Sajadah Terbentang, Rezeki Datang

Posted on Posted in Ikhtiar

Keinginan anak pertamanya untuk memiliki sajadah yang unik justru mendorong ibu muda ini untuk mewujudkan coretan si kecil di atas selembar sajadah buatannya sendiri. Hasilnya ia kini justru kewalahan memenuhi banyaknya permintaan dari para pemesan yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari luar negeri.

“Rasanya seperti semua dipermudah. Banyak wartawan dari media cetak maupun elektronik yang datang hanya untuk meliput cara saya membuat sajadah,” ucap Angelique Octaviana Aveling [36] ini dengan mata berkaca-kaca. Padahal usaha rumahan yang dirintisnya ini merupakan jawaban dari doanya yang sederhana, yaitu ingin membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang tinggal di sekeliling rumahnya. Hanya awalnya, ia tak tahu caranya. Ternyata keinginan anaknya untuk memiliki sajadah sendiri justru membuka jalan ibu muda ini untuk mewujudkan niatnya tersebut.

Usaha yang baru dimulai April tahun lalu itu dijalankannya di lantai dua rumahnya yang asri dibilangan Cinere. “Pekerjaan utama saya tetap mengantar-jemput anak,” kata Angelique dengan nada merendah. Ibu dari Tiara [9] dan Kirana [7] memang memilih mengawasi anak-anak dan melepaskan karirnya di bidang hukum sejak ia menikah dan melahirkan anak pertamanya. Namun setelah anak-anak besar dan mandiri, mulailah timbul keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Ternyata sajadah buatannya disukai banyak orang. Sehingga, mulailah ia berkreasi memenuhi permintaan dari para pemesan. Atas permintaan pelanggan ia melengkapi produksinya dengan membuat mukena dan celana sarung yang senada dengan sajadahnya. Mukena tersebut diberi aplikasi serupa dengan sajadahnya. Sedangkan untuk celana yang mirip sarung sengaja dibuat untuk membantu anak-anak yang kesulitan memakai sarung. Sehingga dibuatlah celana yang mirip celana tukang sate dengan memakai velcro sebagai pengunci. Selain itu Angelique juga melengkapi produksinya dengan membuat sprei, handuk, dan t-shirt yang diberi aplikasi di sela-sela produksi utamanya tersebut.

Inspirasi untuk membuat gambar-gambar dari sajadahnya diakuinya datang dari mana saja. Terkadang ia mendapatkan dari film kartun, dari gambar anak-anak, dan sebagainya. Angelique juga suka mendapatkan ide ketika hendak tidur yang kemudian dituangkannya menjadi sebuah sketsa. Hingga kini telah ada 35 gambar aplikasi berbeda yang telah diwujudkan dalam bentuk sajadah. “Masih ada 5 ide lagi yang belum diwujudkan karena belum sempat,” kata istri Edwinsjah Iskandar ini.

Untuk pemasaran, ibu yang kreatif ini dibantu seorang sahabatnya yang dengan setia mendorongnya untuk tetap menekuni usaha yang dinamainya Lolipop. Sang sahabat inilah yang membuatkan sebuah situs di multiply.com untuk memasarkan produksinya tersebut. Angelique juga memperluas jaringannya dengan bergabung dalam beberapa milis, serta ikut serta dalam beberapa bazar. Ternyata hasilnya luar biasa. Peminat sajadahnya membludak dan membuat Angelique kewalahan, tak mampu memenuhi semua pesanan yang datang.

Meski sudah ditopang delapan pekerja tetap dan lepas yang membantu menggunting, menempel, menjahit, dan membordir, namun tetap saja ia belum dapat memenuhi permintaan yang datang dari hampir semua kota di Indonesia. Bahkan ada pula permintaan dari Amerika dan Singapura yang terpaksa diabaikannya. Angelique masih mencari jasa pengiriman lewat laut yang mau menerima pengiriman dengan kuota yang sedikit. “Kalau lewat udara jatuhnya akan mahal sekali. Sedangkan lewat laut belum berani mengirim banyak. Jadi, masih dipelajari,” ucapnya.

Angelique bahkan jujur mengaku bahwa ia tak memiliki stok yang cukup untuk memenuhi permintaan pada bulan puasa dan lebaran ini. “Salah perhitungan,” ujarnya sambil tertawa. Ia pikir dengan menstok produksi dua bulan sebelum puasa akan dapat memenuhi permintaan pasar. Ternyata stok tersebut habis sebelum menjangkau puasa. Bahkan ia membatalkan keikutsertaan di sebuah bazar karena takut kehabisan stok barang.

Kendalanya yang lain yang dirasakannya dalam berusaha adalah pada penyediaan bahan baku dan mencari SDM yang tepat. “Harganya sering naik. Padahal saya mengambil margin-nya tidak banyak. Jadi mau tidak mau harga barangnya jadi sering saya naikkan. Sedang untuk SDM, tak mudah ya memilih orang yang tepat. Karena menggarap pekerjaan seperti ini kan harus pakai ‘hati’,” ujarnya.

Karenanya, wanita yang sempat down karena sajadahnya pernah dicontek mentah-mentah oleh seorang pelanggannya ini berkeinginan untuk membenahi produksinya seusai lebaran. Ia memantapkan hati untuk lebih serius menekuni usahanya dengan menambah pekerja. Kedua orangtuanya juga akan mendukung dan membantunya di bidang marketing serta mengurusi pekerja. “Sekarang mama sudah membantu mengurus marketingnya. Sedangkan papa kan dulu pernah bekerja di bidang HRD, akan membantu di bagian SDM,” ucapnya senang.

Meski demikian, Angelique tetap ingin mempertahankan usahanya sebatas usaha rumahan. “Kalau terlalu besar misalnya jadi sebuah pabrik, saya jadi tak maksimal memperhatikan anak-anak. Mungkin nanti kalau anakanak sudah besar dan sudah bisa menjaga diri sendiri. Kalau sekarang sih saya mau tetap usaha di rumah saja,” ucap ibu yang ramah ini dengan kalem. « [esthi]

[Box]
Tips usaha sendiri di rumah ala Angelique

  • Effort-nya harus lebih besar dibanding dengan bekerja di perusahaan, karena segala sesuatu dikerjakan sendiri.
  • Karena dikerjakan di rumah, maka harus pintar-pintar memilah urusan rumah tangga dan pekerjaan.
  • Tekun dalam berusaha dan tak gampang menyerah.

Showroom Lolipop: [by appointment]
Jl Maumere kav 165 Cinere Blok M
telp. 021-7545804
http://sajadahanakku.multiply.com