Kesetiaan Menunggu Rustiningsih

Posted on Posted in Perempuan

Sudah 3 tahun Rustiningsih ditinggal Hasan, suaminya untuk merantau ke negeri orang. Sebagai anak buah kapal yang berpindah-pindah bendera perusahaan, Hasan memang jarang pulang menemani sang istri dan putrinya yang berusia 6 tahun. Pekerjaan mengharuskannya berpergian dalam jangka waktu yang lama. Paling pendek adalah perjalanan keliling Asia yang biasa dijelajahi 3 – 4 bulan sebelum pulang kembali ke rumah mereka. Namun jika kapal bertujuan menjelajahi negara-negara di Eropa, Amerika hingga Kanada, maka perjalanan bisa memakan waktu 6 bulan hingga 1 tahun.
Terakhir Hasan mendapat kontrak dari sebuah perusahaan kapal pesiar berbendera Kanada untuk berkeliling Amerika, Kanada hingga Alaska. Kontrak ini dipenuhi Hasan dengan gembira setelah sebelumnya menganggur selama hampir satu tahun akibat habisnya kontrak dengan perusahaan yang sebelumnya. Sebelum pergi, Hasan berpesan bahwa perjalanannya kali ini akan memakan waktu yang cukup lama. Mungkin hingga satu tahun. Namun Hasan berjanji untuk selalu berkirim kabar lewat surat elektronik maupun kartu pos seperti yang biasa dilakukannya.

Beberapa bulan kemudian surat-surat elektronik yang dikirim Hasan masih datang secara teratur, disertai berbagai foto sang suami di berbagai kota dan negara. Bahkan Hasan sempat berkirim surat berisi stiker daun maple, lambang negara Kanada berukuran sedang lewat pos, sambil berpesan untuk memasang stiker tersebut di daun pintu tempat kamar mereka yang memang menjadi tempat khusus pajangan stiker-stiker lambang negara yang disinggahi suaminya tersebut. Setelah itu surat elektronik berangsur-angsur semakin jarang datang. Hasan berkilah bahwa kesibukan di atas kapal menghalanginya untuk sering-sering berkirim kabar.

Selama lima bulan ke depan setelah surat berstiker tersebut sampai, Hasan semakin jarang dan semakin jarang menghubunginya. Biasanya seminggu atau dua minggu sekali, Hasan akan menelponnya melalui telepon kapal yang memang khusus disediakan untuk karyawan kapal pesiar. Hasan paling senang mendengarkan celoteh Nadira, putri tunggal mereka. Namun semakin lama semakin tak terdengar bunyi telepon darinya mampir ke telepon genggam Rustiningsih.

Hingga tepat setahun kepergiannya, Hasan sudah tidak lagi menghubunginya. Baik melalui telepon, surat elektronik, maupun kiriman pos. Rustiningsih sama sekali tidak tahu di mana sekarang suaminya tersebut berada. Setelah dua bulan tidak ada kabar, ia memberanikan diri ke kantor perwakilan kapal pesiar di sebuah hotel mewah di kota. Ia membawa surat kontrak sang suami serta beberapa kartu pos yang dikirimnya lewat jasa pengiriman surat di kapal untuk bukti.

Untung pegawai di sana cukup baik dan bersedia membantunya mencari kabar sang suami, walaupun mereka sendiri tidak banyak terlibat urusan kepegawaian. Semua urusan kepegawaian dilakukan di kantor pusat mereka di Kanada. Mereka sendiri hanya sebagai kantor representatif yang melakukan urusan promosi dan pembelian tiket kapal. Selebihnya mereka merujuk dengan kantor cabang di Singapura yang lebih besar.

Rustiningsih diminta untuk pulang saja sementara mereka mencari tahu keberadaan Hasan. Mira, petugas front desk yang membantunya berjanji untuk menghubungi Rustiningsih secepatnya lewat telepon jika kabar sudah ditemukan. Sayangnya telepon dari Mira mengabarkan bahwa Hasan sudah mengundurkan diri ketika kapal mendarat di San Franscisco. Kabarnya alasan Hasan mengundurkan diri adalah ingin mengadu nasib di negeri paman Sam. Dan pihak perusahaan tidak lagi dapat melacak keberadaan suaminya tersebut.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga genap 3 tahun Hasan meninggalkan Rustiningsih tanpa alasan yang jelas. Rustiningsih yakin bahwa suaminya pasti memiliki alasan yang tepat sehingga tidak bisa memberinya kabar. Rustiningsih begitu percaya bahwa Hasan sekarang tengah berjuang untuk mengumpulkan uang demi meningkatkan taraf hidup keluarganya. Walaupun demikian, pencarian tidak pernah berhenti dilakukannya. Ia dengan aktif menghubungi beberapa kenalan yang bekerja di Amerika untuk mencari jejak sang suami. Bahkan kedutaan Amerika dan departemen Luar Negeripun sudah didatanginya untuk mencari kabar. Namun tidak ada satu kabarpun yang membawa kisah tentang sang suami.

Di masa penantiannya, bukannya tidak ada pria lain yang tertarik pada ibu muda yang masih sangat cantik dan setia ini. Bahkan pihak keluarga menyarankannya untuk melupakan Hasan, mengurus surat cerai serta menerima pinangan pria lain. Bukankah dalam Islam, jika seorang istri jika ditinggalkan selama 3 bulan berturut-turut tanpa diberikan nafkah lahir dan batin berarti pernikahan tersebut dapat dikatakan batal dan istri dapat menggugat cerai.

Namun Rustiningsih tetap pada pendiriannya. Baginya cintanya yang sejati adalah milik Hasan. Ia tidak mau menyerah begitu saja sebelum Hasan memberikan penjelasan padanya mengenai apa yang terjadi pada suaminya tersebut. Setiap hari hanyalah doa-doa yang dipanjatkan bagi keselamatan suaminya tersebut. Setiap saat ditelusurinya semua alamat email miliknya dan berharap Hasan meninggalkan pesan baginya atau bagi Nadira, putri mereka. Setiap kotak surat elektronik itu kosong berita, dikuatkannya hati sambil bergumam, ‘Mungkin bukan hari ini, mungkin besok atau lusa!’ [esthi]