Tanya:
Bagaimana sebaiknya kita berdoa? Apakah doa diucapkan dengan suara keras, dan bahkan dengan menggunakan pengeras suara, ataukah cukup dilakukan dalam hati? Mohon penjelasan Ustad yang terperinci. Terima kasih.

[Muhammad Saleh, Ciputat]

Jawab:
Sebagian sahabat Nabi saw. bertanya kepada beliau, “Apakah Tuhan kita dekat sehingga kita bermohon kepada-Nya dengan suara berbisik ataukah jauh sehingga kita menyeru-Nya dengan suara nyaring?” Al-Qur’an turun menjawab mereka, Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah bahwa) Aku dekat. Kuperkenankan doa yang bermohon bila dia bermohon kepada-Ku (QS. al-Baqarah [2]: 186).

Dalam satu riwayat dikemukakan bahwa sahabat Nabi, Abû Bakar, berdoa dengan suara yang terdengar sayup dengan alasan “Allah mengetahui hajatku,” sedangkan ‘Umar berdoa dengan suara keras sambil berkata, “Aku mengusir setan dan membangunkan orang yang mengantuk atau tidur.” Lalu turunlah ayat berikut ini: Janganlah mengeraskan suaramu dalam shalat atau doa dan janganlah juga merendahkannya. Carilah jalan tengah di antara keduanya (QS. al-Isrâ’ [17]: 110).

Nabi kemudian berpesan kepada Abû Bakar agar menambah sedikit volume suaranya dan berpesan kepada ‘Umar agar merendahkan suaranya. Karena itu, jika doa dilakukan bersama di hadapan orang banyak, maka tidak ada halangan untuk menggunakan pengeras suara dengan tujuan memperdengarkan doa kepada hadirin dan bukan untuk menyentakkan orang yang ngantuk atau membangunkan orang yang tidur. Akan tetapi, jika doa dilakukan sendiri, maka hendaknya doanya didengar oleh telinga orang yang berdoa dan bukan sekadar melintaskan ucapan dalam hati.

[M. Quraish Shihab, Dewan Pusat Studi al-Qur'an]

===

Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut:

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

 

Tagged on: