Tanya:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pada kesempatan ini saya mempunyai pertanyaan mengenai bagaimana adab atau cara merawat orang tua. Kami 6 bersaudara, semua laki- laki. Pada saat ini kami berlima merantau ke Jakarta dan sudah punya rumah di Jakarta. Orang tua tinggal ibu, bapak sudah meninggal. Di rumah masih ada adik terkecil dan sudah bekerja. Ibu kadang mengeluh kesepian punya banyak anak tapi jauh semua. Keadaan ekonomi kami rata-rata bisa dibilang pas-pasan. Saat ini Ibu tinggal di Jogja, dan kami mengajak ibu ke Jakarta, tetapi alam Jakarta yang panas dan suasana Jakarta, membuat ibu paling betah hanya 3 hari. Kami paling bisa pulang tiap lebaran saja. Untuk keuangan kami selalu kirim per anak 200 ribu per bulan. Dosakah kami dengan tindakan kami saat ini?

[Budi winardi - via formulir pertanyaan]

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Saya kira apa yang Anda dan saudara-saudara Anda lakukan itu tidak termasuk ‘uqûq al-wâlidayn (durhaka kepada orang tua) yang berakibat dosa. Keadaan memaksa Anda dan saudara-saudara Anda untuk tinggal di Jakarta yang jauh dari Yogyakarta tempat tinggal ibu Anda. Anda sudah menunjukkan perhatian dan keinginan untuk merawat ibu Anda di Jakarta, tetapi hal itu justru menyulitkan bagi ibu. Ibu Anda lebih memilih tinggal di Yogyakarta bersama anak bungsunya. Anda-anda yang tinggal di Jakarta turut serta berbakti kepada sang ibu dengan mengirim sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Itu semua tentu merupakan salah satu bentuk birr al-wâlidayn (berbakti kepada orang tua) juga.

Memang, berbakti kepada orangtua itu banyak bentuknya. Di antaranya, melakukan mu‘âsyarah (bergaul) dengan baik seperti melakukan sesuatu yang membuatnya senang dan gembira. Membuat senang orang lain termasuk perbuatan baik, apalagi jika orang itu adalah orang tua kita sendiri. Berkata lembut kepada orang tua juga bentuk lain dari berbakti. Termasuk perbuatan berbakti kepada orangtua juga adalah memberi nafkah kepadanya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Apa saja harta (yang baik) yang kamu nafkahkan, maka untuk ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan).” Dan apa saja kebajikan yang kamu lakukan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Q.S. al-Baqarah [2]: 215). Kita lihat di situ bahwa orang tua (ibu-bapak) disebut lebih dahulu daripada pihak-pihak lain yang perlu diberi nafkah (infak atau sedekah). Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk berbuat baik kepada orang tua.

Yang termasuk dosa adalah apabila kita merasa berat, terbebani atau direpotkan dengan mengurus orang tua, lalu kita menyerahkan panti jompo untuk merawatnya. Kita merasa jijik mengurus orangtua yang sudah uzur dan buang airnya tidak lagi terkontrol, lalu menyerahkan pekerjaan yang kita anggap kotor itu kepada panti jompo. Itu bukan termasuk ihsân (berbuat baik) kepada orangtua, walaupun semua biaya panti jompo kita yang menanggungnya.

Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur'an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: