Dalam konteks bisnis usaha milik negara, bidang finance sudah dikelola secara profesional, efisien, dan kian sedikit unsur birokrasinya.

Pendapat tersebut diungkapkan Irman Alvian Zahiruddin Tanjung, Managing Director Bank BTN. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cara pengelolaan lembaga-lembaga keuangan milik negara sudah seperti lembaga asing. “Unsur birokrasi di BUMN bidang finance semakin sedikit, sehingga lebih efisien,” katanya.

Kesimpulan itu diperoleh Irman, panggilan akrabnya, setelah melanglang buana di perusahaan-perusahaan bidang finance di Indonesia. “Jiwa saya memang sudah di dunia finance,” ungkapnya. Kariernya diawali di Citibank Jakarta tahun 1989. Posisi pertamanya pada Management Development Program [MDP] sebagai Management Trainee. Tanggungjawab yang dipegangnya saat itu adalah meluncurkan Citibank Visa di Indonesia. Bersama anggota timnya, ia sukses melaksanakan program itu.

Kecemerlangan melaksanakan tanggungjawab yang diberikan kepadanya membuat karier di
bank bermodal asing itu menanjak cepat. Setelah setahun bergabung, ia dipromosikan menjadi Asisten Manager. Tak lama setelah itu, posisi Manager pun ia raih dengan pangkat Assistant Vice President [AVP]. Tahun 1994, di tahun kelima kariernya, ia menduduki Card Area Director untuk wilayah Indonesia Timur.

Posisi itu menjadi jabatan terakhirnya di Citibank. Kemudian ia menerima tawaran dari PT GE Astra Finance, sebuah lembaga pembiayaan yang dibangun General Electric Consumer. Bapak empat anak ini langsung menjabat sebagai Chief Operating Officer. Tugasnya menerbitkan dan memasarkan GE Ekstra Master Card dan Installment Finance [lebih dikenal dengan sebutan GE Sumber Kredit].

Tugas tersebut diselesaikan dengan sukses sehingga mendapat banyak penghargaan, termasuk kesempatan bekerja di WCI Finace Illinois, USA selama tiga bulan. Tahun 1997 ia mendapat promosi jabatan sebagai Acting Managing Director. Kemudian pada tahun 1998 ia beralih ke GE Capital sampai tahun 1999. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Quality Director/Leader.

Tahun 2002, lima bank [Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Ekspres, Bank Arta Media, dan Bank Patriot] merjer. Irman juga termasuk orang yang ikut cawe-cawe [Jawa: ikut serta-red] dalam merjer tersebut. Setelah lahir Bank Permata, bank baru hasil merjer, ia pun dipercaya menduduki jabatan Managing Director, membawahi Consumer Banking Group.

Hidup adalah Pilihan
Keputusan Irman berkarier di Bank BTN yang merupakan lembaga milik pemerintah adalah sebuah pilihan. “Hidup adalah pilihan,” kata pria yang murah senyum itu. Lama berkecimpung di dunia finance muncul keresahan dalam dirinya. Ia mendapati sebuah kenyataan bahwa saat ini bank-bank swasta semakin banyak didominasi modal asing. Pengelolaannya pun sudah mengadopsi manajemen perbankan asing yang mengedepankan efisiensi dan profesionalisme. Sementara bank-bank milik pemerintah saat itu belum dikelola secara baik.

Keresahannya itu kemudian memunculkan keinginan untuk berkarier di bank milik pemerintah. Ia ingin mengabdikan ilmu finance yang dipelajarinya agar bank-bank milik pemerintah memunyai daya saing yang kuat, tak kalah dengan bank-bank swasta. Ia pun mengakhiri tugasnya di Bank Permata. Setahun kemudian keinginannya tersebut terkabul. Ia bergabung dengan Bank BTN sejak Desember 2007. Sebelum di Bank BTN ia sempat merasakan berkarir di PERBANAS sebagai Direktur Eksekutif dan di PT Polytama Propindo [anak perusahaan Tuban Petrokimia] sebagai Direktur Keuangan.

Berada di posisi yang strategis di Bank BTN membuatnya bekerja ekstra keras, mempelajari dan menganalisa, berusaha menemukan strategi yang tepat untuk Bank BTN ke depan. Selain itu, ia juga berfikir ke dalam, bagaimana membenahi pengelolaan bank, termasuk para karyawannya. Irman dikenal sangat perhatian kepada karyawan dan orang-orang di sekitarnya. Apa yang menjadi kebutuhan karyawan yang menunjang kinerjanya selalu diperhatikannya. Salah satunya adalah menciptakan kondisi kerja sehingga komunikasi bisa berjalan dengan baik. “Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik, proses pembelajaran pun akan berjalan baik,” katanya lagi.

Ia juga berusaha melakukan rotasi. Hal itu dirasa sangat perlu karena untuk menghilangkan
kejenuhan bekerja dan agar karyawan memunyai kesempatan mempelajari hal-hal yang baru. Ia mengatakan bahwa 3 tahun berada pada suatu posisi sudah dirasa cukup. Dalam jangka waktu itu, seseorang sudah bisa menguasai 80 sampai 85 persen keahliannya. Karenanya setelah 3 tahun, seseorang harus pindah posisi.

Sebagai orang yang dipercaya mengemban tanggungjawab yang besar, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan kepercayaan itu. Ia bekerja mulai jam tujuh sampai sebelas malam. “Pulang jam sepuluh malam itu masih terlalu cepat,” ujarnya. Kebiasaan kerja keras itu yang dulu juga membuatnya sukses meniti karier dan berprestasi di banyak tempat. “Itulah konsekuensi dari pilihan hidup,” katanya lagi.

Tak hanya berkarir di Bank BTN satu-satunya pilihan hidup yang pernah ia laksanakan. Pulang dan mengabdikan ilmunya di Indonesia juga termasuk pilihan. Sebenarnya dulu ia bisa memilih berkarier di luar Indonesia. Ketika diterima di Citibank, ia diminta memilih ditempatkan di Indonesia atau di New York, dan ia memilih pulang ke Indonesia.

Hidup Harus Seimbang
Di antara berbagai aktivitas kerja yang menyita sebagian besar waktunya, setiap harinya Irman menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga. Ia berprinsip bahwa hidup harus seimbang antara bekerja dan keluarga. Ia harus pandai-pandai membagi waktu sehingga semua tanggungjawab bisa terpenuhi.

Irman yang lahir April 1963 di Medan beristri Maya Dewi Hartono. Dari perkawinannya itu, ia dikaruniai tiga putri dan satu putra. Setiap hari Irman bangun jam lima pagi. Sebentar kemudian suasana rumahnya sudah meriah karena tiga putrinya mempersiapkan diri berangkat sekolah. Saat-saat seperti itu dimanfaatkan Irman untuk membantu dan berkomunikasi dengan mereka. Setelah semua sudah siap, kemudian giliran si bungsu diajaknya bercengkerama sampai waktu ia harus mandi.

Saat-saat seperti itu setiap hari harus dimanfaatkannya sebaik mungkin karena hari Sabtu dan Minggu kadang tak sepenuhnya bisa digunakan untuk keluarga. “Sabtu, ada saja kolega atau teman yang mengajaknya bertemu, belum lagi kalau ada undangan pernikahan,” katanya. Hanya Minggu yang tersisi sepenuhnya untuk keluarga.

Nah, waktu yang bisa sepenuhnya ia gunakan untuk keluarga adalah saat cuti tahunan. Saat libur tahunan itu, Irman berusaha membawa keluarganya keluar dari rutinitas Jakarta sehari-hari. « [imam dan esthi]

[Box]
Biodata
Nama Irman Alvian Zahiruddin
Lahir Medan, April 1963
Profesi Direktur PT Bank Tabungan Negara
Isteri Maya Dewi Hartono
Anak
1. Audria Maharani [14]
2. Shania Tsamara [10]
3. Nandadevi [9]
4. Rangganata [2]
Pendidikan:
• Bachelor Degree, University of the Pacific, Stockton [1987]
• Master Degree, Golden Gate University, San Francisco, USA [1988]
Karier:
• Direktur PT Bank Tabungan Negara
• Direktur Consumer Assets dan Liabilities PT Bank Permata Tbk
• Direktur Eksekutif Perbanas