Yang Tidak Dapat Diterapkan pada Remaja

Posted on Posted in Mawaddah

Menjadi orangtua bagi remaja masa kini tidak mudah. Beberapa tips dibawah ini mungkin dapat membantu Anda.

Menghadapi anak yang sudah remaja memang tidak mudah. Ada saja keluhan mereka terhadap perlakuan orangtua dan keluhan orangtua terhadap tingkah laku mereka. Sepertinya ada jarak antara orangtua dan anak usia ini yang sulit untuk disatukan. Tidak heran jika para ahli menamakan masa ini sebagai masa yang penuh dengan badai bagi anak diusia ini. Karena anak-anak usia ini merasa sulit ‘nyambung’ dengan siapapun dan muncul berbagai permasalahan yang khas diusia ini.

Menurut John Duffy, PhD, seorang psikolog klinis dan penulis buku The Available Parent: Radical Optimism for Raising Teens and Tweens, ada hal-hal yang biasa dilakukan orangtua, justru tidak disukai oleh anak. Anak-anak justru memberontak jika diperlakukan seperti yang tertulis di bawah ini, dan melakukan hal yang sebaliknya dari yang diharapkan orangtua. Apa sajakah itu?

Menguliahi

Menguliahi atau memberikan kuliah panjang lebar bisa membuat anak merasa tidak nyaman. Menasehati anak dengan cara ini mungkin bisa diterapkan 20 – 30 tahun yang lalu, namun tidak terhadap anak-anak remaja saat ini. Anak sekarang cepat sekali bertumbuh dewasa. Mereka menjadi semakin kritis dan pintar berdebat. Jadi jangan heran jika kuliah Anda didebat dengan kalimat-kalimat cerdas yang membuat Anda mati kutu. Karenanya, diskusi dua arah lebih cocok bagi mereka. Cara ini membuat anak merasa pendapatnya dihargai, sehingga berpegang pada kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Mengatur

Orangtua kerap kali mengatur dan mengontrol anak secara berlebihan. Misalnya meminta anak membuat PR, lalu memeriksanya berulang kali. Umumnya hal ini justru menimbulkan efek yang sebaliknya. Banyak anak yang mengadu pada Duffy mengatakan bahwa mereka merasa tidak dipercaya oleh orangtuanya jika orangtua terlalu mengontrol anak. Hal ini kerap membuat mereka malas dan tidak mempedulikan pelajaran sebagai protes. Kenapa tidak memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa mengatur dirinya sendiri. Ajarkan saja anak cara-cara memenej diri. Misalnya membuat jadwal, cara belajar dan sebagainya. Lalu biarkan mereka memraktekkan apa yang mereka pelajari secara mandiri. Melakukan pengecekkan terhadap apa yang telah mereka lakukan memang perlu, asal saja tidak terlalu sering dan mencolok. Kemas caranya agar mereka tidak merasa sedang diinterograsi atau dikontrol.

Memanjakan

Awalnya mungkin memberi perhatian, namun jika menjadi suatu pemanjaan yang berlebihan maka akan membuat anak menjadi tergantung. Misalnya membantu mereka membuat tugas sekolah terlalu sering, membantu anak berbohong pada sekolah untuk membebaskan mereka dari tugas dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja akan membuat anak tersebut jadi tidak mandiri dan tidak mengerti cara bertanggung jawab. Apalagi jika anak terlalu dilindungi dari berbuat salah. Mereka akan menjadi anak yang tidak bisa apa-apa nantinya.

Bertangan besi

Orangtua bertangan besi seperti juga teori Amy Chua tentang ibu Asia yang terlalu mengatur anaknya. Orangtua tipe ini biasanya mengatur anaknya demikian rupa sehingga anak tidak memiliki pilihan. Disiplin diterapkan berdasarkan hukuman dan kontrol yang ketat. Anak melakukan sesuatu karena takut, bukan karena kebutuhan dalam dirinya. Biasanya anak-anak yang orangtuanya bertangan besi, akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa cemas dan menarik diri.

Menurut Duffy, yang terbaik adalah menjadi available parent atau orangtua yang selalu ada disaat anak membutuhkan. Tipe orangtua yang mendukung dan membimbing, bukan memaksa. Menerapkan disiplin dengan cara yang lebih tenang, saling terhubung dengan anak dan menerima anak apa adanya. Coba untuk mulai mendengarkan anak dengan hati. Setelah memahami isi hati dan kebutuhan mereka, Anda bisa mendukung dan membimbingnya. Hal ini akan membuat anak juga mendengarkan Anda dan menjadikan Anda penasehat mereka.[esthi]