Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Bukan karena Allah swt. membutuhkan ibadah kita, namun untuk menunjukkan keimanan kita. Bahwa dunia dan seisinya serta segenap alam semesta, termasuk kita semua, adalah milik-Nya. Bahwa tiada daya dan upaya melainkan atas izin-Nya. Tiada keberhasilan tanpa kuasa dan pertolongan-Nya. Segala sesuatunya bergerak dan berhubungan dalam satu sistem yang diciptakan-Nya, termasuk diri kita. Hanya saja, kita memiliki pilihan untuk bergerak sejalan atau menentang sistem tersebut. Tentu saja dengan konsekuensinya masing-masing.

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15).

Ibadah yang kita lakukan berfungsi untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya, menyelaraskan hidup kita dengan pergerakan alam semesta, sehingga hidup pun menjadi lebih bermakna dan mudah untuk dijalani.

Semakin dekat kita dengan Allah swt., semakin dekat pula pertolongan-Nya. Kita akan lebih mudah untuk mensyukuri hidup, memandang dan menjalani segala sesuatunya dengan ketenangan, kejernihan, dan kekuatan yang tak akan kita miliki tanpa kedekatan itu. Kita akan bisa mencapai hal yang kita pikir mustahil sekalipun. Hidup kita pun akan diliputi berkah dan kebahagiaan.

Siapa yang tidak mau memiliki hidup seperti itu bukan?

Peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita adalah kuncinya. Semua perbuatan baik kita, yang diniatkan karena Allah, merupakan ibadah. Setiap kebaikan yang kita lakukan, manfaat yang kita sebarkan, akan menambah kedekatan kita kepada-Nya.

Tentu ada ibadah yang wajib kita lakukan, shalat fardhu lima waktu misalnya. Meninggalkannya berarti meninggalkan kesempatan untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Semakin baik kita mengerjakannya, semakin besar pula manfaat yang akan kita dapatkan, di dunia maupun akhirat. Untuk menyempurnakannya, bertebaran ibadah-ibadah sunnah.

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.  Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah swt. mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya (HR. an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

Allah swt. berfirman dalam sebuah hadis qudsi: “…Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku pun mencintainya.” (HR. Bukhari).

Ibadah sunnah menambah peluang kita untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya, meraih ridha dan cinta-Nya, membedakan diri kita dari hamba-Nya yang lain. Ketika kita mau berusaha untuk selalu mengingatnya, menghabiskan waktu kita untuk beribadah kepada-Nya, meningkatkan kualitas ibadah kita, memperbanyak ibadah sunnah dan segala perbuatan baik lainnya, niscaya hidup kita akan dilapangkan-Nya.  Dan terbuka luaslah pintu menuju kemenangan itu. Di dunia juga di akhirat.

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al Hajj: 77).  [aca]

Tagged on: