Kegigihan Fitriyah

Posted on Posted in Perempuan

Fitriyah memang sudah tua.  Usianya sudah genap 70 tahun.  Namun
semangatnya untuk berkarya melebihi orang-orang yang berbeda generasi
dengannya.  Ia sendiri pernah bekerja sebagai seorang konseptor
pendidikan di sebuah Taman Bermain milik keponakannya.  Selain itu, ia
aktif berorganisasi di sejumlah organisasi sosial yang ada di ibu
kota.  Bahkan sampai sekarang ia masih dianggap sesepuh tempat
bertanya bagi orang-orang yang usianya lebih muda darinya, maupun
membutuhkan keilmuannya.

Sebelumnya ia hanyalah seorang guru TK biasa.  Kemudian mengajukan
pensiun dini setelah diajak oleh keponakannya untuk mendirikan sebuah
Taman Bermain di pusat kota.  Sifat keibuan dan mendidiknya sangat
menonjol.  Sehingga sang keponakan merasa nyaman jika Fitriyah bisa
membantunya mendidik guru-guru muda, sambil mengawasi proses belajar
mengajar di tempat itu.

Ternyata posisi baru yang ditawarkan sang keponakan menjadi cambuk
baginya untuk mengejar ilmu.  Ia tidak peduli saat itu usianya sudah
lebih dari 65 tahun.  Merasa bahwa jenjang pendidikan yang dilalui
hanyalah sampai ke sarjana srata satu, Fitriyah merasa perlu menambah
ilmu hingga ke jenjang pendidikan strata dua di sebuah Universitas
Pendidikan yang memang menyediakan tempat bagi orang-orang seusianya
untuk tetap mengejar ilmu.

Di usia setua itu, ia harus menyeimbangkan antara perannya sebagai
seorang konseptor dan konselor pendidikan, seorang pelajar yang
mengejar ilmu lebih tinggi serta sebagai seorang istri dan ibu.
Untungnya, kedua anaknya masing-masing sudah berkeluarga, sehingga ia
hanyalah mengurusi hidupnya sendiri dan sang suami yang sangat
dicintainya.  Suaminya juga sangat mendukung keputusannya untuk
melanjutkan kuliah di usianya yang sudah cukup lanjut tersebut.

Semuanya dijalaninya dengan semangat.  Bagi Fitriyah, bertemu
dengan anak-anak balita di Taman Bermain memberinya semangat
tersendiri.  Anak-anak kecil itu seperti putik-putik bunga yang harus
dirawat agar dapat mekar dan memberikan keindahan pada waktunya.

Ia kenal semua nama anak didiknya yang jumlahnya hampir seratus
anak.  Mereka memanggilnya dengan panggilan sayang, eyang Fitri.

Sedangkan dunia kampus yang sudah puluhan tahun ditinggalkannya
menggelitik semangatnya.  Teman-temannya berpaut usia sekitar 30
sampai 50 tahun dengannya.  Namun mereka menyambutnya dengan suka
cita.  Bahkan tanpa diminta, mereka membantunya untuk mengumpulkan
bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk menyusun makalah maupun thesis.
Ia bahkan tak sungkan-sungkan ikut nongkrong bersama teman-teman yang
kebanyakan lebih muda usia daripada kedua anaknya di warung untuk
memperdebatkan pelajaran dengan teman-temannya yang masih muda.

Kedua anaknya sangat gembira begitu mendengar sang bunda memutuskan
untuk ikut kuliah lagi.  Mereka merasa tertantang untuk ikut mendaftar
memasuki jenjang yang lebih tinggi jika ada kesempatan.  Mereka bahkan
ikut sibuk browsing, mencarikan bahan-bahan kuliah bagi sang bunda.
Saat weekend, kedua anaknya bergantian ikut membantunya mengetikkan
makalah maupun tugas-tugas yang dibebankan bagi sang bunda.

Barto, sang suami pun sangat bangga terhadap keputusan yang diambil
oleh si istri tercinta.  Ia sendiri sudah pensiun dari sebuah instansi
pemerintah.  Keputusan sang istri memberikan ide baginya untuk
memikirkan apa yang mau dilakukannya untuk mengisi waktu pensiun.
Apakah ia akan mengikuti jejak sang istri untuk berkuliah lagi, atau
membuka lapangan kerja baru sesuai dengan hobinya bertukang kayu.
Sang istri banyak memberikan masukan untuk membuat mainan-mainan dari
kayu untuk anak-anak balita.  Tentu saja hobi ini bisa dikembangkan
nantinya menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan.

Saat wisudanya, dengan bangga Fitriyah menggunakan toga
untuk merayakan kelulusannya.  Usianya saat itu 67 tahun lewat 2 bulan
dan ia dinyatakan lulus dengan nilai sempurna sebagai sarjana strata
dua kependidikan.  Ia bahagia karena harapannya ilmu yang didapatnya
melalui bangku kuliah dapat disumbangkan bagi anak didiknya di Taman
Bermain.  Kompetensinya ternyata diakui dan dapat menunjang
pekerjaannya di Taman Bermain.  Karena sang keponakan memberikan
keleluasaan baginya untuk bekarya sekuatnya, maka ia masih meneruskan
bekerja hingga usianya yang sekarang.

Semua kesulitan yang dilakukannya selama ini hanya diniatkan untuk
kepentingan generasi yang akan datang.  Ia ingin agar generasi cucunya
ini mendapatkan pendidikan yang lebih sempurna dibandingkan dengan
generasinya dan generasi anak-anaknya.  Dan keinginan tersebut tidak
hanya semata keinginan kosong belaka.  Ia merasa perlu mewujudkannya
melalui tindakan nyata, yaitu ikut memikirkan pendidikan mereka.

Bukankah Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan untuk menuntut ilmu
sejak dari buaian bunda hingga ke liang lahat.  Inilah yang
dilakukannya.  Ia menuntut ilmu diusia senja untuk ditularkan pada
anak-anak kecil yang masih belum lepas dari buaian bunda mereka. [esthi]