Tanya:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya ucapkan rasa terima kasih yang besar pada Pak Ustadz yang telah sudi untuk menjawab pertanyaan saya.

Saya seorang mahasiswa S1 masih tahun kedua, jurusan agama, umur saya 22 tahun. Saya mengenal seorang wanita dalam tiga bulan ini. Wanita tersebut seorang janda dan memiliki tiga orang anak, umurnya 35 tahun. Dia bekerja di sebuah sekolah musik di Jakarta untuk menghidupi dirinya, anak-anaknya dan ibunya. Sedangkan ayahnya sudah wafat lima tahun yang lalu.

Meskipun saya mempunyai perasaan suka terhadap wanita itu, saya masih ingin tetap melakukan istikhoroh Pak Ustadz agar yang saya pilih bukannya pilihan saya, tapi pilihan Allah SWT. Saya berdoa pada Allah SWT jika ini adalah jodoh saya, maka semoga hati saya lebih condong ke dia, jika bukan jodoh saya maka semoga saya dijauhkan dari dia. Ternyata akhirnya saya merasa cocok dengan dia ustadz. Dan kita berdua berkomitmen untuk menikah ibadah lillahi ta’ala daripada kita pacaran.

Tapi yang saya sayangkan, keluarga saya menolak, tidak merestui kami dan keluarga calon istri saya juga menolak, tidak merestui kami.

Setelah saya tanyakan kepada ayah dan ibu saya tentang alasan mereka tidak menerima pilihan saya, adalah hanya karena calon istri saya janda, padahal dia muslimah, sholatnya lancar, patuh pada syari’at. Bahkan ketika kami kenalan, sering saya uji tentang hal-hal syari’at dan dia menjawab semuanya dengan benar. Dan lagi karena orang tua saya malu jika anaknya yang masih perjaka menikah dengan janda beranak tiga. Padahal kami tulus mencintai karena Allah SWT . Dan yang lebih saya sayangkan, ibu saya menolak calon istri saya karena malu akan omongan tetangga. Menurut saya semua alasan orang tua saya itu adalah hal duniawi dan bukan hal-hal syar’i. Padahal calon istri saya menjaga hijabnya di tengan desiran kebebasan ibukota jakarta. Itu yg membuat saya mantap untuk menikahinya Pak Ustadz.

Begitu juga dari pihak calon istri saya Pak Ustadz. Ibunya juga tidak merestui kami, karena saya terlalu muda katanya. Karena takut saya tidak bisa menafkahi istri saya, padahal saya mampu menafkahi istri saya dengan izin Allah SWT. Menurut saya ini juga hal yg duniawi Pak Ustadz bukan Syar’i. Kami tetap ingin menikah di awal tahun 2013 nanti Pak Ustadz.

Yang ingin saya tanyakan:

1. Bagaimana hukumnya pernikahan kami nanti, padahal saya sebagai calon suami tidak mendapatkan restu ayah-ibu? Dan pihak calon istri saya juga tidak mendapatkan Restu ibunya, sedangkan ayahnya sudah lima tahun yang lalu meninggal dunia.

2. Yang saya harapkan, yang menjadi wali dari calon istri saya adalah pamannya, atau kakak dan adik kandung laki-lakinya, tapi setelah kami lihat kemungkinan besar mereka tidak mau jadi wali dan tidak merestui kami.
Jadi apa hukumnya jika kami menikah dan pihak wanita walinya bukan dari keluarganya melainkan dari wali hakim? Karena mereka semua kebanyakan hanya melihat pada dunia Pak Ustadz.

Sejujurnya Pak Ustadz, kami bingung harus bagaimana, kami ingin menyempurnakan 1/2 iman kami dengan Sunnah Rasul SAW ini, tapi kedua belah pihak keluarga kami menentangnya dengan alasan-alasan dunia. Apalagi ayah saya berlandaskan dengan dalil “Birrul Walidain“. Saya bingung Pak Ustadz. Calon istri saya setelah saya telusuri dia wanita yg sholihah.

3. Jika saya menikah dengannya apakah saya termasuk anak yang durhaka kepada orang tua? Padahal sejak kecil sampai sekarang saya tidak pernah berbohong dan saya selalu berusaha menghormati orang tua. Ketika beliau berdua membentak saya ketika saya ceritakan rencana pernikahan kami ini, saya tetap berusaha halus kepada beliau berdua Pak Ustadz.

Saya ucapkan segala terima kasih kepada Pak Ustadz yg sudi menjawab pertanyaan ini.

[Muhammad via formulir pertanyaan]

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Saya ingin mengawali tanggapan saya dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah yang maknanya sebagai berikut: Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS an-Nisâ’ [4]: 19).

Sikap orangtua Anda yang tidak menyetujui Anda menikah dengan janda beranak tiga –dan usianya terpaut cukup jauh di atas usia Anda– dan sikap orangtua calon istri Anda yang tidak menyetujuinya dinikahi oleh Anda karena Anda dianggap masih terlalu muda dan khawatir tidak dapat menafkahi istri dengan ketiga anaknya, dalam batas-batas tertentu sangat bisa dimaklumi. Di sini Anda mungkin tidak suka terhadap sikap orangtua Anda, tetapi boleh jadi di dalam sikap mereka yang tidak Anda suka itu terdapat kebaikan bagi masa depan Anda dan masa depan perempuan itu. Orangtua mana yang tidak sedih melihat anaknya tidak bahagia? Coba kita melihat persoalan ini dari sudut pandang orangtua masing-masing.

Kedua, usia Anda yang baru 22 tahun boleh jadi memang dinilai masih terlalu muda. Kalau kita mengikuti banyak pihak yang berpendapat bahwa usia Rasulullah saw. saat menikah dengan Ibunda Khadijah merupakan usia ideal seorang laki-laki untuk menikah, yaitu 25 tahun, maka Anda masih punya kesempatan tiga tahun lagi. Tidak harus tergesa-gesa menikah sekarang. Boleh jadi dalam usia Anda sekarang ini Anda masih labil.

Saya sering dimintai pendapat oleh orangtua yang anaknya ingin segera menikah pada usia relatif masih muda. Biasanya, anak itu beralasan (seperti alasan Anda) “daripada kami pacaran yang bisa mengarah kepada zina, lebih baik kami menikah.” Betul, alasan seperti itu ada benarnya. Tetapi masih banyak alternatif lain selain harus menikah. Anda bisa lebih berkonsentrasi kuliah (toh sekarang baru tahun kedua program S1) sambil merancang pernikahan setelah selesai kuliah. Anda juga bisa fokus untuk memiliki pekerjaan agar dapat menafkahi istri dan anak-anak Anda. Perlu kita ingat, menafkahi istri dan anak adalah wajib hukumnya bagi suami. Walaupun calon istri Anda saat ini bekerja, tetapi ia tidak sama sekali berkewajiban menafkahi keluarga Anda nanti. Tanggung jawab untuk menafkahi tetap ada pada suami. Anda tidak boleh menyuruhnya menafkahi Anda dan anak-anak Anda.

Ketiga, kita tahu bahwa Rasulullah saw. menikah untuk pertama kali dengan seorang janda sementara beliau masih perjaka. Boleh jadi ini juga menjadi alasan Anda untuk menikahi janda itu. Tetapi, walaupun Rasulullah saw. menikah dengan janda, beliau tetap menganjurkan umatnya untuk menikah dengan gadis. Dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan hadits yang bersumber dari Jabir bin Abdullah. Jabir berkata, “Rasulullah saw. bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau sudah menikah?’ Aku menjawab, ‘Sudah.’ Beliau bertanya lagi, ‘Dengan gadis atau janda?’ Aku menjawab, ‘Dengan janda.’ Beliau kemudian berkata, ‘Mengapa tidak dengan gadis, [supaya] engkau bisa bercumbu dengannya, dan dia juga bisa bercumbu denganmu?’” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud.

Dalam kitab ‘Awn al-Ma‘bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd yang merupakan buku penjelasan hadist-hadits riwayat Abu Daud, disebutkan bahwa salah satu alasan mengapa menikah dengan gadis lebih dianjurkan daripada dengan janda adalah agar cinta, kasih, dan sayang sang istri kepada suami lebih sempurna. Karena sangat boleh jadi di dalam hati seorang janda masih ada “sisa-sisa” kecintaan pada suami pertamanya. Dan itu sangat boleh jadi juga belum dapat Anda ketahui sekarang. Pada gilirannya, hal itu akan membuat percumbuan dan percintaannya (dalam redaksi hadits di atas digunakan kata tulâ‘ibuka yang berarti ‘dia bercumbu denganmu’) tidak sama dengan percumbuan seorang gadis yang belum memiliki pengalaman bercumbu dan bercinta sebelumnya.

Dari situ, menjawab pertanyaan pertama Anda, saya cenderung mengatakan pikirkanlah kembali rencana Anda itu, demi membahagiakan orang tua Anda. Setidak-tidaknya tundalah hingga Anda mencapai usia 25 tahun, misalnya. Imam Syafi’i, salah seorang ulama dari empat mazhab fikih, menunda menikah selama ibundanya masih hidup. Ia ingin berbakti kepada ibunya secara maksimal. Ia khawatir kalau ia menikah, baktinya akan lebih banyak tercurahkan kepada istrinya daripada kepada ibunya.

Kemudian, jika Anda tetap ingin melangsungkan pernikahan dengan wali hakim (karena Anda menduga keras bahwa paman perempuan itu pun akan tidak mau menjadi wali), itu pun hemat saya bukan jalan yang terbaik. Sebab, dengan cara seperti itu Anda seolah-olah mengawali membangun rumah tangga Anda dengan “menjaga jarak” dengan keluarga besar Anda dan keluarga besar calon istri Anda. Pernikahan pada hakikatnya bukan hanya menjalin hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi lebih dari itu juga menjalin hubungan baik antara keluarga besar laki-laki dan keluarga besar perempuan. Anda tidak hidup berdua saja dengan istri Anda, tetapi juga dengan keluarga besar masing-masing yang harus dipertimbangkan untuk dijaga hubungan baik dengan mereka.

Terakhir, saya tidak ingin mengatakan Anda sebagai anak yang durhaka kepada orangtua dengan menikah tanpa restu beliau. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sikap Anda yang patuh kepada orangtua sejak kecil itu akan semakin sempurna jika Anda mempertimbangkan sudut pandang orangtua Anda dalam hal menikah dengan perempuan itu. Apalagi perkenalan Anda dengan perempuan itu relatif masih muda, baru tiga bulan. Anda masih punya cukup waktu untuk bisa meyakinkan orangtua dan keluarga besar Anda juga orang tua dan keluarga besar perempuan. Yakinlah, kalau memang jodoh tidak akan ke mana-mana, seperti kata pepatah. Sebaliknya, kalau bukan jodoh, Allah pasti sudah menyediakan yang terbaik untuk Anda dan untuk dia.

Wallahu a’lam.

[M. Arifin-Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur'an]

===
Anda juga bisa bertanya dengan mengisi formulir berikut :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: