Efek Ramadhan Sampai Masa Depan

Posted on Posted in Kolom

Jauh-jauh sebelum Ramadhan tiba, Rasul mengajarkan doa: Allaa humma baariklana fii Rajab wa Sya’baan wa ballighnaa Ramadhaan (Ya allah berilah keberkahan kepada kami di bulan rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami (menuju) bulan Ramadhan).

Meskipun demikian, keberkahan Ramadhan yang begitu besar, mungkin tidak semua orang mampu menikmati keberkahan itu. Bisa jadi, hari ini kita masih puasa, entahlah kalau esok hari. Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menjamin esok harinya kita masih bisa berpuasa kembali. Secara tiba-tiba, terkadang kita mendapat berita duka bahwa orang-orang terdekat meninggal dunia saat bulan Ramadhan. Timbul pertanyaan, siapa yang mampu mengetahui rahasia kematian itu? dan kapan akan menghampiri kita? Pasti jawabannya adalah tidak ada seorangpun yang mengetahui. Kalau demikian, mengapa kita masih melakukan hal yang dilarang Allah?

Pintu taubat akan selalu terbuka. Maka, bulan Ramadhan kali ini, sejatinya kita bisa memanfaatkannya  sebaik mungkin. Kuncinya, banyak berdzikir, sedekah, membaca al-Qur’an, dan amalan shalih lainnya. Saatnya kita mereformasi keburukan kita dengan kebaikan. Tepalah kiranya hal ini dijadikan perumpamaan, bahwa dunia itu adalah ladang akhirat (al-Dunyaa mazra’at al-Aakhirah), begitu sabda Rasul. Maka, tanamilah ladang dunia ini dengan biji kebajikan, maka kelak engkau akan menuai kebajikan. Sebaliknya, jika menanam biji keburukan, maka siap-siap pula memanen kaburukannya. Karena Ramadhan merupakan bulan pelipatgandaan pahala, maka jangan sia-siakan bulan suci ini tanpa amal shaleh.

Allah juga menegaskan dalam Q.S. al-Isra (17) ayat 8: ‘Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri’¦ (In ahsantumahsantun lianfusikum wa in asa’tum falaha’¦)”.

Atas dasar hal tersebut , sejatinya kita menjalankan Ramadhan ini dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, agar kita mampu menuai keindahan dan keberkahannya. Manfaat ramadhan tidak hanya berlaku pada momen ramadhan itu sendiri, tetapi juga bisa memberikan efek juga pada saat yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasul bersabda “Siapa berpuasa di bulan Ramadhan yang didasari dengan keimanan dan mengharap (ridha Allah), maka akan diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang”.

Karena itu, tak mengherankan Allah memanjakan bagi orang-orang yang berpuasa yang diundang atas seruan keimanan, dengan menggunakan redaksi wahai orang yang beriman (Yaa ayyuha al-ladzina aamanuu..), seperti difirmankan dalam Q.S. al-Baqarah (2): 183 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.”

Terlihat dengan jelas dari ayat tersebut , bahwa tujuan akhir dari puasa adalah membentuk manusia yang mempunyai karakter takwa yang berkesinambungan. Ketakwaan yang bukan hanya di bulan Ramadhan. Lebih dari itu, ketakwaan sejatinya  diimplementasikan dalam bulan-bulan selain Ramadhan. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. [Hasani Ahmad Said, M.A. -Peserta Pendidikan Kader Mufassir Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) dan Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah]