HIV Tidak Menggerogoti Hati Alvi

Posted on Posted in Perempuan

Alvi istri yang setia dan taat pada Bambang, suaminya.  Tidak pernah sekalipun ia ‘melirik’ laki-laki lain selain Bambang, sejak ia mengenalnya sebelum mereka menikah.  Ia sangat mencintai sang suami, walaupun ia tahu kalau Bambang adalah tipe pria yang tidak pernah puas hanya dengan satu perempuan saja.  Alvi tahu itu, namun entah kenapa hatinya hanya tertambat pada Bambang seorang.

Bambang sendiri sebetulnya sangat mencintai Alvi.  Namun ia tidak bisa menahan diri dari godaan perempuan-perempuan lain yang kagum padanya.  Maklum, sebagai seorang produser film sukses yang dikaruniai wajah menarik, Bambang cukup dikenal dikalangan kaum selebritas, terutama kaum perempuannya.  Namun Bambang  berjanji untuk selalu kembali pada istrinya tersebut.  Baginya pacar boleh banyak, namun istri tetaplah Alvi.

Alvi sendiri akhirnya pura-pura tidak tahu akan sepak terjang suaminya tersebut.  Ia hanya pura-pura tidak mendengar jika ada gosip-gosip tak sedap sehubungan dengan sang suami.  Semua sudah menjadi rahasia umum, hingga akhirnya Alvi menyerah dan berpesan pada Bambang agar pintar-pintar menjaga diri.  Jangan sampai suaminya tersebut merusak rumah tangga mereka, entah bagaimana caranya.  Dan Bambang menyanggupi.

Hingga saat Alvi melahirkan Nana, putri keduanya.  Alvi bingung dengan keadaan Nana yang berkali-kali jatuh sakit.  Berbeda dengan keadaan Dana, sang kakak yang sudah berusia 6 tahun dan selalu tampak sehat.  Berkali-kali Nana yang masih bayi terserang diare, serta mulutnya kerap dipenuhi sariawan yang tidak sembuh-sembuh.  Akhirnya dokter memintanya untuk melakukan serangkaian tes khusus yang membuktikan bahwa putrinya positif terserang HIV.

Tidak lama setelah putrinya dinyatakan terkena HIV oleh dokter, tiba-tiba Bambang jatuh sakit.  Alvi baru memperhatikan betapa suaminya tersebut kini terlihat lemah dan lebih kurus dari biasanya.  Karena curiga ia pun meminta dokter untuk melakukan tes yang sama seperti pada Nana, terhadap dirinya dan Bambang.  Hasilnya ternyata mereka berdua pun positif terkena HIV.

Dunia Alvi serasa runtuh mendengar vonis dokter terhadap keluarga mereka.  Untunglah Dana tidak terkena virus terebut, namun itu tidak mampu membuat Alvi lega.  Berbagai pertanyaan berkelibatan di pikirannya; ‘Bagaimana jika Bambang tidak bisa tertolong lagi?’, ‘Bagaimana jika aku juga tidak bisa bertahan?’, ‘Bagaimana nasib Nana setelah ini?’, ‘Jika kami semua pergi satu persatu, bagaimana dengan Dana?’ dan banyak lagi pikiran lain yang menekannya.

Vonis tersebut berhasil menjadikan Bambang manusia yang berbeda.  Pria yang sukses dan cukup dikenal tersebut kini tampak tidak lagi memiliki tenaga sisa.  Dari waktu ke waktu ia hanya terlihat menyesali gaya hidupnya bersama bintang-bintang muda pemain film-filmnya.  Ia menyesali bahwa keluarganya hancur di tangannya sendiri.  Walaupun ia memang liar tak terkendali, namun baginya keluarga tetaplah utama.  Dan kini semua seperti direnggut dari hadapannya.  Semua kekayaan, ketenaran, kekuasaan tidak lagi berarti baginya.

Berkali-kali Bambang menangis memohon ampun pada Alvi, istrinya dan tentunya pada Yang Maha Kuasa.  Namun setelah itu ia seperti kehilangan akal sendiri.  Bambang menangis melolong-lolong menyesali perbuatannya sendiri.  Namun apa daya, tidak ada lagi yang dapat dilakukannya.  Apalagi suatu hari tiba-tiba mereka dikejutkan dengan keadaan Nana yang tidak dapat ditolong lagi.  Daya tahannya sangat lemah.  Di usianya yang masih bayi, Nana akhirnya menyerah dikalahkan virus ganas tersebut.

Namun Alvi tetaplah Alvi yang dulu.  Cintanya pada Bambang tidak pernah luntur walau terus-menerus dihancurkan oleh suaminya  sendiri.  Dengan setia ditemaninya sang suami di rumah sakit.  Ia sudah memaafkan Bambang dengan ikhlas.  Ia tahu bahwa usianya pun mungkin tidak lagi panjang.  “Untuk apa membawa dendam hingga ke liang kubur.  Aku dan Bambang sama saja.  Kami hanyalah manusia-manusia yang sedang belajar hidup.  Kami bisa saja melakukan kesalahan sewaktu-waktu.  Bambang sudah belajar dari kesalahannya.  Aku sebagai istrinya, harusnya mendukungnya untuk terus menerus berusaha menjadi manusia yang lebih baik setiap saat,” ucapnya pada salah seorang sahabatnya suatu waktu.

Virus HIV yang ganas itu mungkin mampu menggerogoti tubuhnya.  Namun virus tersebut dan masalah yang menggempurnya selama ini terbukti tidak mampu menghancurkan hatinya.  Ia tetaplah Alvi yang dulu, yang selalu mencintai dan mendukung suaminya tersebut apapun kesalahannya.  “Minimal aku melakukannya untuk memberi teladan bagi Dana, bahwa kami hanyalah manusia-manusia biasa, yang bisa saja berbuat salah namun berusaha untuk memperbaikinya. Agar ia bisa meneruskan hidup dengan cinta bundanya dan kesadaran ayahnya untuk mau bertaubat untuk berusaha kembali meniti pada jalan-Nya,” jelasnya lagi dengan pandangan mata yang tetap saja bercahaya. [esthi]