Gerai Buku, dari Menulis ke Jualan Buku

Posted on Posted in Ikhtiar

Memang, pada awalnya Epri Tsaqib, pemilik Gerai Buku ini tak semata-mata ingin jualan dan mendapat untung. Niatnya ingin bisa membaca buku sebanyak-banyaknya, tetapi dengan biaya yang murah. “Sebagai penulis, saya harus banyak membaca. Karena itu saya jualan buku sekalian. Meski tidak gratis, minimal ada potongan,” ungkapnya. Di awal itu juga buku yang dijual terbatas buku sastra karena memang ia adalah penulis sastra.

Mengejutkan baginya, ternyata, buku-buku sastra yang dikoleksinya banyak dicari orang karena termasuk langka. Tapi bukan berarti buku lama saja, buku yang relatif baru karena sudah sulit dicari di pasaran termasuk langka. Seperti buku karangan Subagyo Sastro Wardoyo, Budi Darma, atau Sapardi Djoko Damono. “Saya memperoleh buku-buku itu dari penerbit yang saya kenal, seperti Balai Pustaka,” jelas bapak tiga anak ini.

Epri memilih online karena biayanya lebih murah. Website-nya pun bisa menggunakan web gratisan, “Seperti Gerai Buku ini masih menggunakan Multiply [MP] untuk site-nya [http://geraibuku.multiply.com].” Kemudian, berjualan secara online dapat menjangkau lebih banyak pelanggan dan cakupannya lebih luas. Ada juga pelanggannya yang berasal dari luar Pulau Jawa, bahkan ada juga yang dari Jerman dan Spanyol.

Ada cerita yang menarik dari hubungan Epri dengan pelanggannya. Suatu saat ada pelanggan yang ingin bertemu langsung dengan Epri. Anaknya mendapat tugas dari sekolah untuk mendapatkan buku tentang kesenian. Kebetulan di Gerai Buku ada stoknya. Kemudian pelanggan tadi bercerita tentang anak dan sebagainya, sampai akhirnya saling tukar-menukar tips bagaimana cara mendidik anak yang baik. “Kalau sudah begitu saya senang sekali. Saya juga mendapat banyak dari pelanggan,” kisahnya.

Sejak dibuka 1,5 tahun lalu, Gerai Buku sudah memunyai pelanggan tetap sebanyak 150 orang. Pelanggan ini selalu setia membeli melalui situs ini jika membutuhkan buku. Kebanyakan mereka adalah teman-temannya sesama komunitas pecinta buku atau dari milis sastra yang diikutinya. Selain pelanggan tetap, ada juga pelanggan yang isidentil, jumlah totalnya belum bisa dipastikan, tentu lebih besar dibanding pelanggan tetap. Pelanggan jenis kedua ini setiap bulan bertambah kurang lebih 30 sampai 50 pelanggan.

Untuk mendapat banyak pelanggan, kuncinya pada kepercayaan. “Bisnis online kan modal utamanya kepercayaan,” katanya. Epri juga mengatakan bahwa sebenarnya bisnis yang dijalankan belum menganut sistem online secara penuh karena untuk pembayarannya masih menggunakan transfer melalui bank. “Kalau sudah online penuh, pembayaran kan bisa langsung di situ,” tambahnya.

Masalah paling berat dihadapi Epri dengan Gerai Buku ini adalah ketika gagal kirim. Ia masih menggunakan jasa pengiriman barang untuk mengirim buku pesanan ke pelanggan. Suatu ketika jasa pengiriman salah mencatat alamat yang dituju. Karena itu, ia harus mengirimnya ulang. “Eh, yang kedua salah lagi. Ternyata petugas pencatat masih menggunakan alamat yang lama.” Untungnya ia masih menyimpan bukti pengirimannya. Pelanggan baru percaya setelah dikirim scan bukti tersebut. “Alhamdulillah, setelah dijelaskan apa adanya, pelanggan tadi tidak kabur,” katanya lega.

Meski dengan modal yang relatif kecil, omset penjualannya bisa lebih dari Rp 10 juta perbulan. “Sepuluh juta perbulan itu kalau sedang sepi, maksudnya sedang tidak ada pameran atau promosi. Kalau sedang ramai, omset bisa lebih dari itu,” katanya.

Untuk ke depannya, Gerai Buku akan dikembangkan. “Mungkin nanti ada gerai-gerai online yang lain,” katanya. Ia punya cita-cita untuk membantu orang lain yang sedang tidak punya pekerjaan untuk mengurus gerai-gerai itu. « [imam]

[Boks]
Tips Jualan Buku Online

1. Menjaga kepercayaan pelanggan
Kepercayaan pelanggan adalah kunci bisnis online. Kepercayaan bisa diawali dengan memenuhi standar waktu pengiriman buku.

2. Menjaga hubungan baik dengan penerbit
Hubungan baik dengan penerbit sangat diperlukan. Ada beberapa masalah yang bisa diselesaikan karena punya hubungan yang baik. Misalnya masalah administrasi [surat-menyurat] bisa disusulkan kemudian.

3. Memiliki stok buku
Sebenarnya tidak harus ada stok buku asalkan kita bisa memastikan jika ada pelanggan yang meminta, buku tersedia.

4. Memilih jasa pengiriman yang tepat
Jika belum memiliki armada untuk mengirim buku, lebih baik mencatat semua jasa pengiriman yang mungkin bisa diajak kerjasama. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Nah, dari karakteristik itu kita bisa memilih mana yang tepat dan menguntungkan kita.

5. Selalu meningkatkan pelayanan
Jualan buku online adalah jualan jasa dan yang menjadi titik pentingnya adalah pada peningkatan pelayanan pelanggan. Ketika pelayanan kita sudah bagus dan diakui pelanggan, harga bisa jadi nomor dua.