<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALiF Magazine</title>
	<atom:link href="http://alifmagz.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullillah It&#039;s Friday</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 02:39:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Quote 11 Maret</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/11/quote-11-maret/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/11/quote-11-maret/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[memindahkan]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7246</guid>
		<description><![CDATA[Memindahkan batu besar jauh lebih mudah dibandingkan dengan memberikan pengertian kepada seseorang yang tidak mau mengerti. « [Imam Ali]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memindahkan batu besar jauh lebih mudah dibandingkan dengan memberikan pengertian kepada seseorang yang tidak mau mengerti. «<strong> [Imam Ali]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/11/quote-11-maret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mas Kawin Burung Hantu</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/11/mas-kawin-burung-hantu/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/11/mas-kawin-burung-hantu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Harian]]></category>
		<category><![CDATA[baghdad]]></category>
		<category><![CDATA[burung hantu]]></category>
		<category><![CDATA[mas kawin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7544</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah cerita rakyat disebutkan bahwa seekor burung hantu dari Basra meminang salah seekor burung hantu perempuan dari Mosul untuk disandingkan dengan putranya. Sesuai dengan tradisi, sang burung hantu dari Basra ini dimintakan mas kawin untuk calon menantu yang diinginkannya berupa seratus kota yang telah hancur. Sebagai burung hantu dari Basra yang mengetahui bahwa calon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah cerita rakyat disebutkan bahwa seekor burung hantu dari Basra meminang salah seekor burung hantu perempuan dari Mosul untuk disandingkan dengan putranya. Sesuai dengan tradisi, sang burung hantu dari Basra ini dimintakan mas kawin untuk calon menantu yang diinginkannya berupa seratus kota yang telah hancur. Sebagai burung hantu dari Basra yang mengetahui bahwa calon pengantin perempuan adalah sesuatu yang berharga, dia terpaksa menyetujui permintaan yang berat ini. Namun, dia meminta burung hantu dari Mosul untuk menunggu sampai tiba saatnya penguasa Basra yang baru tiba di Mosul tinggal sebentar di Mosul. Pada saat itulah dia berharap mampu memenuhi permintaan mas kawin itu secara utuh.</p>
<p>[Burung hantu dalam tradisi masyarakat Arab kuno selalu dijadikan sebagai pertanda buruk, sebab ia tinggal di puing-puing bangunan. Basra dan Mosul adalah dua kota besar di Irak setelah Baghdad.] « <strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/11/mas-kawin-burung-hantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa ash-Shamad [Yang Maha Dibutuhkan]</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/11/doa-ash-shamad-yang-maha-dibutuhkan/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/11/doa-ash-shamad-yang-maha-dibutuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa Harian]]></category>
		<category><![CDATA[ash-shamad]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7457</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah, ya Ahad, ya Shamad, kepada-Mu bertumpu segala cita, di sisi-Mu berakhir segala doa dan pinta, maka kabulkanlah semua cita dan perkenankan segala pinta. Ya Allah, anugerhkanlah kepada kami bagian yang banyak dari anugerah-Mu yang melimpah. Ya Allah, apa yang tidak terjangkau oleh pengetahuanku, apa yang lemah dilakukan oleh dayaku, apa yang tidak dicapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Allah, ya <em>Ahad</em>, ya <em>Shamad</em>, kepada-Mu bertumpu segala cita, di sisi-Mu berakhir segala doa dan pinta, maka kabulkanlah semua cita dan perkenankan segala pinta. Ya Allah, anugerhkanlah kepada kami bagian yang banyak dari anugerah-Mu yang melimpah. Ya Allah, apa yang tidak terjangkau oleh pengetahuanku, apa yang lemah dilakukan oleh dayaku, apa yang tidak dicapai oleh niatku dan citaku, yang merupakan kebajikan yang Engkau janjikan kepada salah satu makhluk-Mu atau kebajikan yang Engkau anugerahkan kepada salah seorang hama-Mu, maka ya Allah, kami pun mengarahkan harapan kami kepada-Mu untuk kebajikan itu, dan ya Allah, arahkanlah langkah kami guna meraihnya, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, perlakukanlah kami di dunia dan di akhirat, sesuai dengan sifat-sifat-Mu yang agung, jangan perlakukan kami &#8211;wahai Tuhan kami&#8211; sesuai dengan sifat dan kelakuan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyantun, Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, Maha Lemah Lembut lagi Maha Pengasih. Dan semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan sahabat beliau. <em>Âmîn</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/11/doa-ash-shamad-yang-maha-dibutuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengikuti Komunitas</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/11/mengikuti-komunitas/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/11/mengikuti-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7534</guid>
		<description><![CDATA[T: Apakah menyukai produk barang dan jasa umat non-Muslim dan mengikuti komunitas yang bukan keagamaan umat non-Muslim, seperti komunitas hobby, club, sosial, dan lain-lain berarti kita menjadi golongan mereka baik di dunia dan di akhirat?
Fulan – via surel
A. Wahib Mu&#8217;thi: 
Amal manusia yang diterima Allah di akhirat tergantung niatnya, bukan dari cara dan hasilnya. Amal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7535" style="margin: 5px 7px;" title="now_komunitas_ed48" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/now_komunitas_ed48-150x150.jpg" alt="now_komunitas_ed48" width="150" height="150" />T: </strong>Apakah menyukai produk barang dan jasa umat non-Muslim dan mengikuti komunitas yang bukan keagamaan umat non-Muslim, seperti komunitas <em>hobby</em>, <em>club</em>, sosial, dan lain-lain berarti kita menjadi golongan mereka baik di dunia dan di akhirat?<br />
<strong>Fulan – via surel</strong></p>
<p><strong>A. Wahib Mu&#8217;thi: </strong><br />
Amal manusia yang diterima Allah di akhirat tergantung niatnya, bukan dari cara dan hasilnya. Amal manusia pun dilihat dari nilai manfaat dan <em>mudharat</em>-nya perbuatan seseorang, baik untuk dirinya sendiri, maupun orang lain. Jika Anda berniat memakai produk dan jasa umat non-Muslim untuk tujuan yang baik dan manfaatnya lebih banyak dari <em>mudharat</em>-nya, mengapa tidak? Asalkan tujuannya tidak diharamkan oleh agama. Demikian juga dengan mengikuti komunitas umat non-Muslim. Anda diperbolehkan mengikutinya asalkan komunitas tersebut tidak bersifat ritual dan tidak bertujuan untuk mengubah akidah Anda. Namun, alangkah baiknya, sebelum mengikuti komunitas tersebut harus dipikirkan dulu, kualitas manfaatnya atau <em>mudharat-</em>nya. Kalau manfaatnya berkualitas untuk pengembangan diri dan tidak menyalahi syariat Islam, kegiatan tersebut diperbolehkan. Sekali lagi, di akhirat nanti, Allah menggolongkan manusia sesuai amal dan perbuatannya secara individual ketika hidup di dunia, bukan karena kelompok atau komunitasnya. Demikianlah, <em>Wallâhu a’lam</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/11/mengikuti-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru &amp; Pendidikan Ideal Menurut Islam</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/11/guru-pendidikan-ideal-menurut-islam/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/11/guru-pendidikan-ideal-menurut-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7605</guid>
		<description><![CDATA[Mulai 22 Maret ini, Ujian Nasional [UN] digelar. Para guru pun berjuang ekstra keras memberikan bimbingan dan latihan kepada anak didiknya agar bisa lulus di UN nanti. Namun, ironisnya, baru-baru ini nasib sebagian guru terombang-ambing. Di satu sisi mereka dituntut harus kian berkualitas. Di sisi lain, hidup mereka kurang sejahtera.
Ketua Pusat Ikatan Guru Indonesia [IGI], [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-7606" style="margin: 5px 7px;" title="utama_guru_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/utama_guru_ed49.jpg" alt="utama_guru_ed49" width="300" height="262" /><strong>Mulai 22 Maret ini, Ujian Nasional [UN] digelar. Para guru pun berjuang ekstra keras memberikan bimbingan dan latihan kepada anak didiknya agar bisa lulus di UN nanti. Namun, ironisnya, baru-baru ini nasib sebagian guru terombang-ambing. Di satu sisi mereka dituntut harus kian berkualitas. Di sisi lain, hidup mereka kurang sejahtera.</strong></p>
<p>Ketua Pusat Ikatan Guru Indonesia [IGI], Satria Dharma mengungkapkan data yang cukup mengejutkan tentang kualitas guru. Seperti yang dilansir <em>Antara News </em>[8 Maret 2010], Satria menyebutkan, sekira 1,3 juta atau 50 persen dari 2,7 juta guru di tanah air belum layak mengajar. Sebab mereka kurang memenuhi standar kualifikasi, maupun sertifikasi yang telah ditentukan pemerintah. Satria menambahkan, belum terpenuhinya kualifikasi guru ini tidak hanya di daerah pedalaman atau daerah terpencil, tetapi juga di perkotaan.</p>
<p>Kondisi tersebut berbenang merah dengan status guru yang masih belum jelas nasibnya, baik dilihat dari sertifikasi CPNS [Calon Pegawai Negeri Sipil], maupun kesejahteraan hidupnya. Maklum, di Indonesia masih banyak guru honorer dan guru bantu yang penghasilannya sangat minim. Imbasnya, mereka merasa terhambat dalam meningkatkan kualitas pengajaran bagi peserta didiknya. Terkadang loyalitas mereka terhadap dunia pendidikan terpaksa dinomorduakan karena mereka harus mencari penghasilan lain di luar gaji guru. Lantas, siapakah yang salah jika penyelenggaraan UN nanti tidak sesukses yang diharapkan, seperti pada tahun sebelumnya?</p>
<p>Jika ada kegagalan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, selalu saja ada yang dikambinghitamkan. Kalau pemerintah yang dikambinghitamkan, biasanya menyangkut regulasi yang tidak berpihak kepada guru. Sebaliknya, jika guru yang dikambinghitamkan, biasanya menyangkut dedikasi, loyalitas, dan moral guru yang bersangkutan.</p>
<p>Dalam kaitan dengan persoalan ini layak kita bicarakan bagaimanakah kita, sebagai Muslim, menyikapi dunia pendidikan agar sesuai dengan harapan dan sesuai dengan nilai-nilai kehidupan Islam?</p>
<p>Dalam buku <em>Sistem Pendidikan menurut al-Ghazali</em>, karangan Fathiyah Hasan Sulaiman, ada kurikulum pendidikan menurut pandangan al-Ghazali. Cendekiawan Muslim ini menyusun kurikulum pendidikan yang diatur berdasarkan arti penting yang dimiliki masing-masing ilmu, seperti berikut ini:</p>
<p><strong> Urutan Pertama: </strong>al-Qur’an al-Karim, ilmu-ilmu Agama seperti fikih, sunnah rasul, tafsir, tauhid, dan akhlak. <strong>Urutan Kedua: </strong>ilmu-ilmu Bahasa [Bahasa Arab], ilmu Nahwu serta artikulasi huruf dan lafaz. Ilmu inilah yang melayani ilmu-ilmu agama. <strong>Urutan Ketiga: </strong>ilmu-ilmu yang termasuk kategori wajib kifayah, yaitu ilmu Kedokteran, ilmu Hitung, dan berbagai keahlian, termasuk ilmu Fisika. <strong>Urutan Keempat: </strong>ilmu-ilmu Budaya, seperti syair, sastra, sejarah, serta sebagian cabang Filsafat, seperti Logika dan Seni.</p>
<p>Pengurutan kurikulum dari al-Ghazali ini jelas memperlihatkan bahwa setiap Muslim harus menempatkan ilmu agama sebagai skala prioritas. Pasalnya, ilmu Agama adalah bekal seorang Muslim agar berakhlak lebih baik ketika mendalami ilmu-ilmu yang bersifat duniawi. Sebenarnya kurikulum al-Ghazali ini tidak bersifat kaku dan mengikat. Apalagi kalau kurikulum tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebagai Muslim, kita bisa menerapkan kurikulum al-Ghazali ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga. Manfaatnya adalah, anak-anak kita yang menempuh pendidikan di lembaga formal, setidaknya punya bekal akhlak sekaligus rasa kedekatan dengan Allah Sang Maha Pelindung, khususnya ketika mereka menghadapi masa-masa sulit dalam pembelajaran di sekolah.</p>
<p>Selain berbicara tentang kurikulum pendidikan, al-Ghazali pun membahas hubungan guru dengan muridnya. Menurut al-Ghazali, pendidikan bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan, mengejar status dan pangkat; untuk tampil sebagai orang yang berilmu; tenggelam dalam persaingan perselisihan dan pertengkaran; tenggelam dalam usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan. Bagi al-Ghazali semua itu tidak penting sama sekali. Yang paling penting adalah bagaimana guru menjadi teladan yang baik, kebaikan hati, dan sikap toleran. Sebab guru harus menunjukkan jalan yang dapat mendekatkan muridnya kepada Allah.</p>
<p>Sebagai Muslim, seharusnya kita memperhatikan berbagai masalah yang menimpa dunia pendidikan kita. Masalah kualitas guru, kurang maksimalnya sistem pendidikan nasional, biaya sekolah mahal, dan kondisi anak didik di sekolah, bukanlah ancaman serius jika kita membiasakan menerapkan pendidikan berdasarkan ajaran Islam.</p>
<p>“<em>Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan</em>” [QS al-Mujâdilah [58]: 11]. «<strong> [yogira] – foto: sxc</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/11/guru-pendidikan-ideal-menurut-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quote 10 Maret</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/10/quote-10-maret/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/10/quote-10-maret/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 22:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>
		<category><![CDATA[quote]]></category>
		<category><![CDATA[tamparan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7244</guid>
		<description><![CDATA[Tamparan itu memang keras, akan tetapi penyesalan jauh lebih keras dari itu. « [Hikmah]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tamparan itu memang keras, akan tetapi penyesalan jauh lebih keras dari itu. «<strong> [Hikmah]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/10/quote-10-maret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa al-Qâdir wa al-Muqtadir [Yang Maha Kuasa]</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/10/doa-al-qadir-wa-al-muqtadir-yang-maha-kuasa/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/10/doa-al-qadir-wa-al-muqtadir-yang-maha-kuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 22:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa Harian]]></category>
		<category><![CDATA[al-muqtadir]]></category>
		<category><![CDATA[al-qâdir]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7460</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah, ya Qâdir, ya Muqtadir, anugerahilah kami kemampuan mengatasi diri kami sendiri dan persaksikanlah kepada kami limpahan anugerah di atas hidangan-hidangan kelembutan-Mu. Lepaskan dahaga kami dengan anggur suci yang dikandung oleh lâ haula wa lâ quwwata illâ Billâh [tiada daya untuk meraih manfaat dan tiada kuasa untuk menampik mudharat kecuali bersumber dari Allah Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Allah, ya <em>Qâdir</em>, ya <em>Muqtadir</em>, anugerahilah kami kemampuan mengatasi diri kami sendiri dan persaksikanlah kepada kami limpahan anugerah di atas hidangan-hidangan kelembutan-Mu. Lepaskan dahaga kami dengan anggur suci yang dikandung oleh <em>lâ haula wa lâ quwwata illâ Billâh </em>[tiada daya untuk meraih manfaat dan tiada kuasa untuk menampik mudharat kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung]. Engkau ya Allah, Pembela orang-orang Mukmin, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan sahabat beliau. <em>Âmîn</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/10/doa-al-qadir-wa-al-muqtadir-yang-maha-kuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghalau Budaya Instan</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/10/menghalau-budaya-instan/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/10/menghalau-budaya-instan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 22:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[instan]]></category>
		<category><![CDATA[kemudahan]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7602</guid>
		<description><![CDATA[“Journey thousand miles must begin with a single step”, begitu kata pepatah yang menyiratkan bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semua harus dimulai dengan proses, walaupun proses yang sangat sederhana sekalipun. Seperti sebuah langkah. Sayangnya yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya. Semua menginginkan hal-hal yang instan, tanpa memedulikan proses.
Ingin makan, ada makanan instan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-7603" style="margin: 5px 7px;" title="utama_instan_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/utama_instan_ed49.jpg" alt="utama_instan_ed49" width="300" height="225" />“<em>Journey thousand miles must begin with a single step</em>”, begitu kata pepatah yang menyiratkan bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semua harus dimulai dengan proses, walaupun proses yang sangat sederhana sekalipun. Seperti sebuah langkah. Sayangnya yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya. Semua menginginkan hal-hal yang instan, tanpa memedulikan proses.</p>
<p>Ingin makan, ada makanan instan yang tinggal diseduh. Ingin bertemu orang tinggal buka MMS. Teknologi memang membantu manusia memangkas proses yang terlalu panjang. Jika masih terbatas pada sesuatu yang dipakai atau dikonsumsi untuk diri sendiri, masih dapat ditoleransi. Risiko dari efek menggunakan teknologi untuk memangkas proses pada kehidupan sehari-hari ditanggung sendiri. Namun jika menggunakan ilmu &#8216;instan&#8217; untuk mencapai sukses, ketika cara-cara instan tersebut justru merugikan diri sendiri maupun orang lain, maka hal ini perlu dipertanyakan.<br />
Ingin sukses dalam ujian, menggunakan jalan pintas lewat mencontek. Ingin sukses dalam membuat skripsi, jadilah plagiator. Ingin cepat kaya, mendatangi dukun pengganda uang atau mengikuti ilmu hitam. Ingin sukses dalam hidup, melakukan berbagai jalan pintas yang tak terpuji dengan korupsi, atau menikam rekan bisnis dari belakang. Hidup bukan diisi dengan ikhtiar dan kerja keras, namun dijejali angan-angan bagaimana mendapatkan sesuatu dengan mudah.</p>
<p>Saat ini orang cenderung mementingkan hasil akhir yang cepat, dibanding dengan penghargaan terhadap kelangsungan sebuah proses. Padahal apapun yang terjadi di dunia ini harus melalui suatu proses terlebih dahulu. Lihat saja bagaimana proses ulat menjadi kupu-kupu, harus melewati suatu proses metamorfosa yang panjang. Manusia pun harus melalui suatu proses pertemuan sel telur dan sperma yang menjadi embrio, kemudian janin, lalu menjadi bayi yang lama-kelamaan tumbuh menjadi manusia dewasa.</p>
<p>Pentingnya melampaui suatu proses juga disiratkan pada kisah-kisah Nabi Muhammad Saw. Simak saja bagaimana Rasulullah harus berkali-kali mengangkat senjata memerangi kaum musyrik Quraisy dan orang-orang Yahudi yang bersikeras meneruskan kejahatan mereka. Bahkan Nabi Saw juga harus mengalami kekalahan, misalnya pada Perang Uhud. Padahal bukankah Rasulullah merupakan seorang Nabi utusan Allah swt. Jika Allah berkehendak, pasti dengan cepat dipermudah semua urusan Rasulullah.</p>
<p>Namun bahkan seorang Nabi pun harus melampaui suatu proses yang sangat sulit untuk dapat mempelajari berbagai hikmah yang terkandung secara rahasia di dalam setiap peristiwa. Kesabaran dan tawakalnya Nabi Muhammad Saw saat menjalani berbagai proses dalam perjalanan kenabiannya yang kemudian menjadi teladan bagi umatnya. Contoh-contoh tersebut bagai buku terbuka yang dengan gamblang memberi pesan bahwa sukses bukanlah suatu hasil akhir, namun merupakan suatu proses yang terus menerus berjalan tanpa henti. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesabaran dan tetap tawakal dalam berikhtiar saat menjalani setiap proses di dalam kehidupan, <em>Âmîn</em>. « <strong>[esthi] – foto: sxc</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/10/menghalau-budaya-instan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurban</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/10/kurban/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/10/kurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 22:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[atas nama]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7531</guid>
		<description><![CDATA[T: Apa hukumnya jika saya berkurban atas nama orangtua ketika masih hidup, apakah sah? Bagaimana jika mereka sudah meninggal, apakah saya boleh berkurban kambing dengan atas nama mereka? Terimakasih.
Dini – via surel
A. Wahib Mu&#8217;thi: 
Berkurban atas nama orangtua, begitu juga orang lain yang masih hidup, diperbolehkan dalam Islam. Ada sebuah hadits yang menguatkan perihal kurban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7532" style="margin: 5px 7px;" title="now_kurban_ed48" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/now_kurban_ed48-150x150.jpg" alt="now_kurban_ed48" width="150" height="150" />T: </strong>Apa hukumnya jika saya berkurban atas nama orangtua ketika masih hidup, apakah sah? Bagaimana jika mereka sudah meninggal, apakah saya boleh berkurban kambing dengan atas nama mereka? Terimakasih.<br />
<strong>Dini – via surel</strong></p>
<p><strong>A. Wahib Mu&#8217;thi: </strong><br />
Berkurban atas nama orangtua, begitu juga orang lain yang masih hidup, diperbolehkan dalam Islam. Ada sebuah hadits yang menguatkan perihal kurban ini, yang diriwayatkan Abu Rafi; ketika melihat Rasulullah Saw membeli dua ekor domba dan salah satunya siap disembelih. Beliau mengucapkan: “&#8217;<em>Ya Allah ini untuk seluruh umatku yang telah bersaksi bahwa Engkau Maha Esa dan bersaksi bahwa aku Saw telah menyampaikan</em> [<em>risalah-Mu</em>].&#8217; Setelah itu beliau membawa domba yang lainnya dan memotongnya sendiri sambil mengatakan, &#8216;<em>Ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad</em>.&#8217; Seluruh orang miskin makan dari kedua domba itu, begitu juga beliau Saw dan keluarganya.” [HR. Ahmad]. Demikianlah, <em>Wallâhu a’lam</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/10/kurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahlul dan Seorang yang Rakus</title>
		<link>http://alifmagz.com/2010/03/10/bahlul-dan-seorang-yang-rakus/</link>
		<comments>http://alifmagz.com/2010/03/10/bahlul-dan-seorang-yang-rakus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 22:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Harian]]></category>
		<category><![CDATA[bahlul]]></category>
		<category><![CDATA[minum]]></category>
		<category><![CDATA[rakus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7541</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah pesta, Bahlul bertemu dengan seorang yang rakus. Ketika sang tuan rumah mengumumkan agar tamunya dipersilakan mencicipi hidangan pesta, si rakus dengan lahapnya menyantap seluruh jenis hidangan pesta. Ketika perutnya sudah kenyang, ia lalu mengisi semua kantong pakaiannya dengan makanan. Bahlul pun menghampiri si rakus ini dengan membawa segelas air. Lalu Bahlul mengisi kantong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah pesta, Bahlul bertemu dengan seorang yang rakus. Ketika sang tuan rumah mengumumkan agar tamunya dipersilakan mencicipi hidangan pesta, si rakus dengan lahapnya menyantap seluruh jenis hidangan pesta. Ketika perutnya sudah kenyang, ia lalu mengisi semua kantong pakaiannya dengan makanan. Bahlul pun menghampiri si rakus ini dengan membawa segelas air. Lalu Bahlul mengisi kantong si rakus yang penuh dengan makanan dengan gelas air yang dibawanya. Ketika ia diprotes oleh si rakus, Bahlul pun menjawab: “Tuan, lihatlah kantongmu sudah makan sedemikian banyak, kini ia sedang kehausan!” «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alifmagz.com/2010/03/10/bahlul-dan-seorang-yang-rakus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->