Terpaku Masjid-masjid Kayu di Polandia

Posted on Posted in Oase

Polandia ternyata menyimpan sejarah Islam yang diwariskan oleh kaum Tatar di negeri ini. Contohnya, dua masjid berbentuk kayu unik yang wajib dikunjungi ketika berada disana.


Polandia atau Republik Polandia adalah negara republik di Eropa tengah yang berbatasan dengan Jerman di sebelah Barat, Republik Ceko dan Slovakia di sebelah Selatan, Rusia (Kaliningrad) serta Lithuania di sebelah Timur Laut dan Belarus serta Ukraina di sebelah Barat (Garis Curzon). Negara ini melingkupi luas 312.679 Km² dan menjadikannya negara ke-69 terbesar di dunia dan ke-9 terluas di Eropa. Polandia juga memiliki 38 juta penduduk, yang menjadikannya negara ke-34 terpadat penduduknya di dunia dan ke-enam terpadat di Eropa.

Pemimpin pertama negara ini, Mieszko I (966) adalah seorang Katolik, sehingga agama yang diakui pertama kali di negara ini adalah agama Katolik. Namun Islam mulai masuk ke Polandia di abad ke 14 dan dihubungkan dengan bangsa Tatar yang datang ke negara itu 600 tahun lalu lewat Lithuania. Sehingga mayoritas masyarakat Muslim di negara ini adalah keturunan pejuang Tatar yang terkenal pemberani, karena mereka tidak pernah ketinggalan dalam sejarah perjuangan bangsa Polandia merebut kemerdekaan.

Sekitar tahun 1970, banyak pendatang Muslim lain yang ikut mendiami negeri ini. Seperti beberapa pelajar dari negara-negara berbahasa Arab di Timur Tengah atau Afrika. Tahun 1989 masuklah para pengungsi dari Chechnya, juga para imigran dari Turki, Yugoslavia, Pakistan dan Afganistan. Para penduduk Muslin inilah yang kemudian membuat masjid-masjid di Warsawa, Bialsystok, Gdansk, Wroclaw, Liblin dan Poznan, juga beberapa mushala di Bydgoszcz, Krakow, Lodz, Olsztyn, Katowice dan Opole.

Masjid di Polandia sangat unik. Sebagian terbuat dari kayu mengikuti bentuk bangunan di daerah sekitarnya. Seperti masjid di Bohoniki dan Kruszyaniany. Dua masjid ini konon merupakan masjid tertua di Polandia. Kedua desa tempat masjid ini berdiri merupakan daerah yang diberikan oleh pemerintah Polandia, King Jan III Sobieski di abad 17 kepada kaum Tatar sebagai imbalan atas keikutsertaan mereka dalam perang melawan Turki. Kedua masjid tersebut tampak serupa, namun tentu tidak sama.

Masjid Bohoniki terdapat di wilayah pedesaan Polandia Timur. Bohoniki sendiri adalah sebuah desa yang menjadi distrik administrasi dari Gmima Sokolka, bagian dari Polandia. Berpenduduk hanya sekitar 100 orang dari 3000 orang yang pernah ada di tempat itu. Sebagian besar akhirnya hijrah ke tempat lain atau ke negara lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Penampilan masjid Bohoniki mengingatkan kita pada sekolah di film Little House in The Prairie. Bukan di tengah padang rumput, tapi di tengah hamparan ladang gandum yang luas. Masjid ini merupakan satu dari dua pemukiman asli Tatar yang tersisa. Dibuat pada abad 17 dari kayu. Memiliki dua ruang kecil untuk shalat. Satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Hanya satu pintu masuk, dengan hiasan dinding kutipan dari ayat-ayat Al Qur’an menjadikan masjid ini tampak begitu sederhana.

Tidak jauh dari desa ini, di hutan, terdapat pemakaman Islam, dimana makam-makam kuno dan baru berpadu membentuk garis-garis teratur. Nama-nama yang tertulis di makam tersebut kadang dari kata-kata bahasa Arab, namun juga ada yang berbahasa Polandia dengan simbol bulan sabit. Makam ini juga menjadi tempat yang kerap dikunjungi pengunjung Muslim, karena pemakaman ini merupakan salah satu dari tiga pemakaman muslim yang terdapat di Polandia.

Sedang masjid Kruszyniany, terletak di sebuah desa bernama sama yang sangat berdekatan dengan perbatasan Belarus. Masjid ini dibuat sekitar abad 16-17 oleh seorang kapten kalvaleri Tartar, Murza Krzeczkowski. Walaupun kini hanya dua keluarga Tatar yang masih tingal di desa ini namun masjid ini merupakan tempat persinggahan kaum Tatar untuk merayakan hari-hari besar agama Islam.
Masjid yang bentuknya tak berbeda jauh dari masjid Bohoniki ini juga sangat popular oleh penduduk non muslim sebagai obyek wisata. Lucunya, penduduk non Muslim yang ingin berkunjung ke masjid ini masuk dengan ritual dengan membuat tanda salib, seperti hendak memasuki gereja. Hal ini menunjukkan penghargaan kaum non muslim terhadap masjid setara dengan penghargaan mereka terhadap tempat ibadah mereka sendiri.[esthi nimita]