Tanya:
Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz saya ingin tanya. Sejak kecil saya diajarkan bahwa Nabi SAW adalah pribadi yang bebas dari kesalahan dan juga bebas dari dosa. Sedangkan teman saya diajarkan bahwa Nabi SAW bebas dari dosa tapi sebagai manusia juga pernah melakukan kesalahan. Lalu sebenarnya yang manakah yang benar ustadz?? Mohon pencerahannya ustadz.

Terima kasih.

Assalamualaikum wr wb.

[Alfan – via email ke redaksi Alifmagz.com]

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Dalam istilah agama, ini adalah kepercayaan kepada kemaksuman Nabi saw. Ini termasuk bagian dari akidah yang harus diyakini. Maksum (dari kata bahasa Arab: ma‘shûm) artinya bahwa Rasulullah saw. –dan juga nabi-nabi yang lain– terjaga dan terlindungi dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu Tuhan.

Seorang nabi tidak mungkin lupa menyampaikan wahyu yang diterimanya dari Allah. Kami (melalui wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril) akan membacakan kepadamu (al-Qur’an), sehingga engkau (Nabi Muhammad saw.) tidak melupakan (-nya). (QS al-A‘lâ [87]: 6). Seorang nabi juga tidak mungkin salah menyampaikan wahyu Allah kepada umatnya.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. ketika menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an atau menjelaskan tentang ayat-ayat al-Qur’an tidak berbicara atas dorongan hawa nafsu. Beliau dilindungi oleh Allah dari kemungkinan menyampaikan wahyu al-Qur’an atas dorongan hawa nafsunya. Dan tidaklah dia (Nabi Muhammad saw.) berucap (menyangkut al-Qur’an dan penjelasan yang disampaikannya) menurut hawa nafsunya. Ia (al-Qur’an) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. (QS an-Najm [53]: 3).

Dalam hal-hal lain yang bersifat manusiawi seperti berbuat salah atau dosa, ulama sepakat bahwa para nabi juga maksum dari berbuat dosa besar. Tetapi menyangkut dosa atau kesalahan kecil, sebagian besar ulama berpendapat bahwa para nabi tidak maksum. Artinya, mereka pun tidak lepas dari melakukan dosa kecil. Namun, mereka segera sadar dan bertobat dan Allah segera memaafkan kesalahan itu. Para nabi pun manusia juga. Dan semua manusia, seperti sabda Nabi saw., tidak lepas dari kesalahan.

Contohnya? Dalam QS Thâhâ (20): 121 disebutkan demikian (ini kisah tentang Nabi Adam dan istrinya, Hawa): Maka (setelah dia dan istrinya berhasil dibujuk), keduanya memakan darinya, lalu (seketika) tampaklah bagi keduanya aurat-aurat dan keburukan-keburukan keduanya sehingga mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan Adam telah melanggar (perintah) Tuhan Pemeliharanya, maka sesatlah ia. Pada bagian akhir ayat itu disebutkan bahwa Nabi Adam “melanggar” perintah Tuhan. Tentu saja melanggar adalah sebuah kesalahan. Tetapi, kesalahan itu segera disadarinya. Nabi Adam dan Siti Hawa pun segera bertobat dengan berdoa: “Tuhan Pemelihara kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi. (QS al-A‘râf [7]: 23).

Contoh kesalahan nabi lain? Nabi Yunus. Lihat ayat berikut: Dan (ingatlah) Dzun Nun (Nabi Yunus as.), ketika dia pergi (meninggalkan kaumnya tanpa izin Allah swt.) dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 87). Kita lihat di situ bahwa Nabi Yunus pun bersalah dengan meninggalkan kaumnya tanpa izin dari Allah. Tetapi, dia tidak berhenti sampai di situ. Nabi Yunus segera menyadari kesalahannya, lalu bertobat dan minta ampun. Dan Allah mengampuni kesalahan itu. Maka dia menyeru dalam aneka kegelapan (yakni kegelapan malam, lautan, dan perut ikan), “Tidak ada Tuhan (yang berkuasa dan berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 87). Kita lihat, Nabi Yunus mengakui kesalahan dirinya dengan mengatakan “aku termasuk orang-orang zalim”.

Nabi Muhammad saw. pun demikian. Nabi pernah mengharamkan dirinya untuk meneguk madu, padahal madu itu halal. Ini dapat kita lihat pada ayat dan tafsirannya berikut ini. Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan (menghindari atau berlaku seperti perlakuan orang yang mengharamkan) apa yang telah Allah halalkan bagimu (yakni, berjanji tidak akan meneguk madu atau menggauli Mariyah al-Qibthiyyah. Engkau (karena keluhuran budi pekertimu, melakukan hal itu karena) menghendaki kerelaan (hati) istri-istrimu (antara lain Hafshah, putri Umar bin al-Khaththab, dan Aisyah, putri Abu Bakar r.a., padahal semestinya mereka dan semua makhluk berupaya mencari ridha Allah dan ridhamu). (Allah Maha Mengetahui tindakan dan tujuanmu) dan Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. (QS at-Tahrîm [66]: 1). Jelas, dari ayat di atas, bahwa Rasulullah saw. juga bersalah, tetapi Allah segera memaafkan kesalahan itu. Ini kita pahami dari bagian akhir ayat itu yang mengatakan “dan Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih”.

Jadi, apa yang diajarkan kepada Anda sejak kecil bahwa Nabi Muhammad saw. adalah pribadi yang bebas dari kesalahan, itu benar. Kesalahan di situ maksudnya adalah kesalahan dalam menyampaikan wahyu. Dan bahwa Nabi tidak pernah berbuat dosa, juga benar. Dosa di situ adalah dosa besar. Kemudian, apa yang dikatakan teman Anda bahwa Nabi berbuat kesalahan seperti manusia biasa, itu juga benar. Kesalahan itu adalah kesalahan kecil yang langsung disadari dan beliau segera memohon ampun. Allah pun segera mengampuninya. Kesalahan maupun dosa kecil yang dilakukan oleh Nabi tidak sampai mencederai kebenaran wahyu yang disampaikan kepada umatnya.

Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi formulir berikut ini :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: