Anak, Sumber Inspirasi Bisnis Bunda

Posted on Posted in Unduh Alif Magazine

ikhtiar_6_ed22Karena terbiasa menemani anak-anaknya bermain, timbullah ide Yulina Setianingsih [34] untuk membuat mainan bagi mereka. Ternyata bukan hanya si kecil yang senang dengan kreasi sang bunda. Mainan buatan mantan wartawan ini justru laku di pasaran.

Perasaan bersalah Yulina atas kepergian putri pertamanya, Malva Kayla, yang meninggal saat usia 2 bulan karena memiliki kelainan jantung membuat ibu muda ini trauma. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah portal berita memang sangat menyita waktu, tenaga, dan konsentrasi. Hal ini membuatnya langsung memutuskan untuk berhenti bekerja, saat ia tahu dirinya sedang mengandung anak kedua, Diko [6].

Yulina tetap pada keputusannya untuk menjadi ibu rumahtangga demi merawat Diko. Namun, karena terbiasa dengan kesibukan yang sangat padat sebagai wartawan, ia mencoba melakukan berbagai kesibukan di rumah. Di antaranya menulis cerpen dan membuat benda-benda cenderamata pernikahan untuk dijual. Bisnis itu akhirnya ditinggalkannya, karena Yulina merasa tidak bisa bersaing dengan harga yang diberikan perajin suvenir dari Pasar Jatinegara yang sangat rendah.

Sistem Keagenan
Mulailah ia mencari-cari peluang bisnis yang lain. Kebetulan saat itu ia iseng-iseng membuat sebuah mainan anak dari kain flanel sisa. Mainan tersebut berbentuk playboard yang gambar-gambarnya dapat dibongkar pasang. Ternyata Diko tampak antusias memainkannya. Dengan dukungan suami, mulailah Yulina membuat bentuk mainan lain. Kali ini dibuatnya buku bayi dengan bahan yang sama dengan modal awal Rp 50.000,- hasil dari membuat cerpen di sebuah media. Ia mencoba menawarkan produk yang hanya dibuatnya sebanyak sepuluh buah tersebut ke sebuah milis yang ditujukan untuk orangtua muda.ikhtiar_5_ed22

Tak disangka, sambutannya sungguh luar biasa. Dalam sehari, kesepuluh mainan tersebut habis terjual. Kian lama kian banyak orang yang memesan mainan buatannya. Dengan makin banyaknya pesanan, ia menjadikan buah hatinya sebagai parameter sukses tidaknya produk yang dihasilkannya. “Jadi kalau membuat mainan, harus saya uji cobakan ke anak. Kalau anak saya kelihatan senang, saya akan meneruskan membuatnya. Tapi kalau anak saya tidak suka, ya saya hentikan,” ucap istri Ade Subagio ini.

Selain pesanan dari para ibu muda yang membutuhkan mainan anak edukatif, beberapa lembaga pendidikan anak pra-sekolah juga menghubunginya untuk memesan sejumlah mainan. Kebutuhan konsumen pun berkembang. Para pelanggannya menanyakan adanya mainan edukatif berbahan kayu.

“Dari flanel pindah ke kayu itu sulit. Apalagi saya punya keterbatasan dana. Saya tidak mampu membuat bengkel kayu. Solusinya kami cari bengkel yang menerima pesanan untuk kerja sama. Jadi idenya dari kami, mereka yang membuatkan,” jelas lulusan IKIP Jakarta [kini UNJ-Red] jurusan Teknologi Pendidikan ini.

Untuk menunjang bisnisnya yang diberi nama seperti nama anak pertamanya yang meningal, Malva Kayla, ia membuat sebuah situs di internet untuk memasarkan produk-produknya. Upayanya berhasil. Tiap hari ada saja yang menanyakan produknya. Namun, tak semua pelanggan akrab dengan media internet. Hal ini kemudian membuatnya merasa perlu memiliki toko sendiri. Maka dibukanya satu toko di daerah Pusat Grosir Cililitan yang memudahkan pelanggan membeli langsung di tempat. Pelanggannya hampir dari seluruh propinsi di Indonesia. Hal ini mendorongnya untuk makin kreatif mengembangkan ide-idenya dalam membuat mainan. Hingga kini ia berhasil membuat sekitar 80 jenis mainan, dengan pesanan tiap jenis mainan mencapai 80 buah per bulan. Yulina pun merasa perlu mengembangkan karyawan hingga berjumlah 6 orang di bagian produksi, serta seorang penjaga toko. Semua karyawannya merupakan kumpulan ibu-ibu dan anggota Karang Taruna di sekitar rumahnya.

“Saya membuka sistem keagenan. Jadi banyak yang memesan untuk dijual kembali di daerahnya masing-masing. Tiap orang yang berminat menjadi agen akan saya beri diskon,” ucapnya sambil menjelaskan jumlah agen yang aktif sekira 30 orang. “Kalau lagi banyak pesanan, satu RT bisa saya kerahkan,” lanjutnya sambil tertawa.

ikhtiar_4_ed22Tetap Utamakan Anak
Meski usahanya sudah demikian maju, namun bagi Yulina semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kehadiran buah hatinya. Apalagi anak kedua mereka, Nuha [1,5], sangat aktif, sehingga membuat ibu yang tampak selalu ceria ini kewalahan. “Sudah tiga tahun ini saya tidur hanya 3 – 4 jam sehari. Kalau siang main dengan anak-anak, setelah anak tidur baru berani bekerja. Saya tidak mau mengambil hak anak atas kehadiran saya,” tegasnya.
Hal itulah yang membuatnya meminta tolong sang suami untuk membantu usahanya tersebut. Sang suami yang tadinya sudah bekerja akhirnya mau membantu membesarkan usaha bersama-sama, “Akhirnya kami berbagi tugas. Dia mengurusi manajemen dan keuangan, sedangkan saya bagian produksi dan desain,” ucap ibu yang peduli terhadap keamanan produknya bagi anak-anak ini.

Menghadapi banyaknya pesanan yang bahkan belum semua bisa dipenuhinya, Yulina merasa bersyukur. “Semuanya berkat Allah dan kerja keras selama tiga tahun,” ucapnya sambil tersenyum. Menghadapi para plagiat, ibu cantik ini pun tidak merasa cemas. Menurutnya rezeki tiap orang sudah ada yang mengaturnya. Bahkan, ia dengan tangan terbuka menerima orang yang mau belajar cara membuat produk buatannya. Ia sudah cukup senang karena sudah dapat membantu para ibu di sekitar rumahnya. “Ya kami bisa sama-sama bekerja sambil momong anak… lumayanlah!” ucapnya menutup pembicaraan. « [esthi]

Box
Tips berusaha mainan ala Yulina:

  • Jangan hanya mengutamakan faktor keuntungan bisnis semata. Yang diutamakan haruslah keamanan dan unsur edukatifnya. Misalnya produk kayu yang dipakai adalah produk non-toxic.
  • Selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas produk. Misalnya mainan yang awalnya memakai bahan flanel, kini diganti dengan nelex karena lebih aman dan lebih baik.
  • Berhati-hati akan dampak mainan pada anak. Misalnya Yulina tidak ingin anak-anak yang memainkan mainannya salah persepsi akan gambar yang dibuatnya, karenanya setiap mainan selalu diuji cobakan pada anaknya.
  • Yakin bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, asal mau berusaha dan memiliki keinginan untuk memperbaikinya.
  • Tidak memiliki dana atau tempat untuk usaha bukan masalah. Yang penting niat dan kerja keras maka semua akan dapat diatasi.

Box
Malva Kayla
www.malvakayla.com
Tel 0817-6698154
Showroom:
Pusat Grosir Cililitan [PGC] Lt. 3A No. 47 [dekat escalator kuning]
Tel 021-32435253