Tetap Sehat Menghadapi Perubahan Iklim Global

Posted on Posted in Kolom
amarullah h siregar

Dunia sudah semakin tua dan semakin ganas akibat ulah manusia. Tidak ada lagi jaminan bagi kita untuk bisa makan dan minum dengan sehat. Makan sayur, ada pestisida. Makan daging, ada zat kimia yang disuntikan. Makan ikan, ada paparan logam. Udara yang dihirup sangat polusi. Dan yang tidak kalah hebatnya adalah tingkat stres yang sangat besar. Jangan dibayangkan bahwa stres tersebut hanya yang bersumber dari pikiran saja. Perubahan iklim yang sangat ekstrim seperti sekarang ini tanpa kita sadari akan menimbulkan stres yang hebat kedalam sel sel tubuh kita, dimana sel akan membutuhkan energi yang berlipat. Bayangkan betapa terbebannya tubuh kita untuk melakukan kerjanya. Global warming yang terjadi juga akibat ulah kita; sebagaimana yang tercantum dalam Ar Ruum 41.

Untuk melawan semua itu agar kita mampu untuk mengantisipasinya sehingga tidak terganggu olehnya dan tidak timbul masalah ataupun penyakit, maka kita membutuhkan sistem tubuh yang kuat, karena sesuai dengan hadits Rasul SAW bahwa sebenarnya penyakit tersebut juga akibat kesalahan dan kelemahan kita (HR Ahmad), sejalan juga dengan yang tercantum dalam As Syura 30.

Tubuh yang kuat membutuhkan sel sel yang kuat; sebagaimana halnya negara yang kuat membutuhkan rakyat yang kuat dan sejahtera. Prioritas utama agar sel kita tidak terbeban adalah mengkonsumsi makanan yang baik – thoyib. Makanan yang halal belum tentu baik. Fast food, processing food, makanan dengan penyedap adalah halal tetapi tidak thoyib bagi tubuh kita. Jadi halalan thoyiban. Sederhana memang tetapi harus diingat “you are what you eat”. Memang betul hanya makanan yang didalam Al Baqarah ayat 173 atau Al Maidah ayat 3 yang dilarang oleh Allah; tetapi bukan berarti diluar yang tercantum di ayat tersebut kita boleh makan seenaknya. Ada ayat lain yang Allah mengatakan jangan berlebihan, Al Araf ayat 31 dan Al An’am ayat 141; sehingga disunnahkan oleh Rasul SAW isi perut 1/3 makanan, 1/3 minuman dan 1/3 udara. Tidak boleh penuh penuh. Coba bayangkan bila kita makan terlalu banyak, apa yang kita rasakan? Makan siang kebanyakan, setelahnya kerjapun berat dan konsentrasi sudah tidak mampu lagi. Pada saat berbuka puasa makan dan minum sepuasnya tanpa ada udara dilambung kita sehingga untuk shalatpun susah.

Itu artinya bahwa sel sudah terbeban akibat kerja berat karena energi yang dipakai untuk mengolah, mencerna dan membakar makanan tersebut terlalu banyak. Bayangkan bila energi kita sudah berkurang atau melemah, bagaimana lagi kita bisa melakukan aktifitas kerja rutin. Apalagi untuk melawan atau berperang melawan pengganggu dan perusuh yang menyerang kita.

Rasul SAW selalu makan dengan seimbang. Dalam shahih Bukhari Muslim diriwayatkan bahwa Abullah bin Ja’far berkata: “Saya melihat Rasulullah SAW memakan kurma segar dan ketimun”. Kurma bersifat panas dan lembab sehingga bisa memprovokasi metabolisme lebih cepat. Ketimun bersifat dingin, mendinginkan perut dan mengurangi beban energi tubuh. Tidak ada wadah yang sangat buruk diisi oleh manusia selain perutnya (HR Tirmidzi)

Selain mengatur asupan makanannya Rasul SAW juga mempergunakan herbal untuk meningkatkan vitalitas tubuhnya; seperti Raihan (sejenis kemangi), Zanjabil (jahe), Habbatus sauda (jintan hitam); yang semuanya itu sangat baik untuk memperbaiki dan melancarkan sistem sirkulasi agar seluruh nutrisi bisa sampai ke sel dengan optimal. Juga tidak kalah pentingnya menambah asupan buah buah untuk menangkal radikal bebas dan meningkatkan kadar anti antioksidan seperti Rumman (delima), Safarjal (sejenis jambu), Thalh (pisang), ‘Inab (anggur).

Oleh: dr. Amarullah H. Siregar , DNMed, DIHom, MSc, PhD
Dokter ahli naturopati. Menangani kasus secara holistik dengan pendekatan ilmu naturopati.