Mengawali Usaha Dengan Cinta

Posted on Posted in Ikhtiar

Kecintaannya pada herbal dan hobinya mengoleksi tanaman berkhasiat obat lambat laun mengantarkan Dewani [48] menjadi seorang pengusaha obat tradisional. Usahanya laris manis, apalagi ditambah tren back to nature membuat produk ibu energik ini banyak dicari pelanggan yang peduli masalah kesehatan.

Pada tahun 2002, saat merasa kedua anaknya–Petty [26] dan M. Fachrizal [23]–sudah beranjak dewasa serta memiliki kegiatan sendiri, Dewani merasa perlu beraktivitas untuk mengisi waktunya yang kian longgar. “Saya ingin memanfaatkan waktu saya untuk sesuatu yang positif,” ungkap ibu yang masih terlihat cantik dan segar di usianya yang mendekati paruh baya ini. Kebetulan ia memiliki tanah seluas 8.000 m2 di Bogor tempatnya mengoleksi berbagai tanaman obat. Mulailah ia mencoba memperbanyak tanamannya dan menjadikannya sebagai lahan usaha.

Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan lahan tersebut, Dewani berusaha mencari tambahan koleksi tanaman, memperbanyak, serta memperdalam pengetahuannya mengenai obat-obatan tradisional dengan mencari buku-buku yang berhubungan dengan hal itu di berbagai tempat, seperti POM dan Litbangkes Farmasi. Ia juga kian kerap mencari ilmu di dunia maya serta mendaftarkan diri untuk ikut berbagai komunitas pencinta herbal. Semua informasi tersebut ternyata sangat membantunya ketika bertransformasi dari seorang ibu rumah tangga yang terbiasa aktif dalam organisasi di instansi tempat suami bertugas, menjadi seorang pengusaha herbal.

Tanaman obat yang dimiliki bertambah banyak karena terus menerus dikembangkan. Akhirnya, karena bingung hendak diapakan, maka Dewani mulai mencoba untuk mengeringkan produk dari berbagai tanaman obat yang ditanamnya. Mulailah ia belajar bagaimana memetik yang baik sehingga mendapatkan hasil panenan yang optimal, juga bagaimana menjemur hasil panenan tersebut menjadi keringan yang dapat dijadikan bahan dasar herbal, serta menjual hasil keringannya.

Tak berhenti di situ, ibu yang mengaku selalu haus ilmu ini terus menerus berusaha meningkatkan kemampuannya, sehingga akhirnya berhasil memperbaiki produksinya menjadi ramuan bubuk serta membuat tea bag khusus untuk produk rosella dengan menambahkan beberapa mesin, antara lain mesin giling dan mesin tea bag. “Beruntung saya sering bertukar pikiran di komunitas herbal. Di sana para pencinta dan pemerhati herbal dengan background yang berbeda berkumpul dan saling bertukar ilmu,” ucap wanita yang sangat luwes bergaul ini.

Lama kelamaan, karena saran pelanggan, Dewani memindahkan gerainya dari Bogor ke Jakarta. “Awalnya di garasi rumah. Tapi karena diprotes suami, maka saya mulai berani untuk menyewa satu tempat. Tak lama kemudian saya pindah ke gerai ini yang menjadi milik saya sendiri,” ucapnya mengenai tempat barunya yang berada di pinggir jalan Raya Lenteng Agung ini. Tak hanya menjual produk lewat gerainya sendiri, Dewani juga menitipkan produknya ke teman-teman yang memiliki toko. Ada juga yang dititipkan pada sejumlah apotek, toko obat, sebuah minimarket Jepang di Jakarta, hingga jaringan hypermarket besar. Selain itu ia sudah mengirimkan produknya ke daerah, seperti Banda Aceh, Pekan Baru, Surabaya, Kudus, Makasar, serta ikut berbagai pameran, bahkan hingga ke luar negeri, seperti Singapura.

“Secara keseluruhan, kini omzet saya sekitar 30 juta sebulan. Saya memiliki karyawan tetap sebanyak 8 orang dan 7 lainnya karyawan yang hanya datang ketika melakukan proses produksi. Di kebun ada 3 tukang kebun,” ucap ibu yang juga sudah menuliskan dua buku tentang ramuan tradisional ini. Tak hanya itu, Agustus lalu ia pun mendapatkan penghargaan masuk nominasi terbaik kedua UKM Pangan Award kategori usaha mikro yang diberikan Departemen Perdagangan Republik Indonesia.
Semua jerih payah tersebut bukan tanpa kendala. Hal yang paling dirasakan Dewani sebagai masalah dalam berbisnis adalah ketakmampuannya dalam menggunakan komputer serta kesulitan untuk melakukan delegasi. “Inginnya semua dipegang sendiri,” ucapnya sambil tertawa. Hal inilah yang membuat beberapa pekerjaan menjadi terlantar, seperti melakukan penyuluhan bagi anak-anak dan para mahasiswa di kebunnya. “Makanya saya sedang mencari orang untuk membantu saya,” katanya lagi.

Di atas semua itu, yang tampaknya tidak dapat diabaikan adalah berbagai testimoni dari para pelanggannya mengenai perbaikan yang mereka alami dari berbagai penyakit yang mereka derita. “Merinding rasanya kalau dengar kisah sukses pasien. Menurut saya kalau diberi obat dokter memang cespleng, namun kalau mengalami gangguan degeneratif, mengapa tidak mencoba herbal? Karena herbal itu dari tumbuhan dan bukan sintetik, maka tubuh bisa mengadaptasi dengan lebih baik, sehingga pengobatan herbal itu memaksimalkan kembali fungsi-fungsi organ tubuh secara menyeluruh,” ucap pelaku bisnis yang juga memiliki sertifikat sebagai seorang pengobat tradisional yang terdaftar di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan ini.

Saat ini Dewani memang sedang membesarkan salah satu produknya yang menjadi unggulan, yaitu teh merah atau rosella. Ia sedang berupaya agar produknya tersebut dapat dinikmati semua kalangan mengingat manfaatnya yang demikian besar. Namun tak hanya itu. Masih ada mimpi lain yang belum terwujud. “Saya ingin punya spa tradisional dengan bahan dasar herbal. Namun yang dapat menjangkau kalangan menengah,” ucapnya setengah berbisik. Selain itu ia berharap agar pemerintah lebih memberi perhatian terhadap perkembangan tanaman obat di negeri ini. “Paling tidak dengan mengadakan penelitian-penelitian ilmiah, kan ini kekayaan negeri kita juga,” ucapnya menutup pembicaraan. « [esthi]

[Box]
Tips usaha ala Dewani:

  • Cintailah pekerjaanmu dan kerjakan dengan hati.
  • Jangan malas dan terus produktif.
  • Terus menerus melakukan inovasi.
  • Bangun network seluas-luasnya.
  • Miliki daya juang yang baik.

[Box]
dé Rosellas
Jl Raya Lenteng Agung no
32, Jakarta Selatan
Tel: 021-70777709
www.plantamedikaloka.com