Tanya:
Assalamu’alaikum, apa perbedaan antara nama Allah al-Wadud dengan ar-Rahman, padahal artinya sama-sama penyayang?

[Mufid via formulir pertanyaan]

Jawab:
Bismillahirrahmanirrahim,

Secara bahasa, Ar-Rahmân (الرَّحْمن) seakar dengan kata Ar-Rahîm (الرحيم), kedua-duanya berasal dari akar kata r-h-m (ر ح م). Ar-Rahmân sering diterjemahkan sebagai ‘Yang Maha Pengasih’, juga berarti ‘Yang rahmat-Nya mahaluas’. Dari akar kata ini terbentuk kata rahmah (رحمة) yang sering diartikan ‘kasih sayang’ atau ‘rahmat’, juga kata rahim (رَحِم), yakni rahim tempat janin berada di perut ibu. Sederhananya dapat kita katakan bahwa Allah Yang bersifat Ar-Rahmân adalah Allah yang memiliki kasih sayang amat luas untuk hamba-hamba-Nya.

Meski diakui oleh banyak pakar bahasa bahwa kata Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm berasal dari akar kata yang sama, banyak juga kalangan linguis atau pakar bahasa yang membedakan penekanan makna pada masing-masing kata itu. Sifat Allah sebagai Ar-Rahmân, menurut mereka, itu lebih menunjukkan makna umum. Artinya, rahmat atau kasih sayang Allah sebagai Ar-Rahmân berlaku bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk manusia yang lain. Bukankah orang kafir juga mendapat kebebasan menghirup udara? Bukankah sinar matahari tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang kafir? Keumuman makna itu bahkan meliputi makhluk-makhluk lain selain manusia. Kasih sayang seekor induk ayam kepada anak-anaknya tidak lain merupakan buah dari sifat Allah Yang Ar-Rahmân. Ini satu sisi.

Di sisi lain, meski makna Ar-Rahmân bersifat umum, kata ini juga bersifat terbatas. Artinya, kasih sayang Allah sebagai Ar-Rahmân terbatas hanya di dunia, sedang sifat Allah sebagai Ar-Rahîm itu terus berlangsung hingga akhirat. Oleh karena itu, ketika menggambarkan Diri-Nya sebagai Pengampun dan Pemberi kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, Allah selalu menggunakan frasa Ghafûrun Rahîm (غفور رحيم), tidak pernah Ghafûrun Rahmân (غفور رحمن). Sebab, implikasi dari pengampunan dosa adalah kenikmatan abadi di surga. Dan itu hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman.

Sedang Al-Wadûd berasal dari akar kata w-d-d (و د د yang disederhanakan menjadi ودّ). Kata al-wudd, seperti disebutkan oleh Ibn Fâris dalam bukunya, Maqâyîs al-Lughah, mengandung arti ‘harapan’ dan ‘cinta’. Pakar yang lain, Al-Biqâ‘î, dalam karyanya Nazhm ad-Durar berpendapat bahwa kata al-wudd mengandung arti ‘kekosongan’ dan ‘kelapangan’. Maksudnya, seseorang yang bersifat wadûd adalah orang yang memiliki kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Kata al-wudd (الود) kurang lebih sama dengan kata al-mawaddah (المودة), yakni ‘cinta plus’. Cinta yang tak mengandung benci.

Makna wadûd sebagai ‘pecinta’ juga dapat kita temukan dalam hadits Nabi saw. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasâ’î, Abû Dâwûd, dan Ahmad, beliau bersabda, “Tazawwajû al-wadûd al-walûd.” Artinya: kawinilah perempuan yang pecinta dan (berpotensi) memiliki banyak anak.

Demikian, wallahu a’lam.

[Muhammad Arifin,MA - Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur'an]

===

Anda juga bisa bertanyan ke kami dengan mengisi formulir berikut :

Required fields are marked *.

Your information
Your message
Confirmation

Tagged on: