Ajak Anak Belajar Hadapi Tantangan

Posted on Posted in Mawaddah

Ingin anak Anda tahan banting terhadap semua permasalahan yang akan dihadapinya? Coba simak caranya di bawah ini.

Anak, tidak hanya membutuhkan cinta, namun di sisi lain mereka juga butuh belajar bagaimana menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup.  Kenyataannya, kita kerap menyembunyikan berbagai kenyataan pahit dari anak dan mengira bahwa mereka masih terlalu kecil untuk memahami semua itu.  Namun pada dasarnya anak pun butuh dipersiapkan untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup, supaya mereka kuat menghadapi berbagai permasalahan yang menghadang kelak.

Menurut Kenneth Ginsburg, MD, MSEd, pengarang buku “Building Resilience in Children and Teens: Giving Kids Roots and Wings”, yang terbaik adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi berbagai tantangan.

Ginsburg menyebutkan beberapa tips untuk orang tua yang ingin anaknya kuat dalam menghadapi berbagai tantangan:

  • Jika Anda ingin anak berhasil bangkit, biarkan ia jatuh atau gagal terlebih dahulu.
  • Jika Anda ingin anak dapat menyelesaikan masalah, ia harus dibiarkan punya masalah dan dibiarkan untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
  • Jika Anda ingin anak mendapatkan dukungan, biarkan ia merasakan tak berdaya terlebih dahulu.
  • Jika Anda ingin anak belajar empati, biarkan ia merasakan rasa sakit di dalam hatinya.
  • Jika Anda ingin anak mengalami kebahagiaan, biarkan ia merasakan kesedihan.

Tentu saja orang tua harus bijaksana dalam membiarkan anak mengalami berbagai permasalahan. Tetap perhatikan bagaimana mereka menghadapi masalahnya.  Jika permasalahan tersebut sudah mengancam keselamatan atau mempengaruhi emosi mereka secara berlebihan, Anda harus turun tangan melindungi.  Gunakan insting Anda sebagai orangtua dalam menilai sejauh mana mereka bisa menghadapi permasalahannya.

Beberapa tanda jika anak sudah tidak sanggup menghadapi masalah mereka dan membutuhkan penanganan yang tepat dari Anda, antara lain:

  • Regresi, ini biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.  Misalnya anak usia 3 tahun tiba-tiba bertindak seperti bayi saat kelahiran adiknya.  Atau anak 6 tahun tiba-tiba berbicara bahasa bayi.
  • Tiba-tiba anak kerap mengeluh sakit.  Misalnya sakit perut, sakit kepala, mudah lelah, sakit didada.  Jangan menuduh mereka berpura-pura sakit karena menghindari tanggung jawab di sekolah, misalnya.  Pahami bahwa ini tanda-tanda dari stres dan cari penyebabnya.
  • Beberapa anak yang mengalami stres akan menunjukkan tanda-tanda sulit tidur,  kebanyakan tidur, atau tidur terganggu.  Mereka mengalami mimpi buruk dan kerap meminta Anda untuk diperbolehkan tidur di tempat tidur Anda.  Jika ini terjadi, cari tahu penyebabnya dan bantulah untuk mengatasinya.
  • Anak usia sekolah yang terkena stres kerap mempengaruhi perolehan nilai-nilainya.  Mereka sulit memfokuskan perhatian pada pelajaran.  Sehingga perhatikan jika nilai-nilai anak mulai turun drastis, cari penyebabnya dan bantulah anak untuk menyelesaikannya.
  • Untuk anak yang sudah lebih besar, cobalah untuk memperhatikan perilaku mereka.  Stres atau kekecewaan terhadap hidup dapat membuat perubahan yang radikal pada penampilan dan cara mereka berdandan.  Anak mulai merokok, atau membolos sekolah itu juga dapat dijadikan tanda-tanda bahwa mereka sedang berusaha menghindari suatu masalah dalam kehidupan mereka.

Kapanpun anak-anak menunjukkan gejala di atas, yang pertama harus dilakukan adalah menunjukkan pada anak bahwa Anda selalu ada untuk membantu dan mendukungnya.  Dengan cara ini minimal mereka tidak akan merasa sendiri dalam menghadapi apa yang dirasakannya.  Setelah itu carilah tahu apa yang membuatnya stres atau cemas.  Apakah ada yang mengancamnya, atau ada yang mengganggu pikirannya.

Selain itu perhatikan apakah Anda sediri sedang menghadapi suatu permasalahan yang cukup berat.  Karena bisa jadi rasa cemas Anda yang mungkin saja tanpa sengaja Anda tunjukkan lewat perilaku, dapat menulari anak dan membuat mereka merasa tidak nyaman. [esthi]