Tanya:
Tolong penafsiran ayat yang menyatakan “Sesungguhnya Agama yang diridhoi Allah yakni Islam”, Islam disini atas nama agama atau Islam (Ketundukan / Penyerahan)?

Terima kasih.

[Ridwan via email ke redaksi Alifmagz.com]

Jawab:
Al-Baghawi (nama lengkapnya Al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, pakar tafsir asal Khurasan, lahir tahun 433 H dan wafat tahun 516 H) mengatakan bahwa kata al-Islâm pada QS Ali Imrân (3): 19 itu adalah nama agama, yaitu agama Islam. Pendapat ini didasarkan pada ayat yang mengatakan demikian: … dan Aku rela Islam sebagai agama kalian (QS al-Mâ’idah [5]: 3), dan ayat yang terjemahannya demikian: Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS Ali Imran [3]: 85). Penafsiran seperti ini di kalangan pakar-pakar tafsir dikenal dengan istilah tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân (menafsirkan ayat dengan ayat yang lain). Dan pendekatan tafsir seperti itu dinilai sebagai penafsiran yang paling kuat.

Ibnu Katsîr (pakar tafsir asal Suriah, lahir tahun 700 H dan wafat pada 774 H) pun demikian juga. Dalam tafsirnya ia mengatakan, “Ayat inna ad-dîna ‘inda Allâh al-Islâm adalah sebuah pemberitahuan dari Allah bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari siapa pun kecuali Islam. Yaitu mengikuti rasul-rasul dengan ajaran yang Allah turunkan kepada mereka setiap saat sampai pada rasul terakhir yaitu Muhammad saw. Dengan diutusnya rasul terakhir ini tertutuplah semua pintu untuk mencapai kepada-Nya kecuali melalui Muhammad saw. Oleh karena itu, barang siapa meninggal dunia –setelah diutusnya Muhammad saw. sebagai rasul– dengan membawa agama lain selain agama dan syariat yang dibawa oleh Muhammad saw. tidak akan diterima.

Dan masih banyak ulama-ulama lain yang menafsirkan bahwa Islam pada ayat Ali Imran di atas adalah nama agama, yaitu syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Namun demikian, perlu pula kita ketahui kiranya bahwa kata islam digunakan oleh al-Qur’an untuk ajaran-ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul lain. Hanya saja, seperti kata Syaikh Sya’rawi dalam tafsirnya, kata islam untuk agama-agama sebelum syariat Nabi Muhammad saw. lebih merupakan sifat, bukan nama. Artinya, agama-agama lain pada hakikatnya juga bersifat mengajarkan ketundukan makhluk kepada Sang Khalik. Tetapi, karena Allah tidak lagi menurunkan agama baru setelah agama Islam, dan tidak mengutus nabi baru setelah Nabi Muhammad saw., maka sifat islam itu dilekatkan sehingga menjadi nama syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. itu.

Maka, secara akidah, siapa pun yang mendengar ayat itu dituntut untuk menganut ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., walaupun di sisi Allah semua agama dibawa oleh para rasul adalah Islam. Sehingga, siapa pun –sejak Adam hingga akhir zaman nanti– yang tidak menganut agama sesuai yang diajarkan oleh rasul yang diutus kepada mereka, Allah tidak menerimanya. Demikian kurang lebih uraian M Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbâh-nya.

Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin - Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: