Melati yang Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Posted on Posted in Perempuan

Melati seorang sarjana strata 2 dari sebuah universitas negeri terkemuka di negeri ini. Sebelum menikah dengan Kaidir, ia seorang perempuan karir yang cukup cerdas. Pekerjaannya sebagai Senior Manajer di Divisi Perkembangan Bisnis membuatnya selalu memperkaya diri dengan ilmu yang didapatnya melalui berbagai buku, seminar maupun berguru dengan para senior di kantornya.

Setelah menikah dan hamil berturut-turut hingga 3 kali, Melati memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya yang cukup bergengsi. Ia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga mengurus ketiga anaknya yang berjarak—masing-masing—satu setengah tahun. Ia mengundurkan diri dengan penuh kesadaran bahwa peran seorang ibu bagi anak-anaknya lebih mulia daripada menjadi seorang dengan jabatan setinggi apapun.

Kaidir sebetulnya tidak melarang jika Melati ingin tetap bekerja. Namun melihat kesungguhan sang istri, ia pun ikut mendukung. Hanya saja hatinya diliputi perasaan khawatir. Karirnya sedikit lebih rendah dibanding sang istri. Penghasilannya tidak sebesar Melati. Ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini Melati tidak lagi menghasilkan uang untuk keluarga mereka. Sebagai gantinya ia harus berusaha menghidupi keluarganya dengan anak tiga yang masih kecil-kecil.

Namun kekhawatiran tersebut ditepisnya dalam-dalam. Ia tak ingin membuat Melati panik. Demi mendapatkan tambahan uang, diam-diam ia mencari kerja tambahan. Untungnya seorang kenalan memiliki lembaga pendidikan yang membutuhkan tenaga pengajar untuk memenuhi kebutuhan karyawan. Sehingga ia memutuskan untuk mengajar di lembaga tersebut setiap malam.

Akibatnya bisa ditebak. Kaidir jadi sakit-sakitan karena terlalu lelah bekerja dengan dua pekerjaan yang dilakukan tanpa jeda. Melatipun memutar otak, bagaimana caranya agar sang suami bisa menghasilkan uang yang cukup bagi keluarga mereka, namun tetap dapat menjaga kesehatannya dengan istirahat yang cukup.

Otaknya terlatih memikirkan berbagai kemungkinan sesuai dengan pekerjaan sebelumnya, membuatnya memiliki beberapa alternatif bagi Kaidir. Ia mengajukan perencanaan usaha pada sang suami dengan mengusulkan agar sang suami membuka usaha membuat web bagi perusahaan-perusahaan yang ingin memasarkan diri lewat dunia maya. Suaminya tersebut memang memiliki ketrampilan yang cukup handal di bidang multimedia, tekhnologi industri dan disain grafis. Ia yakin dirinya bisa membantu sang suami memasarkan dirinya pada perusahaan-perusahaan rekanannya dulu.

Diam-diam ia mempersiapkan semuanya sendiri bagi sang suami. Ia membuat proposal yang dikirimkannya ke beberapa perusahaan rekanannya dulu tanpa mengatakannya pada Kaidir terlebih dahulu. Begitu ada permintaan untuk membuat sebuah disain web, langsung diberikannya pekerjaan tersebut pada Kaidir. Melati mengerjakan semuanya, seperti pembuatan proposal, surat menyurat, penagihan serta membantu Kaidir mengisi konten dari web yang telah siap. Namun ia bekerja diam-diam. Setiap kali ada yang bertanya, ia selalu mengatakan bahwa semua itu pekerjaan Kaidir.

Melati tidak mau menonjolkan talentanya disaat-saat ini. Diam-diam ia mendukung sang suami, tanpa merasa harus ikut terlihat terlibat. Ia bahkan tidak pernah mau mengakui bahwa ialah otak dibalik sukses sang suami yang mewujud kemudian. Dengan senyum yang hangat ia selalu berkata bahwa semua itu adalah upaya Kaidir seorang. Ia tak mau tampil bukan karena ia rendah diri, namun pada dasarnya ia rendah hati demi mendukung karir Kaidir, sang suami tercinta.[esthi]