Eddie Karsito, Berkesenian untuk Mengaji

Posted on Posted in Unduh Alif Magazine

sila_eddie2_ed45Juru parkir, pelayan restoran, kuli bangunan, sopir angkutan umum, dan pembantu rumahtangga adalah profesi yang sempat mewarnai kehidupan Eddie Karsito sebelum menjadi aktor film seperti sekarang ini. Lelaki yang berprofesi juga sebagai wartawan ini pernah menjalani hidup keras di Jakarta, tapi akhirnya membuahkan hasil, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang, khususnya bagi kaum marjinal.

Perjalanan hidup Eddie hingga menjadi seperti sekarang ini melalui proses panjang dan berliku. Eddie terlahir dari keluarga dari asal Magetan, Jawa Timur, yang merantau ke Asahan, Sumatera Utara. Di Asahan inilah, Eddie lahir dan dibesarkan. Sejak kecil, Eddie sudah mencintai dunia teater. Ia mengaku belajar teater dari alam sekitarnya. Usia 10 tahun dia terbiasa berjalan kaki sejauh 16 km setiap hari dan keluar masuk hutan, juga sempat menjadi buruh di perkebunan karet dan kelapa sawit. Kemudian, semasa remaja, Eddie mengenyam Pendidikan Guru Agama [PGA], Cokroaminoto. Selepas pulang sekolah, Eddie pun bekerja paruh waktu mempromosikan film yang akan diputar di sebuah bioskop di daerahnya. “Saya suka seni sejak kecil. Orang kesenian tidak mengenal ruang dan waktu. Sampai ngobrol pun itu juga berkesenian. Allah mencintai keindahan dan Allah Sang Keindahan itu sendiri. Jadi masuk wilayah mana pun, saya tak lepas dari kesenian,” kata Eddie, saat ditemui di kediamannya di kawasan, Kranggan, Bekasi.

Untuk terus mengembangkan berkeseniannya, Eddie pun merantau ke Jakarta bersama teman-temannya. Di kota besar inilah Eddie ditempa kehidupan keras. Eddie berjuang banting tulang untuk mencukupi hidupnya. Juru parkir, pelayan restoran, kuli bangunan, supir angkutan umum, dan pembantu rumahtangga adalah beberapa profesi yang sudah dijalaninya agar bisa bertahan di Jakarta. Di kota inilah Eddie aktif berorganisasi, termasuk di organisasi Islam. Lantas, dia mencoba aktif di pers. Karier jurnalistiknya dimulai pada tahun 1988 sebagai reporter harian Jakarta. Kemudian, Eddie mengalami intensitas jurnalistik pers Islam di Bandung sebagai wartawan tabloid Salam dan Hikmah. Karena dua media Islam ini tak aktif lagi, Eddie pun dialihtugaskan sebagai wartawan hiburan di harian Gala, yang kini lebih dikenal dengan nama suratkabar Galamedia. Di suratkabar inilah Edi dipercaya sebagai wartawan hiburan.

Perpindahan dari media Islam ke media dengan bidang liputan hiburan, ternyata tak membuat Eddie rikuh. Dia mengaku tidak masalah ketika ditugaskan meliput berita hiburan. “Nggak ada masalah karena saya ingin menebar rahmat. Berpikir soal Islam saya agak ekstrim. Banyak orang yang mengaku Islam, tapi nggak islami. Jadi, menurut saya, lebih baik pada perilakunya, bukan pada simbol-simbol atau merk,” ujar Eddie lagi.

Berbicara soal kehidupan Islam, memang menjadi santapan spiritual Eddie hampir setiap hari. Kebetulan rumahnya pun sering dipakai berkumpul dan berkegiatan bagi siapa saja, terutama membina orang-orang yang tidak mampu dalam berbagai bidang, seperti seni peran, desain jurnalistik, dan fotografi. Kegiatan ini berinduk pada yayasan yang didirikannya bernama Yayasan Humaniora.

Di rumah yang menyerupai sanggar ini, Eddie mencoba berdakwah lewat kesenian. Dia mengaku ingin menjalani Islam secara subtansial, buka sekedar simbol. “Saya juga kadang prihatin melihat saudara-saudara kita memiliki ghirah Islam tinggi, tapi implementasinya kurang menyentuh. Di Indonesia misalnya, yang penduduknya mayoritas Muslim. Kalau kita menjalankan prinsip-prinsip Islam yang sesungguhnya, mungkin nggak ada orang terlantar di Indonesia,” jelas aktor terpuji dalam Festival Film Bandung 2008 ini.

Eddie mengatakan demikian karena menurutnya dia sendiri tidak mau terjebak hanya pada rutinitas ritual tapi melupakan hal-hal yang penting. Oleh karena itulah, dalam berkeseniannya, Eddie selalu berpegang pada konsep rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai aktor sekaligus wartawan, Eddie mengaku pernah dikomentari oleh teman-temannya bahwa dengan dua profesi tersebut, hidupnya kaya secara ekonomi. Belum lagi dia pun aktif di sanggar dan workshop tentang jurnalistik dan akting. Ini tak mengherankan karena Eddie merasa seluruh hidupnya adalah berkesenian, dan bukan karena uang semata. Eddie memegang prinsip, “Saya ingin melayani, tidak untuk dilayani.” Makanya, Eddie mengaku siap menjalani profesi wartawan dan aktor seumur hidup kalau ada penerbitan pers dan produksi film menawarkan kepada dirinya seperti itu. “Karena dua profesi itu mendukung profesi saya sesungguhnya, yakni guru ngaji, hehehe. Saya pun nggak memaknai pemaknaan ngaji secara sempit, bukan ngaji hanya secara qira’at atau hanya baca al-Qur’an. Maksud saya ngaji dalam pengertian luas. Nah, sanggar inilah menjadi media pengajian itu, jadi mengaji semuanya tapi selalu kontekstual dengan nilai-nilai yang saya yakini, yaitu al-Qur’an dan hadits,” tutur Eddie.

Tawakkal Ditinggal Wafat Istri Tercinta
Melihat peran-perannya di sejumlah di film dan sinetron, terkadang penampilan Eddie terlihat galak. Dengan rambut panjang dan tubuh agak gempal, mungkin orang mengira Eddie adalah seorang yang sering bersikap keras.
Namun, kenyataanya tidak demikian. Eddie adalah lelaki penyayang dan pencinta siapa saja. Terutama pada keluarganya. Dalam kehidupan Eddie, ada dua ‘bidadari’ yang sangat disayanginya, pertama, Tan Len Nio [Leny Susanti], dialah istri Eddie, seorang Muslimah Tionghoa yang dinikahinya 16 tahun lalu, yang kedua adalah Lee Sandie Tjin Kwang, putri semata wayangnya yang kini beranjak remaja. Namun, sekira 4 bulan lalu, takdir Allah menguji Eddie. Istrinya meninggal karena kanker.

Eddie mengaku sangat sedih. Secara psikologis, dia merasakan betul telah kehilangan seorang perempuan yang dicintainya itu. “Bohong kalau saya nggak merasa kehilangan. Waktu itu mikirnya, kok malah istri saya yang duluan. Padahal saya yang harusnya menyiapkan duluan. Biasanya kami di kamar berdua. Sekarang saja merasa ditungguin. Kalau begini, saya terkadang teringat Rasulullah saat ditinggal Khadijah. Bagi saya, perjalanan dengan istri adalah bab tersendiri. Saya menerimanya sebagai jalan hidup yang harus dilalui,” kenang Edie, dengan tuturan tenang sekaligus menutup bincang. « [yogira] – foto: dok pribadi

Boks
Biodata singkat
Nama Eddie Karsito
Lahir Kisaran, Asahan, Sumatera Utara, 24 Nopember 1961
Pendidikan Formal Pendidikan Guru Agama [PGA] Cokroaminoto di Kisaran Asahan Sumatera Utara
Pendidikan Non-Formal Insight Studies and Development Institute Yogyakarta
Profesi Wartawan, aktor, pengajar, pekerja sosial, dan Ketua Yayasan Humaniora, Bekasi

Penghargaan

  • Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung [FFB] 2008 dalam film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda sebagai Lamhot Simamora
  • Nominator Pemeran Pembantu Pria Festival Film Jakarta [FFJ] 2007 dalam film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda sebagai Lamhot Simamora
  • Nominator Pemeran Pembantu Pria Festival Film Indonesia [FFI] 2006
  • Kategori Film Televisi lewat [FTV] Ujang Pantry 2 [ANTV]
  • Juara 1 Festival Film Independen Indonesia [FFII SCTV] Tahun 2003 dalam film Di Suatu Siang di Sebuah Perkampungan Kali Mati Karet Bivak

Filmografi
Biarkan Bintang Menari, Vina Bilang Cinta, Mengejar Mas Mas, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda, Wakil Rakyat, dll

Sinetron & FTV
Penjara Angan-angan, Insyaf, Preman Insyaf, Iman, Hidayah, Legenda, Cucu Menantu, Ujang Pantry, Calon Wakil Rakyat, dll

Karya Buku
Dasar-Dasar Teater [1986], Pembantaian Muslim Bosnia [1992], Profil Pengusaha Kisah Sukses Agoes Harry Soebagyo [1995], Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi” [2008]

Pengalaman Organisasi

  • Anggota Persatuan Wartawan Indonesia [PWI] Jakarta Raya
  • Anggota Persatuan Artis Film Indonesia [PARFI] Jakarta
  • Ketua Bidang Pendidikan Yayasan SUAKA BUDAYA
  • Pendiri dan Ketua Umum Yayasan HUMANIORA
  • Ketua Umum Forum Komunikasi dan Informasi Pemuda Islam [FKIPI]
  • Pendiri Himpunan Penulis Kreatif
  • Pendiri sanggar anak-anak “Teater Cabra”