Bengkel Hati

Posted on Posted in Ikhtiar

“Sebenarnya, yang saya bangun ini adalah bengkel,” kata Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute. Seperti bengkel mobil, tugasnya adalah memperbaiki mobil yang mogok agar bisa jalan kembali. Selain itu, ia juga memberi kesadaran, bahwa ternyata, mobil yang tak bisa jalan tadi adalah mobil balap yang sangat istimewa dan punya potensi yang sangat besar. Setelah bisa jalan, terserah orang yang punya mobil, mau digunakan untuk apa mobil itu.

Bengkel hati ini mulai diperkenalkan sejak tahun 1997. Namun, karena masyarakat masih belum siap dan masih asing dengan apa yang ditawarkannya, sekitar tahun 2000-an ia menghentikan usahanya. Selama empat tahun, ia melakukan pengamatan terhadap perilaku masyarakat. Setelah dinilainya siap, tahun 2004, ia mulai membuka bengkelnya kembali. Banyak orang yang berhasil ditangani di bengkel ini. Tak hanya di dalam negeri saja, ia sudah melakukan ekspansi ke Singapura, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Nepal, dan India.

Semua berawal dari pengalaman pribadinya melakukan pencarian. Yang dicari adalah kesuksesan hidup. Dulu, Nunu–panggilan akrabnya–memaknai sukses itu dengan hidup yang memiliki banyak materi atau punya gelar dan kedudukan yang tinggi. Proses pencarian itu sempat membuatnya depresi. Ada pertentangan batin antara mengejar materi atau terus menjalani proses pencariannya. Jika memilih terus mencari, materi tak segera bisa dikejar. “Depresi saya itu, karena temanteman yang mencari dunia itu sudah jauh meninggalkan saya,” kisah bapak satu anak ini.

Tepat 12 Agustus 1988, ia mendapat pencerahan. Ia menemukan ujung dari kehidupan, yaitu berserah diri dan ikhlas terhadap hidup yang dijalani. Mau hidup seribu tahun siap, mati sekarang pun siap. Siap juga hidup senang maupun susah. Sejak saat itu, ia tak terlalu pusing dengan hidup. Sekarang, sukses baginya adalah kemampuan merasakan pikiran akhir yang membahagiakan.

Kemampuan itu skill atau keterampilan yang bisa dilatih untuk menjadi profesional. Merasakan pikiran akhir yang membahagiakan, bukan yang menyedihkan. “Jadi, sukses itu harus bisa dirasakan sekarang, tak hanya dalam pikiran saja,” tegasnya. Menurutnya, bisa merasakan kondisi yang seperti itu adalah suatu kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan itu harus dibagikan kepada orang lain dan disebarkan kepada lebih banyak orang.

Berangkat dari keyakinan berbagi itu, ia kemudian mengemas ikhlas menjadi sebuah pelatihan yang ditujukan untuk semua orang. Ikhlas dikemas menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, menggunakan bahasa logika. Dan yang lebih penting, ikhlas harus bisa dirasakan. Ia menampik jika apa yang dilakukannya itu sama seperti pelatihan motivasi atau dakwah secara umum. Bedanya, pada pelatihan ikhlas yang ia usahakan, bisa diaplikasikan dan bisa diukur.

Mengapa bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi? Setiap produk harus bisa dikomunikasikan kepada para penggunanya. Ia memilih segmen pengguna produknya adalah orang yang ‘melek teknologi’. “Kalau saya ngomong begitu-begitu saja, tak ada orang yang mendengar,” terangnya. Karena dalam bentuk produk, tentu ada garansi kualitasnya. Ia menjamin, kalau peserta training tidak merasakan hasil yang diharapkan, biayanya akan dikembalikan. Jaminan itu perlu untuk mendapatkan kepercayaan, apalagi ikhlas, yang dalam agama juga diajarkan. “Sama seperti kalau kita membeli barang elektronik, kita diberi garansi, lalu kita percaya.” Ia juga memunyai keyakinan, di masa mendatang, agama harus diajarkan dengan pendekatan logika dan dapat dirasakan hasilnya. Kalau tidak, ajaran agama tidak akan populer.

Menjual produk seperti yang diusahakan Nunu ini memang tak mudah. Buktinya, ada masa-masa ia sulit mendapatkan pasar dan akhirnya dihentikan dahulu. “Produk saya ini hanya untuk orang-orang yang sudah ‘terbuka kepalanya’,” katanya. Kemudian, ia mencari momentum yang tepat untuk mengenalkan kembali produknya. Nah, di saat masyarakat sudah banyak diajari tentang emosi dan spiritual seperti maraknya training tentang Emotional Spiritual Quotient [ESQ], ia menilai masyarakat sudah siap menerima produknya. Kejelian membaca kesiapan pasar ini membuat produknya kini bisa laku keras.

Sebagai pelengkap dan upaya untuk memberikan kepuasan kepada para pemakai produknya, dibuatnya semacam alat yang dinamai Digital Prayer. Alat ini membantu untuk mengaktifkan kekuatan bawah sadar. Tak hanya alat bantu training, Digital Prayer juga bisa digunakan untuk membantu menciptakan ke-khusyu’-an dalam berdoa, relaksasi, atau untuk meditasi. « [imam]