Tanya:
Mengapa ayat 93 surah al-Mâ’idah masih ditulis dalam al-Qur’an, padahal sudah ada ayat 90 yang menggugurkan arti dan makna ayat 93 dalam surah yang sama? Sebagaimana diketahui, ayat 93 turun lebih awal dari ayat 90, tetapi penyusunan dan penomoran ayatnya terbalik. Secara logis, ayat yang lebih dahulu turun ditempatkan dan diberi nomor lebih awal. Bagaimana cara para sahabat menyusun ayat-ayat al-Qur’an?

[Adhi Rizal, Cirebon]

Jawab:
Secara lengkap, terjemahan ayat itu demikian: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu bila mereka bertakwa dan beriman serta beramal saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. al-Mâ’idah [5]: 93).

Ayat ini disalahpahami oleh mereka yang membacanya hanya sepotong atau yang tidak mengetahui latar belakang turunnya. Ayat di atas turun sebagai penjelasan atas pertanyaan beberapa sahabat Nabi tentang orang-orang yang telah meninggal dunia dan minum arak semasa hidupnya. Jawabannya adalah seperti bunyi ayat di atas, yakni bahwa mereka tidak berdosa atas apa yang telah mereka makan atau minum (karena belum diharamkan waktu itu). Sementara itu, ayat 90 dalam surah yang sama berbicara tentang haramnya minuman keras bagi kaum Muslim yang masih hidup. Sebagaimana Anda ketahui, proses diharamkannya minuman keras dilakukan secara bertahap—dimulai dari isyarat tentang keburukannya (QS. an-Nahl [16]: 67), pernyataan bahwa minuman keras dan judi lebih banyak mudharat atau dosanya daripada manfaatnya (QS. al-Baqarah [2]: 219), kemudian larangan meminumnya menjelang waktu shalat (QS. an-Nisâ’ [4]: 43), dan terakhir larangan menyeluruh secara tuntas dan untuk selama-lamanya (QS. al-Mâ’idah [5]: 90). Jika demikian halnya, masing-masing ayat menguraikan hal yang berbeda. Karena itu, tidaklah tepat bila dianggap bahwa ayat 90 dalam surah al-Mâ’idah menolak atau menggugurkan ayat 93 dalam surah yang sama dan sebaliknya. Sebab, masing-masing ayat berbicara tentang persoalan yang berbeda.

Para ulama bersepakat bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak disusun oleh sahabat-sahabat Nabi, melainkan oleh Allah, bukan berdasarkan urutan masa turunnya, tetapi berdasarkan kebijakan-Nya sendiri, untuk tujuan tertentu. Ini dibahas oleh pakar al-Qur’an dalam apa yang mereka sebut ilmu tentang keserasian sistematika ayat-ayat al-Qur’an (‘ilm al-munâsabah). Paling sedikit, ditemukan tujuh macam keserasian yang amat mengagumkan dalam sistematika itu. Antara lain adalah penempatan kata demi kata dalam satu ayat, pemilihan kata atau kalimat penutup ayat dengan pesan yang dikandungnya, keserasian kandungan ayat terdahulu dengan ayat berikutnya, dan keserasian perurutan surah demi surah. Bahkan, terdapat keserasian antara awal surah dengan akhirnya serta antara nama surah dengan kandungannya.

Tanpa mendiskusikan pendapat Anda yang menyatakan bahwa ayat 93 lebih dulu turun dari pada ayat 90 dalam surah al-Mâ’idah yang disebut di atas, dan dengan menggunakan logika Anda, keserasian yang dimaksudkan itu amatlah jelas. Tentu, tidak logis kalau jawaban pertanyaan para sahabat itu dikemukakan sebelum adanya pernyataan tegas tentang haramnya minuman keras. Yang logis adalah bahwa pertanyaan itu lahir setelah adanya keharaman tadi, dan inilah yang terlihat pada susunan ayat itu. Bukankah ayat 90-91 berbicara tentang haramnya minuman keras, berjudi, menyembah berhala, dan mengundi nasib, karena setan bermaksud—khususnya melalui judi dan khamar—menimbulkan permusuhan antara manusia dan menghalangi mereka mengingat Allah? Sementara itu, ayat 92 berbicara tentang sanksi atas mereka yang melanggar? Karena itu, wajar kalau waktu itu muncul pertanyaan tentang nasib mereka yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya pernah melakukan hal-hal yang dilarang sebelumnya. Di sinilah jawaban atas pertanyaan itu perlu dikemukakan. Dan, memang, seperti yang kita baca, Allah menempatkannya pada ayat 93 sesudah ayat-ayat larangan dan ancaman itu.

[M. Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur'an]

===

Anda juga bisa bertanya ke kami dengan mengisi formulir berikut ini:

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: