Lina, Obsesi Semu Seorang Model

Posted on Posted in Perempuan

Namaku Lina.  Aku seorang model atau peragawati.  Temui aku di catwalk papan atas, pasti ada sosokku di situ, sedang memeragakan pakaian-pakaian designer terkenal.  Aku memang salah satu peragawati terlaris di ibu kota.  Tidak saja tubuhku yang sangat sesuai untuk standar seorang model, namun kulit hitam dan wajahku yang unik membuat para designer dan pengarah gaya dari berbagai majalah mencariku untuk mengisi  acara peragaan busana atau pemotretan sebuah majalah.

Tidak pernah ada dalam anganku untuk berkarir di dunia modeling.  Beberapa tahun yang lalu, aku adalah seorang remaja biasa, yang bersekolah di sebuah universitas negeri kenamaan.  Saat itu tidak ada yang meragukan kepandaianku.  Aku masuk ke universitas itu juga karena program penelusuran  minat dan bakat yang memantau prestasi siswa sejak kelas 1 SMA.  Dari sekolahku, hanya aku satu-satunya yang dapat masuk ke universitas bergengsi ini.

Waktu itu aku baru saja menikmati masa-masa kuliahku.  Tiba-tiba seorang kakak kelas menawarkan agar aku mau difoto di sebuah majalah yang dikelola kakaknya.  Tidak membutuhkan waktu yang lama setelah pemunculanku di majalah itu,  tawaranpun banyak mampir ke inbox ponselku.  Awalnya aku enggan dan hanya memilih tawaran pemotretan dari majalah yang pertama memotretku.  Itu juga karena aku yakin akan kualitas majalah tersebut yang terkenal bagi perempuan baik-baik.  Pakaian yang harus kukenakan pun terlihat sopan.  Paling-paling pakaian untuk bepergian atau ke kantor.

Namun pesona dunia modeling memang sulit untuk ditolak.  Aku semakin percaya diri, terutama saat namaku meroket di kalangan teman-teman di kampus.  Rasanya semakin banyak orang yang senang berteman denganku, dan itu melenakanku.   Lama-lama akupun sulit untuk menolak ajakan para designer papan atas yang menelepon langsung ke ponselku dan membujukku untuk mengikuti peragaan busana mereka.  Apalagi iming-iming insentif  yang mereka tawarkan memang membuatku tak kuasa mengatakan tidak.

Perlahan namun pasti, kehidupan di dunia gemerlap panggung peragaan busana mampu membiusku dan menghilangkan motivasiku untuk meneruskan kuliah.  ‘Untuk apa? Bukankah kuliah bertujuan untuk memudahkan aku mendapatkan pekerjaan yang layak kelak, dan aku sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang mampu membuatku mandiri  tanpa perlu bersusah payah belajar!’ begitu yang ada dalam benakku.  Batasanku mengenai cara berbusana pun semakin longgar.  Terserah pakaiannya seperti apa, yang penting mereka mau membayar mahal!

Teman-teman dari kampus akhirnya menghilang satu-satu.  Mereka tampaknya merasa bahwa aku sudah semakin sulit dipahami.  Keberadaan mereka berganti dengan teman-teman sesama model.  Bahkan aku ikut pindah ke apartemen yang dikontrak mereka beramai-ramai, demi memudahkan penyesuaian dengan jadwal manggung.  Tidak lagi kudengarkan protes ayah, dan tangisan ibu. Lama-kelamaan aku semakin terbawa dengan arus kehidupan mereka.

Saling bersaing merek busana menjadi hal biasa yang kerap aku hadapi setiap hari.  Belum lagi rebutan pacar, bersaing bentuk tubuh, penampilan dan sebagainya.  Hingga demi tetap ingin eksis di dunia ini, akupun berusaha untuk mengikuti gaya hidup mereka.  Mentato tengkuk dengan model geometris yang genit, mewarnai rambut berulang kali, berjemur di pantai agar kulit terlihat semakin gelap dan seksi, hingga berusaha memuntahkan makanan yang sudah dimakan agar kelangsingan tubuh selalu terjaga.  Makin hari aku seperti semakin kehilangan diriku.  Mengikuti semua prasyarat tak tertulis sebagai seorang model, tanpa memahami apakah memang itu yang aku butuhkan.

Telepon penuh nasehat dari  orang tua sudah tidak lagi aku hiraukan.  Aku lebih percaya dengan anjuran teman-temanku dibandingkan mereka.   Semakin meningkat usiaku, kecemasanku semakin meningkat juga.  Cemas jika para designer tidak lagi melirikku, dan pembaca majalah semakin bosan dengan profilku.  Kecemasan mendorong aku untuk melakukan apa saja demi meningkatkan penampilanku dimata mereka.

Setiap pagi kulewatkan dengan melihat tampilanku di kaca.  Bukannya bersyukur, namun semakin kritis aku menilai pantulan yang terlihat di sana. Lengan yang tampak berlemak, perut yang membuncit, paha yang menggembung, kulit yang terlihat pucat, satu persatu kukoreksi dengan kritis.  Aku semakin terobsesi dengan penampilanku.  Akibatnya aku semakin sering memuntahkan makanan yang masuk ke dalam tubuhku.

Hingga suatu hari, seorang designer langgananku memekik ketakutan melihat tubuh kurusku yang dipenuhi dengan tonjolan tulang-tulang.  Ia langsung memaksa aku untuk pulang ke rumah kedua orangtuaku.  “Kau sakit, kau harus berobat!” ucapnya berulang kali sambil mengancam tidak akan memakaiku lagi jika aku tidak menemui mereka.  Bahkan ia sendiri yang kemudian mengantarku pulang ke rumah orangtuaku.

Duniaku terasa retak dalam sekejap.  Seakan pijakanku runtuh dan aku terhempas keras.  Aku tahu, kabar mengenai obsesiku akan tubuh langsing yang menjadikan aku terkena anorexia akan menyebar seperti virus dari panggung ke panggung, daridesigner ke designer.  Akupun paham, tak lama lagi namaku akan tenggelam.  Tidak lagi ada yang mau menerima seorang gadis yang kalah dalam pertempuran di dunia penuh mimpi seperti itu.  Mau tak mau aku harus pulang, ke tempat orang-orang yang mau menerimaku apa adanya.  Ke rumah kedua orangtuaku.  Aku hanya sangsi, apakah mereka mau memaafkanku? [esthi]