Mengajak Anak untuk Belajar Berbagi dan Melayani Sesama

Posted on Posted in Mawaddah

Ajarkan pada anak bahwa ia tidak hanya bisa menerima, tapi juga bisa memberi atau bahkan melayani sesamanya.

Coba kontemplasikan, pernahkah Anda mengajak si kecil melakukan sesuatu yang berharga bagi sesamanya.  Tidak hanya sekedar berbagi, misalnya memilah dan memilih pakaian dan mainan yang sudah tidak terpakai pada orang yang membutuhkan.  Namun juga mengajak mereka untuk melakukan sesuatu untuk melayani sesamanya.  Melayani biasanya membutuhkan suatu proses yang lebih panjang.  Misalnya menggunakan ilmu serta waktu yang dimiliki untuk mengajar adik kelas yang kesulitan memahami satu mata pelajaran tertentu.

Mengajak anak untuk belajar berbagi atau melayani adalah upaya untuk mengajaknya memahami kehidupan yang lebih seimbang.  Bahwa jika kita sudah mendapatkan banyak dalam hidup, maka sebaiknya kita juga memberikan apa yang kita miliki untuk orang-orang yang membutuhkan.  Tentu saja yang dibagikan bukan hanya sebatas barang, namun bisa juga tenaga, perhatian, ilmu, dan sebagainya.  Sehingga energi kehidupan terus mengalir seperti roda yang berputar tanpa henti.

Anda bisa memberikan contoh-contoh sederhana di sekitarnya.  Misalnya ajaklah ia melihat kebun.  Mintalah ia memperhatikan bagaimana Anda memberikan pupuk dan menyirami kebun setiap hari dengan penuh perhatian.  Pada saatnya, tanaman-tanaman juga akan memberikan hasilnya pada kita yaitu bunga atau bahkan buah untuk kita nikmati bersama.  Sehingga memberi dan menerima itu bisa dilihat sebagai suatu rantai yang tidak bisa diputuskan, agar kehidupan ini dapat terus berjalan sebagaimana adanya.

Selain itu ada bermacam alasan untuk mengajak anak belajar berbagi atau melayani sesamanya, di antaranya;

– Memberi pesan pada anak bahwa ia dan orang lain saling membutuhkan.

Dengan berbagi atau melayani orang lain, maka akan timbul perasaan dibutuhkan pada diri anak.  Apalagi kalau si kecil sudah dapat melayani sesamanya dengan tenaga atau kemampuan yang dimilikinya.  Misalnya membantu guru mengajarkan adik kelas baris-berbaris, atau membantu adik belajar mengaji.  Anak akan merasakan bahwa hidupnya ternyata bisa bermanfaat dan kehadirannya dibutuhkan orang lain. Hal ini akan memberikan perasaan ‘berharga’, karena ia tidak saja membutuhkan pertolongan orang-orang dewasa di sekitarnya, namun kehadirannya juga memberikan arti bagi orang lain.

-  Mengajarkan anak bahwa melayani atau berbagi adalah salah satu bentuk rasa bersyukur.  Karena jika seorang merasa cukup dengan apa yang didapatkannya selama ini, maka perasaan cukup itu akan termanifestasikan dengan sendirinya, dalam bentuk berbagi atau melayani orang lain. Namun jika masih merasa lapar, maka biasanya orang lapar akan terlihat rakus dan menyimpan makanan untuk dirinya sendiri.

-  Mengajarkan bahwa berbagi tidak harus  dengan hal-hal yang muluk-muluk.  Namun dengan memberikan senyuman, perhatian dan doa pada orang yang membutuhkan, misalnya teman yang sakit, sudah sangat berarti pada orang tersebut.  Ajak saja anak membuktikannya dengan mengunjungi orang sakit.

– Memberi atau melayani juga bisa melalui cara-cara yang unik hasil kreatifitas anak.  Misalnya mengajak anak membuat gerakan kepedulian lewat media sosial.  Atau membuat kue bersama dan dijual, kemudian hasilnya disumbangkan untuk orang yang membutuhkan. Atau sekedar membagikan tips lewat sosial media untuk orang-orang yang membutuhkan. Sehingga anak belajar bahwa berbagi bisa merupakan suatu hal yang sangat sederhana, namun juga bisa suatu proses yang lebih rumit.  Semua bisa dilakukan dengan cara apa saja tergantung niat, kemauan dan kreatifitas kita.

-  Mintalah anak merasakan apa yang dirasakannya setelah memberikan pelayanan atau berbagi pada orang-orang yang membutuhkan.  Biasanya seseorang akan merasakan sebersit rasa bahagia di dalam diri setelah melakukan kebaikan pada orang lain.  Dan katakan pada anak bahwa apa yang kita rasakan itu adalah pemberian Tuhan terhadap apa yang telah kita lakukan.  Sehingga anak  dapat langsung menyadari bahwa dengan memberi sebetulnya kita juga mendapatkan sesuatu.  Walaupun apa yang biasanya kita dapatkan tidaklah selalu hal-hal yang dapat diukur besarannya.  Seperti juga rasa bahagia, atau syukur yang kita rasakan setelahnya. [esthi]