Tanya:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, apa sebetulnya suluk itu? Dan apakah Rasulullah saw. dan sahabat seorang salikin? Mohon info ya Ustadz.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

[Hamdy via email ke redaksi]

Jawab:
Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Kata “suluk” berasa dari kata bahasa Arab سلوك (sulûk), artinya ‘jalan’ atau ‘menempuh jalan’. Kata itu sudah dikenal pada masa turunnya al-Qur’an yang dibuktikan dengan digunakannya beberapa kata yang berasal dari akar yang sama dengan kata itu dan memiliki kaitan makna yang serupa. Misalnya pada QS. an-Nahl (16): 69; Thâhâ (20): 53; al-Muddatstsir (74): 42; dan lain-lain. Beberapa sabda Nabi saw. juga menggunakan kata yang seakar dengan kata itu, seperti salaka dan lain-lain.

Di dalam Ensiklopedia Istilah-istilah Keislaman terbitan Kementerian Wakaf Mesir disebutkan bahwa suluk berkaitan erat dengan akidah yang benar. Akhlak, ibadah, muamalat, dan apa pun bentuk perbuatan baik manusia hanya akan diterima dan bernilai pahala kalau dilandasi dengan keimanan yang benar, yang ditandai, antara lain, dengan keyakinan akan perjumpaan dengan Allah di akhirat.

Ulama membagi suluk ke dalam dua bagian, yaitu suluk manusia kepada Allah dan suluk manusia kepada sesama manusia. Yang pertama disebut ibadah (seperti shalat, zakat, puasa, haji), dan yang kedua disebut muamalah (seperti jual-beli, pernikahan, peradilan, dan sebagainya).

Dalam perkembangan selanjutnya, kata “suluk” kemudian digunakan oleh orang-orang Sufi dalam makna ‘meniti jalan menuju kesempurnaan’, atau ‘menempuh jalan untuk menyucikan hati’. Orang atau pelaku yang melakukan suluk disebut sâlik ‘peniti jalan’, jamaknya sâlikîn.

Salah satu referensi rujukan kalangan sufi yang banyak sekali membahas suluk dan pelakunya (salik) adalah Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) karya Imam Ghazali (450-505 H). Dia, antara lain, menguraikan suluk yang harus ditempuh oleh seorang salik untuk mencapai keridaan Allah yang meliputi ibadah (‘ibâdât), muamalah (‘âdât), hal-hal yang harus dijauhi karena membahayakan (muhlikât), dan hal-hal yang harus dilakukan karena akan menyelamatkan (munjiyât).

Dalam pengertian suluk seperti di atas, tentu saja Rasulullah saw. dan para sahabat beliau adalah para sâlikîn. Kita semua, umat Islam, yang mengikuti ajaran Islam yang beliau bawa dan contohkan dalam kehidupan beliau juga termasuk sâlikîn walaupun kita tidak mengikuti tarekat atau ajaran tasawuf tertentu.

Wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an]

===
Anda juga bisa bertanya ke kami dengan mengisi formulir berikut:

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: