Tugas Utama Manusia sebagai Khalifah

Posted on Posted in Kolom

Ditinjau dari bahasa, “khalifah”  berarti pengganti, penerus, atau wakil. Jadi, manusia pada hakikatnya adalah wakil Allah di muka bumi dalam rangka mewujudkan atau merealisasikan perintah-perintah-Nya.

Para ulama mengemukakan,  secara umum ada 2 (dua) tugas kekhalifahan manusia di muka bumi, pertama, beribadah kepada Allah Swt dan kedua, memakmurkan bumi.

Kekhilafan manusia menyangkut beribadah kepada Allah swt adalah persoalan yang paling banyak mendapat sorotan dalam al-Qur’an dan hadits. Misalnya, yang disyaratkan oleh Allah  dalam firman-Nya pada QS. Al-Dzariat (51): 56, yang terjemahannya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku.”

Dalam konteks beribadah kepada Allah, Islam membagi ibadah ada 2 (dua ) macam, pertama : Ibadah Mahdhah (Murni) atau Ibadah Khashshah (Khusus), dan kedua : Ibadah Sosial atau Ibadah ‘Ammah (Umum).

Yang termasuk Ibadah Mahdhah adalahhal yang sangat bersifat prinsipil, itulah yang tercakup dalam Rukun Islam, yaitu: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Shalat misalnya adalah ibadah yang dilakukan 5 (Lima) kali dalam sehari semalam— ibadah yang tidak bisa ditawar-tawar  untuk ditiadakan selama seseorang telah memenuhi syarat untuk itu, yakni setelah ia mukallaf. Ia hanya bisa ditawar berdasarkan kondisi seseorang. Misalnya, bila ia tidak mampu berdiri, maka ia boleh duduk, jika tidak mampu duduk, ia boleh berbaring, jika tidak mampu berbaring, maka dengan isyarat saja.

Adapun  yang termasuk Ibadah yang bersifat umum contohnya adalah: membantu orang berdasarkan profesinya masing-masing. Seorang petani misalnya dapat membantu seseorang berdasarkan profesinya sebagai petani, seorang pelaut membantu seseorang berdasarkan profesinya sebagai pelaut . Demikian pula profesi-profesi yang lain seperti pedagang/ pebisnis, pegawai, dan seterusnya. Dalam bentuk ibadah ini orang-orang akan berbeda dalam meresponnya  karena ibadah tersebut bisa ia lakukan bisa juga tidak. Hal ini bergantung pada seberapa besar pemahaman  keagamaan seseorang yang dapat menunjang ke arah itu, sehingga  ia akan termotivasi untuk melakukan ibadah tersebut.

Menurut Imam Ja’far Shadiq (Guru dari salah seorang guru Imam madzhab yakni Imam Abu Hanifah)-kutip Quraish Shihab (dengan tambahan uraian dari penulis sendiri), umat Islam harus memperhatikan 3 hal agar ibadahnya berjalan dengan baik, entah ibadah Mahdah, maupun ibadah amah. Tiga hal ini adalah:

1. Tidak menganggap segala apa yang dianugerahkan oleh Allah adalah milik pribadinya.

Hal ini diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya QS. Al- Nahl(16): 75, yang terjemahnya: “Allah membuat perumpamaan  dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun…”

Ini tidak berarti bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali. Ayat ini lebih  mengisyaratkan bahwa manusia punya keterbatasan-keterbatasan. Buktinya, sepanjang peradaban manusia, tidak satupun manusia yang mampu membuat tanah. Ia hanya bisa mengubah bentuknya menjadi batu bata. Demikian juga, manusia tidak mampu membuat air, ia hanya mengubah bentuknya menjadi es batu. Tidak ada manusia yang mampu membuat besi , ia hanya mengubah bentuknya menjadi sepeda, motor, kapal dll. Tidak ada manusia yang mampu membuat kayu, ia hanya mengubah bentuknya menjadi kursi, meja, lemari dll. Dengan demikian , manusia pada hakikatnya hanya bisa mengubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

2. Segala perilaku/ perbuatannya selalu mengarah kepada apa yang diperintahkan oleh Allah swt.

Hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al- Anbiya'(21): 26-27, sebagai berikut :  yang terjemahnya: “…Hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah, mereka itu tidak mendahului-Nya (Sekalipun) dengan perkataan, dan mereka senantiasa mengerjakan perintah-perintah-Nya.”

Yang kedua ini dapat diibaratkan sebuah kereta api. Coba kita perhatikan kereta, selama tidak ada gangguan pada relnya maka insya Allah ia akan tiba ke tempat tujuan dengan selamat. Tapi kapan ada gangguan pada relnya, maka bukan saja ia tidak akan tiba ke tempat tujuan, tapi malah dapat mengakibatkan korban jiwa. Demikian itu pula halnya dengan manusia, kapan ia mencoba keluar dari fitrahnya atau aturan-aturan/ kewajiban-kewajiban  yang telah ditetapkan oleh Allah padanya, maka ia akan ditimpa ketidaktenteraman pada pikirannya, hatinya sehingga ia dapat jatuh sakit, yang pada gilirannya ia tidak dapat menjalani kehidupan di muka bumi ini dengan baik.

3. Segala apa yang direncanakannya selalu dikaitkan dengan kehendak Allah swt.

Hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al- Kahf(18): 23-24. yaitu, yang terjemahannya ” Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah””.

Mengenai “insya Allah” yang sering disebutkan berkaitan dengan rencana manusia agar sesuai dengan kehendak Allah, ada cerita hikmah yang cukup menarik. Ada seorang Ustadz, ingin melakukan suatu perjalanan ke suatu daerah dengan naik pesawat. Ketika seorang pegawai bandara mengantarkan tiket kepada Ustadz tersebut dan mengatakan, ustadz pesawat akan berangkat pada pukul 14.00, spontan Ustadz menjawab, “insya Allah.” Pegawai bandara tersebut mengatakan, mengapa insya Allah lagi Ustadz, tiket kan sudah di tangan dan jadual keberangkatan sudah ditentukan. Jawab sang Ustadz, betul, tapi apakah anda dapat memastikan 100% bahwa pesawat akan berangkat tepat pada waktunya tanpa ada hambatan sedikitpun, pegawai bandara tersebut tidak menjawab lalu ia pulang. Tidak beberapa lama kemudian, pegawai bandara tersebut balik dan menyatakan, mohon maaf Ustadz, pemberangkatan ditunda. Kata Ustadz, itulah hikmahnya mengapa saya tetap menyatakan “Insya Allah.”

Selain beribadah kepada Allah swt dengan segala cakupannya, tugas manusia sebagai khalifah yang tak kalah pentingnya adalah memakmurkan bumi. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya pada QS. Hud (11): 61, yang terjemahanya:   “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (Tanah), dan mejadikan kamu pemakmurnya…”

Yang dimaksudkan memakmurkan dalam ayat tersebut adalah membangun di muka bumi ini. Membangun ada dua macam. Pertama, membangun hal-hal yang bersifat fisik, seperti membangun sekolah, perkantoran, jembatan dan lain-lain. Kedua, yang tak kalah pentingnya dari yang pertama malah boleh jadi lebih tinggi nilainya, yakni membangun hal-hal yang bersifat non fisik/ rohani (Akhlak).

Ini artinya, tugas manusia sebagai khalifah tidak hanya dalam bentuk ibadah kepada Allah swt secara langsung untuk mendapatkan ridhanya. Lebih dari itu, kekhalifahan seseorang harus memuat karakter yang cinta dan kasih terhadap bumi serta isinya, dengan cara memelihara ciptaan-Nya ini sebaik memelihara ibadah kita secara langsung kepada Allah  swt. [Malka – Peserta Pendidikan Kader Mufassir Pusat Studi al-Qur’an (PSQ)]