Fatwa Unik Kyai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Salat Tarawih

Posted on Posted in Kolom

Sudah menjadi kebiasaan hampir di setiap Ramadhan tiba, umat Islam berbeda pendapat tentang jumlah bilangan salat Tarawih. Sebagian kelompok berpendapat bahwa jumlah rakaat salat Tarawih yang benar adalah sebanyak 20 rakaat. Sementara itu, sebagian yang lain berpendapat bahwa salat Tarawih cukup dilakukan sebanyak 11 rakaat saja. Bahkan salah seorang ulama dari golongan ini, Syekh Albani dalam kitabnya Risalah Tarawih memfatwakan barangsiapa yang menambah salat Tarawih lebih dari 11 rakaat maka perihalnya sama seperti orang yang menambahi salat Zuhur menjadi 5 rakaat. Artinya salat Tarawih 20 rakaat adalah sebuah kebid’ahan.

Masing-masing dari dua pendapat di atas didasari dengan dalil yang bersumber dari hadis. Kelompok pertama berdalil dengan hadis Mauquf yang bersumber dari Saydina Umar ibn al-Khatthab di mana beliau pernah menyatukan semua umat Islam di masanya untuk salat Tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat. Hadis ini sahih dan diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra-nya. Sementara kelompok kedua, berdalil dengan hadis yang bersumber dari Sayyidah Aisyah yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah salat, baik di Bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan, lebih dari 11 rakaat. Hadis ini juga sahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Berbeda dengan kedua pendapat di atas, Kyai Ali Mustafa Ya’qub mempunyai pandangan tersendiri terkait dengan persoalan ini. Beliau menegaskan, dalam karyanya Hadis-Hadis Bermasalah, bahwa tidak satupun riwayat sahih yang menjelaskan kepastian jumlah rakaat salat Tarawih. Beliau juga menyebutkan bahwa boleh saja bagi seseorang melakukan salat Tarawih dalam jumlah yang ia kehendaki. Bahkan seribu rakaat pun dalam semalam hukumnya adalah boleh-boleh saja, karena yang diutamakan dalam pelaksanaan salat Tarawih adalah lama dan bagusnya salat itu. Boleh saja bilangannya sedikit asalkan bacaannya bagus dan panjang, begitu juga dengan mereka yang salat dengan jumlah rakaat yang banyak seperti 20 ataupun 36 rakaat.

Pendapat seperti itu beliau simpulkan berdasarkan argumentasi sebagai berikut :
Pertama, Kyai Ali berpandangan bahwa tidak satu pun hadis Marfu’ (hadis yang dinisbatkan secara langsung kepada Nabi) yang menjelaskan bilangan salat Tarawih beliau. Memang benar ada hadis Sahih yang menceritakan Nabi pernah salat bersama sahabat sebanyak dua atau tiga malam pertama Ramadhan. Namun beliau tidak melanjutkannya karena khawatir Allah akan mewajibkan salat tersebut kepada Umat Islam yang pada akhirnya akan memberatkan mereka. Dalam hadis tersebut tidak disebutkan secara eksplisit jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Nabi. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Sayyidah Aisyah sebagai berikut :

عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس. ثم صلى من القابلة فكثر الناس. ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم. فلما أصبح قال : قد رأيت الذي صنعتم فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم. قال : وذلك في رمضان.

Artinya : Dari Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah Saw pada suatu malam (di bulan Ramadhan) pernah salat di masjid. Lalu para sahabat pun mengikuti beliau. Kemudian di malam selanjutnya Nabi salat kembali, namun sahabat yang mengikutinya bertambah banyak. Lalu mereka berkumpul pada malam ke-3 atau ke-4, namun Rasulullah tidak menemui mereka. Keesokan harinya, setelah salat Subuh Rasulullah berkata kepada mereka, “Sebenarnya saya melihat apa yang kalian lakukan tadi malam. Namun tidak ada satu hal pun yang mencegahku untuk salat bersama kalian kecuali hanya rasa khawatir kalau-kalau Allah Swt mewajibkan salat tersebut kepada kalian”. Perawi menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi pada bulan Ramadhan.

Kedua, satu-satunya hadis Marfu’ yang bisa digunakan untuk menganalisa jumlah rakaat salat Tarawih Nabi adalah hadis Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim di mana Rasulullah bersabda :

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

Artinya : Dari Saydina Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (malam-malam) di Bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, niscaya dosa-dosa (kecil) yang pernah ia perbuat akan diampuni oleh Allah Swt.”.

Dalam hadis di atas Nabi tidak memberikan batasan khusus untuk pelaksanaan qiyam al-lail (salat Tarawih). Beliau hanya menyebutkan barangsiapa yang mengerjakannya dengan keimanan dan penuh perhitungan, maka dosa kecilnya akan diampuni. Berdasarkan keumuman tersebut Kyai Ali tidak membatasi bilangan rakaat salat Tarawih.

Ketiga, Kyai Ali membenarkan kesahihan hadis Mauquf yang digunakan oleh kelompok pertama, yaitu hadis yang menceritakan sikap Umar yang menyatukan umat Islam agar melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat di bawah komando seorang imam, yaitu Sahabat Ubay ibn Ka’ab. Beliau juga membenarkan kalau hal itu sudah menjadi kesepakatan umat Islam dari semenjak zaman Umar hingga sekarang. Namun dalam hal ini, Kyai Ali tetap memberlakukan keumuman hadis yang bersumber dari Abi Hurairah di atas untuk dijadikan sebagai dalil tidak terbatasnya bilangan salat Tarawih berdasarkan orientasi kemaslahatan. Yaitu agar tidak adanya saling klaim kebenaran antar kelompok yang pada akhirnya akan membawa kepada perpecahan umat.

Keempat, beliau juga mengkritisi dalil yang digunakan oleh kelompok kedua yang menganggap bahwa salat Tarawih hanya sebelas rakaat saja dengan argumentasi bahwa hadis tersebut bukan dimaksudkan untuk menjelaskan salat Tarawih. Namun hadis itu berbicara tentang jumlah rakaat salat Witir. Buktinya hadis tersebut dicantumkan oleh Imam al-Bukhari dalam bab salat Witir. Selain itu, melalui redaksi hadisnya juga dapat dipahami bahwa Nabi tidak pernah salat sunah lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya. Sehingga tidak mungkin salat yang dimaksud adalah salat Tarawih, karena salat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan saja, tidak ada di bulan yang lain.

Kelima, beliau juga membantah argumen Syekh Albani sebagaimana yang tercantum dalam karyanya RIsalah Tarawih, yang membatasi pelaksanaan salat Tarawih hanya pada bilangan sebelas rakaat saja. Setelah diteliti, argumentasi yang digunakan oleh Albani adalah hadis riwayat Ibn Hibban yang bersumber dari Sahabat Jabir ibn Abdillah di mana dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi mengizinkan sahabat Ubay ibn Ka’ab untuk mengimami salat qiyam al-lail wanita-wanita yang ada di rumahnya. Pada saat itu Ubay menyatakan akan salat bersama mereka sebanyak 8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir, sedangkan Nabi diam saja pertanda beliau setuju.

Hadis tersebut mempunyai kualitas yang sangat Dho’if sekali (dho’if syadid). Penyebabnya adalah karena dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Isa ibn Jariyah. Ia dinilai oleh para ahli hadis seperti Ibn Ma’in dan Imam al-Nasa’i sebagai perawi yang sangat dho’if. Bahkan Imam al-Nasa’i melabelinya sebagai perawi yang matruk (hadisnya semi palsu karena ia adalah seorang pendusta). Hal senada juga diungkap oleh Syekh Ismail al-Anshari dalam karyanya Tashhih Hadits Shalah al-Tarawih ‘Isyrina Rak’ah wa Radd ‘ala al-Albani fi Tadh’ifihi. Semoga bermanfaat.[Yunal Isra]