Batasan Kemampuan Menuaikan Zakat Fitrah

Posted on Posted in Kolom

Di antara hikmah zakat fitrah adalah untuk menyucikan hati orang yang berpuasa dari perkara yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Daud, Syeikh Al- Albani mengatakan Hadits ini Hasan).

Tegasnya, umat muslim wajib membayar zakat fitrah untuk menutupi segala kekurangan orang yang berpuasa karena berbicara kotor, dusta, marah dan perilaku tercela lainnya. Orang yang berzakat fitrah, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan kaum fakir miskin agar tidak meminta-minta, terutama dalam momen Hari Raya Idul Fitri. Kita berharap mereka juga dapat menikmati bahagianya berlebaran, seperti halnya golongan yang hidup berkecukupan.

Seperti pernah disinggung pada artikel edisi sebelumnya, zakat fitrah adalah sedekah yang wajib dikeluarkan sebelum shalat Id. Apabila dilakukan setelahnya, maka dikatagorikan sebagai sedekah biasa. Hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki atau perempuan besar atau kecil (Untuk anak yang masih ada dalam janin, apabila lahir sebelum terbenam matahari pada malam iedul fitri, ia tidak wajib dikeluarkan zakatnya, apabila lahir setelah terbenam matahari, anak tersebut wajib berzakat). Di setiap negara ukuran, perhitungan takaran zakat berbeda-beda. Kalau dalam hadits Rasulullah menggunakan “sha” untuk kurma atau gandum, sedangkan di Indonesia bisa disamakan dengan timbangan berat 2,5 kg, yang umumnya berupa beras

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.” (HR. Al-Nasa’i. Dalam Shahih wa Dha’if Sunan Nasa’i, Syeikh Al-Albani mengatakan Hadits ini Shahih).

Seperti telah kita ketahui, setiap muslim wajib membayar zakat fitrah. Sedangkan orang kafir kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya. Lantas, Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri?

Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59). Namun menurut Syeikh Ibnu Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. Menurut mayoritas ulama, batasan kemampuan bagi orang yang berzakat fitrah ini jika mereka memunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari Id. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia mampu dan wajib mengeluarkan zakat.

Nabi saw. bersabda; “Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah SAW. bersabda, ”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud, Dikatakan Shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud). Demikianlah Wa Allahu a’lam bishawwâb. [Abdul Rouf, Lc, MA – Anggota Pendidikan Kader Mufassir, Pusat Studi Al-Qur’an]