Kedudukan Perempuan

Posted on Posted in Dari Redaksi

Assalâmu’alaikum wa Rahmatullâhi wa barakâtuh,
Alhamdulillah it’s Friday,

Semoga Anda semua sehat wal ‘afiat, dan selalu berada dalam lindungan Allah swt. Friday Readers, Allah menciptakan semua hal berpasang-pasangan. Malam dengan siang. Baik dengan buruk. Kanan dengan kiri. Dan seterusnya. Satu ciptaan melengkapi pasangannya. Tak ada yang lebih baik pun tak ada yang lebih utama. Begitu juga dengan manusia. Laki-laki dan perempuan. Keduanya saling melengkapi. Yang membedakan di hadapan Allah–tentu saja–hanya ketakwaan dan amal shaleh, tanpa memandang jenis kelamin.

Friday Readers, kita mafhum bahwa perempuan sering dijadikan warga negara kelas dua. Hak-haknya kerap direndahkan daripada laki-laki. Mereka sering dijadikan objek, ketimbang subjek yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. “Ar rijâlu qawwâmûna ala an-nisâ’” [QS 4: 34] kerap diartikan tidak tepat. Memang, dalam ayat itu, Allah menjelaskan, telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Tetapi itu dikarenakan mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Tentu, ini bukan berarti para laki-laki [suami] menjadi punya kuasa penuh atas perempuan [istrinya]. Ayat itu menjelaskan bahwa setiap peran mengisi fungsinya masing-masing.

Friday Readers, seorang pemimpin, tak akan berarti jika tak ada pengikut. Begitu juga sebaliknya. Dan jika sadar bahwa peran kita adalah sebagai pelengkap, apatah kita masih akan menyombongkan diri punya peran yang lebih sehingga berhak menindas yang lainnya? Semoga bermanfaat dan semoga kita termasuk kaum yang berfikir.

Wa Billâhi taufiq wal hidâyah.
Wassalâmu’alaikum wa Rahmatullâh wa barakâtuh.
Aqîmus shalâta wa âtuz zakât,

Hagi Hagoromo
hagi@alifmagz.com