Saat sedang bercengkrama dan bersenda gurau, khususnya dengan orang terdekat, kadang luput dari kesadaran kita untuk menjaga kata-kata yang kita keluarkan. Keakraban justru kerap membuat kita lupa untuk memperhatikan cara bicara atau kata yang diucapkan.

Celetukan, ledekan, sampai sindiran halus seringkali dianggap sebagai sesuatu yang wajar saja untuk dilakukan. Apalagi bila alasan bercanda ditambahkan di situ. Tanpa sadar, kita jadi terbiasa untuk saling menghina dan merendahkan. Terbiasa untuk tidak peka terhadap keadaan dan perasaan orang lain. Terbiasa berfokus pada kelemahan dan kesalahan yang dilakukan, yang dapat memicu perasaan rendah diri, baik pada orang lain maupun diri sendiri.

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.”  (HR. Bukhari).

Tentu ini termasuk saat bercanda. Menyakiti orang lain tidak menjadi benar saat kita melakukannya sambil bercanda bukan?

Rasulullah saw. murah senyum dan suka bercanda, namun dalam candanya pun beliau selalu berkata benar dan tidak merendahkan orang lain. Sabdanya: “Aku menjamin sebuah taman di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud).

Menjaga perkataan juga lebih sulit dilakukan saat kita sedang marah, karenanya, diam lebih baik kita utamakan pada saat itu.

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad).

Baik saat sedang dalam keadaan bercanda atau marah, dengan orang asing atau yang dekat dengan kita, ketika menyampaikan pendapat dalam diskusi atau sekadar mengobrol santai, kata-kata kita adalah sesuatu yang penting untuk kita perhatikan.

Pastikan ada lebih banyak manfaat dari perkataan kita daripada keburukannya. Biasakan berkata jujur, namun perhatikan waktu, cara, dan kondisi yang tepat dalam menyatakan setiap kebenaran.

Mungkin kita perlu diam sejenak sebelum mulai berkata-kata. Jika memang ada hal baik dan bermanfaat yang dapat kita bagikan dengan cara yang baik, maka bagikanlah. Jika tidak, maka diam merupakan pilihan yang patut kita pertimbangkan. [aca]

Tagged on: