskan suara juga, sebagai salah satu bentuk syiar Islam.

Mengenai surah apa yang kita baca setelah al-Fatihah pada shalat Zuhur dan Asar, terserah kepada kita. Baca saja surah-surah atau ayat-ayat yang mudah bagi kita.

Kemudian, apabila bacaan surat pendek kita belum selesai tetapi imam sudah rukuk, kita tidak harus menyelesaikan bacaan sampai akhir surah, tetapi langsung ikut rukuk bersama imam. Sebab, seseorang dijadikan imam adalah untuk diikuti.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: