Upaya Keseimbangan Shinta Witoyo Dhanuwardoyo

Posted on Posted in Ikhtiar

Lulusan arsitek ini justru banting setir ke dunia teknologi informasi. Tak tanggung-tanggung memang. Usai merampungkan kuliahnya di Amerika, ia mendirikan perusahaan di dunia tersebut saat gaung internet masih samar terdengar di Indonesia. Simak obrolan ringan Senior Editor Esthi Nimita Lubis dan Feature Editor Imam Isnaini dengan wanita yang cantik dan pintar ini di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan.

s1Awalnya karena ditantang sang ayah saat Shinta berkeinginan mengambil bidang bisnis untuk melanjutkan kuliah strata duanya di Amerika. Sang ayah tak mau membiayainya jika ia tak meneruskan kuliah di bidang arsitektur. Tantangannya itu diterima dengan mencari beasiswa untuk membayar uang kuliahnya. Shinta lalu memilih program Graduate Assistance yang mengharuskan ia bekerja di laboratorium komputer untuk universitas tempatnya menuntut ilmu. Dari situlah kecintaannya pada dunia teknologi informasi bermula.

Terjebak di Dunia Teknologi Informasi
Berbekal pengetahuan komputer yang sangat minimal, Shinta memberanikan diri untuk melamar untuk menjadi supervisor di laboratorium komputer. “Tawaran beasiswanya sih kerja di laboratorium komputer atau menjadi asisten seorang profesor. Tapi kalau kerja dengan profesor pasti pekerjaannya banyak dan di bidang penelitian. Itu pasti tidak menarik dan saya juga punya pekerjaan lain,“ ujar istri Djatmiko ini bercerita.

Modal kenekatan itu yang membuatnya punya akses untuk mempelajari komputer sebanyak-banyaknya dengan anak buah yang rata-rata justru menguasai bidang yang satu ini. Dengan cara ini pula ia mengenal internet, sebuah media yang menurutnya sangat ‘powerful‘, “Saya percaya bahwa satu hari nanti internet akan menjadi besar mengalahkan media-media lain.” Hal itu yang menarik minatnya untuk mendalami dunia teknologi informasi secara lebih serius.

Saat pulang ke Indonesia, Shinta sempat bekerja di sebuah perusahaan sebagai konsultan dengan posisi manajer pengembangan bisnis. Namun keinginannya untuk berkarya di dunia teknologi informasi tak pernah surut. Dengan beberapa teman, ia kemudian mendirikan Bubu.com di tahun 1996 yang memberikan layanan perancangan situs bagi perusahaan, solusi internet, networking solution, serta pemasaran dan pelatihan internet.

Membesarkan Bubus2
Saat itu internet masih menjadi ‘barang baru’ di Indonesia, sehingga Bubu dapat melenggang tanpa saingan. Namun kendalanya justru pada sedikitnya orang yang melek internet. Bukan Shinta rasanya kalau mudah menyerah. Wanita optimis ini bertekad untuk mengedukasi masyarakat agar memiliki pemahaman terhadap internet dan memiliki kebutuhan untuk membuat situs.

Di tahun 2001 ia menggelar Bubu Award. Sebuah kompetisi di ranah web yang sekaligus ajang branding untuk Bubu dengan menggaet juri kelas dunia. Tak heran jika jumlah peserta terakhir bisa mencapai 700 pendaftar. Setelah itu ia sempat membuka beberapa portal, di antaranya koridor.com dan mailkita. com. Namun dengan terpaksa, portal-portal tersebut akhirnya ditutupnya, “Kadang saya terlalu advance, sehingga membuat orang sulit memahami. Dan edukasi itu mahal, kalau tidak memiliki dana yang cukup, ya sulit. Saya memang gagal di bidang itu, namun banyak mendapat pelajaran,” ujar ibu dua putri ini.

Seiring dengan berkembangnya Bubu, Shinta memperluas layanan dari perancangan situs ke digital marketing. Untuk membuat orang tertarik pada hal yang masih baru ini, maka ia membuat kampanye roadshow ke 15 kampus di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, sekaligus mencari dan mengembangkan bibit-bibit baru di bidang teknologi informasi, khususnya digital marketing. Bersama sebuah perusahaan kehumasan, Bubu juga membuat Pesta Blogger yang kini telah memasuki tahun ke tiga.

Sepak terjangnya juga membuatnya banyak diundang untuk berbicara di organisasi internasional maupun berbagai universitas mengenai dunia teknologi informasi. “Itu merupakan langkah saat saya harus lebih baik bicara di depan publik. Padahal kalau naik panggung saya terkena demam panggung, bahkan hingga sekarang tidak dapat hilang 100%,” ucap pengoleksi batik dan kebaya antik ini sambil tertawa.

Menapaki Keseimbangan
Sulung dari empat bersaudara ini juga merasa bersyukur karena mendapat dukungan dari seluruh keluarga. Bahkan orangtua dan mertuanya ikut turun tangan dalam membantunya mengasuh dua buah hatinya. Namun ia mengakui bahwa sukses baginya adalah kemampuan untuk mencapai keseimbangan antara keluarga, kantor, kehidupan sosial, dan kehidupan religi. “Saya merasa sekarang belum mencapai itu. Kalau semua sudah terbagi dengan baik, baru saya merasa benar-benar sukses,” ujar wanita yang meluncurkan situs khusus batik antik dengan nama www.batikantik.com ini.

Meski sibuk, namun di saat-saat puasa ini Shinta merasa diingatkan untuk kembali fokus menyempurnakan ibadah yang kadang tertinggal karena kesibukan. “Ibu saya yang paling berperan di kehidupan beragama saya. Walaupun sejak SD saya tinggal di luar negeri namun ibu saya mewajibkan saya belajar shalat dan mengaji,” ucapnya. Ia merasa peran agama sangat besar pada perjalanan karirnya, “Selama saya menjalankan Bubu, up and down-nya banyak sekali. Biasanya saya melakukan shalat malam, setelah itu jalannya seperti dibukakan. Karenanya saya merasakan sekali kebutuhan untuk melakukan shalat malam. « []

Box
Nama Shinta Witoyo Dhanuwardoyo
Tanggal lahir 18 Januari 1970
Suami Djatmiko
Anak Vrisqha [10] dan Valisha [4]
Pendidikan

  • Bachelor of Interior Architecture dari University of Oregon, Eugene, Oregon, USA.
  • Master’s of Business Administration di bidang Bisnis Internasional dari Portland State University, Oregon, USA.
  • Online Studies, Corporate Leadership and Innovation dari University of South Australia.

Hobi Melukis, blogging, membaca, menari, mengoleksi batik dan kebaya antik, mengoleksi perhiasan vintage
Karir

  • CEO dari digital agency Bubu internet [Bubu.com] Juli 1996-sekarang.
  • CEO dari PT Mailkita Perdana [Mailkita.com] May 2000-2003
  • Komisaris dari portal berita PT Koridor.com Maret 2000 – Februari 2001
  • Komisaris dari portal gaya hidup PT nasgor.com Juni 2000 – Februari 2001
  • Komisaris dan konsultan manajemen dari portal musik musickita.com November 2000-2003
  • Konsultan partner dari perusahaan disain interior Ridial Badri dan rekan, Juni 1997 – 2002

Aktivitas

  • Anggota ASPILUKI [Asosiasi Software Indonesia]
  • Anggota KADIN
  • Sering diundang untuk berbicara pada organisasi internasional seperti PBB, UNESCAP, UNESCO, APWINC, juga LIPI dan berbagai departemen dan universitas mengenai teknologi informasi

Penghargaan

  • Wanita eksekutif pilihan majalah Dewi 2001.
  • The Most Powerful Women 2008 untuk pengusaha wanita di bawah 40 tahun versi majalah SWA [April 2008].
  • Most Inspirational Women pilihan Wanita Indonesia [Januari 2008].