House of One, Satu Gedung untuk Beribadah Berbeda Keyakinan

Posted on Posted in Islam in the World

Delapan tahun lalu, para arkeolog menggali lahan parkir di daerah Berlin untuk mengungkap puing-puing bangunan lama. Sebuah bangunan gereja, yang dibangun di abad 13, yang coba dibangun kembali setelah terkoyak oleh kebakaran dan bencana lainnya saat perang dunia kedua berkecamuk.

Kini bangunan gereja ini ingin terlahir kembali, namun alih-alih mefungsikannya sebagai kapel, bangunan ini ingin dikenal sebagai satu-satunya tempat ibadah di dunia yang mengkombinasikan keperluan ibadah bagi penganut agama yang berbeda, dan menyebutnya sebagai House of One.

house of one-b

“Kita ini bertemu dengan pertanyaan apa yang bisa kita lakukan dengan lahan ini, dan apa yang bisa membuatnya bermanfaat bagi kota saat ini,” kata Frithjof Timm, juru bicara agama untuk House of One.

Lalu dimulailah dengan ide sederhana untuk mengajak banyak orang di wilayah ini. “Bapak Menteri memiliki visi untuk menyediakan meja di bekas lahan parkir,” lanjut Timm. “Masyarakat dengan kepercayaan yang berbeda bisa duduk bersama, makan bersama dan menjalin kebersamaan disini.”

Namun akhirnya mereka memutuskan untuk melangkah lebih lanjut, dengan membuka kompetisi untuk membangun gedung yang bisa secara simultan menampung kebutuhan bagi warga Yahudi, Muslim dan Kristen. Lalu melibatkan seorang rabi dan imam untuk bergabung dengan ide sang menteri untuk melanjutkan rencananya.

Dari satu sudut pandang persepektif, ini adalah sebuah olusi yang praktis. “Di Berlin kita punya warga, baik mereka yang tergolong religius, maupun tidak,” kata Timm. “Jadi uang kita sangatlah kurang untuk membangun satu gereja baru, kita juga akan kekurangan jemaah untuk memenuhi gereja baru.”

Dan lebih tepat lagi,ini akan memberikan kota Berlin sebuat simbol akan arti kota tersebut pada masa kini. Sebagai kota dengan populasi warga Yahudi yang berkembang, dan juga dengan masuknya warga migran ke Jerman, membuatnya pula sebagai rumah bagi populasi warga Muslim.

Desain bangunan memili ruangan umum, tiga ruangan dengan luas ukuran yang sama (dengan bentuk berbeda) untuk mewadahi masing-masing agama. Dan semua masuk melalui pintu yang sama.

house of one

“Kita hanya memiliki satu pintu utama untuk masuk,” kata Timm. “Jadi semua yang hendak beribadah -baik Yahudi,Kristen dan Muslim— harus masuk dari pintu yang sama. Lalu masuk ke ruangan umum, lalu bertemu tangga untuk menuju ke lantai dua, dan kita bisa menentukan hendak ke bangunan mana yang kita tuju.”

Responnya sangat positif. Di dalam ruangan ini, semua orang tak harus merasa berubah demi kepercayaannya.

Sumber: fastcoexist.com