Toko Kue Virtual

Posted on Posted in Ikhtiar

Berawal dari niat ingin mendapat penghasilan tambahan, Dhiandra Novrina Diyanti sukses menjalankan usaha jualan kue lewat jalur online.

Bahkan, saat banyak pesanan, omset usahanya bisa mencapai lima kali gajinya, seperti menjelang hari raya Idul Fitri atau sebelum perayaan Natal. “Dan, yang lebih membahagiakan, ibu-ibu di sekitar rumah saya juga kebagian,” kata ibu dua anak ini. Mereka yang dimaksud adalah para istri tukang ojek yang penghasilan tidak tetap. Ibu-ibu itu juga lah yang membuat Dhiandra terus semangat mencari order. “Saya sedih kalau lagi tidak ada pesanan. Saat buka pintu dan kebetulan mereka lewat, mereka selalu bertanya, ‘Ada order lagi, Bu?’ Saya tidak tega melihat wajahnya. Saya bisa merasakan, she needs something from me,” katanya berkisah.

Sebenarnya sudah beberapa kali ia mencoba usaha sampingan lain, termasuk multilevel marketing. Tetapi, kecintaannya pada dunia masak-memasak membuatnya lebih serius menekuni usaha jualan kue ini. Teman-teman dekatnya juga menyarankannya memilih usaha ini. “Kata teman-teman saya, aura jualan kue saya lebih tampak,” jelasnya sambil tersenyum.

Membuka Toko Virtual
Selanjutnya, ia berfikir, bagaimana jualan kuenya bisa jalan, sementara, pekerjaan di kantornya tidak terbengkalai. Bagaimanapun, ia masih belum bisa meninggalkan profesinya sebagai karyawan. Tercetuslah ide menjual kue lewat internet. Dengan bantuan seorang teman, Dhiandra membangun toko kue online yang diberi nama DhiandraBizz.com [www.dhiandrabizz.com]. Di toko virtual itu, bisa dilihat dan dipilih jenis kue yang ingin dipesan. Caranya, bisa melalui SMS, email, atau telepon langsung.

Setelah toko online dibuka, masih ada ganjalan lagi. “Ternyata, membangun kepercayaan di dunia maya, lebih sulit, karena tak ada tatap muka langsung,” kata wanita berkerudung ini. “Paling-paling, hanya kenal suaranya lewat telepon,” tambahnya.

Setelah mencari-cari, akhirnya ia medapatkan cara yaitu membuat blog pribadi. Dengan membaca blog-nya, ia berharap para pelanggan mengenal lebih jauh pribadinya. Ia juga menuliskan catatan-catatan bagaimana ia mengerjakan pesanan kue, suka-dukanya dan bagaimana pada suatu saat ia harus menolak pesanan karena sangat kuatir tidak bisa memenuhi kualitas yang dijanjikan.

Selain sulitnya membangun kepercayaan, masih ada kendala. Masyarakat Indonesia masih belum terbiasa online. Beberapa kali, Dhiandra harus menjelaskan kepada calon pelanggannya bahwa ia tidak memiliki toko dan contoh produk hanya bisa dilihat di internet. Ia juga harus meyakinkan kepada mereka tentang jaminan kualitasnya. Upaya ini terus dilakukannya sampai pelanggan percaya. “Biasanya, setelah beberapa kali memesan, mereka akan terbiasa, kemudian menjadi percaya,” ujar Dhiandra.

Namun, di antara kendala-kendala itu, ada juga pengalaman yang sangat menyenangkan baginya. Dengan menjual kue di dunia maya, ia mendapat pelanggan dari luar negeri. Mereka memesan kue dan minta untuk diantar ke rumah keluarga mereka yang tinggal di Indonesia. Sebelumnya, peluang ini tak pernah terbayang olehnya. Ada juga yang memesan kue saat ia datang ke Indonesia, kemudian dibawa pulang ke negaranya. “Kue buatan saya sudah sampai New York, lho!” katanya. “Yang bawa namanya Richard. Di sana, teman-teman Richard banyak yang suka dan kaget setelah tahu di mana memesannya,” kisahnya.

Belajar di Dunia Maya
Keahliannya membuat kue ternyata ia pelajari di dunia maya juga. Sebelum terjun ke bisnis jualan kue, ia mengikuti mailing list masak-memasak. Ia mendapat banyak pelajaran dari diskusi dan cerita gagal-sukses memasak dari peserta di milis itu.

Dhiandra cenderung pasif. Ia merasa sebagai peserta yang paling tak bisa memasak. “Membaca cerita dan pengalamam teman-teman di milis saya takut untuk bertanya. Nanti dikira bodoh oleh peserta yang lain,” katanya. Tetapi setelah banyak mengamati, ternyata ia tak sendirian. “Ternyata banyak juga peserta lain yang sama dengan saya dan mereka berani bertanya,” tambahnya.

Dari pengalaman dunia maya, kemudian ia wujudkannya di dunia nyata. Setiap pengalaman yang diperoleh di milis, ia praktekkan. Selain itu, ia juga melakukan bedah resep sendiri. Dari banyak eksperimen yang dilakukannya, ia berhasil mengembangkan resep sendiri. Dengan cara itu pula, ia berhasil menemukan bahan pengganti untuk bahan-banhan yang diragukan kehalalannya tanpa mengurangi kualitas kue. Karenanya, ia berani mengatakan dan menjamin, bahwa semua bahan dan cara pembuatan produknya mengikuti kaidah halal. « [imam]