Penyangkalan Titi

Posted on Posted in Perempuan

Titi, sebetulnya seorang perempuan yang ceria dan memiliki banyak talenta.  Namun sejak menikah dengan Haryo perangainya berubah 180°.  Ia lebih banyak tinggal di rumah dan sangat menutup diri.  Paras mukanya yang cantik tidak lagi bersinar seperti 7 tahun yang lalu saat belum menikah dengan Haryo.  Walaupun  sering melontarkan senyum dan sapaan, namun semua terasa basa-basi.

Padahal dirinya, yang putri seorang saudagar batik terkenal dari kota Gudeg ini, cukup eksis di pergaulan.  Ayah dan ibunya seorang pengusaha batik yang namanya sudah terdengar di seluruh Nusantara.  Haryo sendiri seorang pengusaha minimarket yang sangat terkenal dari Ibu Kota.  Pernikahan mereka merupakan produk perjodohan.  Haryo pengusaha kondang, meminang anak saudagar batik.  Semua orang yang mendengar pernikahan ini mengatakan; sempurna!

Namun tidak ada yang tahu apa yang dialami Titi selama ini.  Diam-diam ternyata Haryo memiliki penyakit gila judi dan perempuan.  Titi sebetulnya sudah mendengar gosip ini sejak sebelum menikah.  Namun pesona Haryo yang luar biasa, ditambah pemanjaan yang kerap ditunjukkan bujangan ganteng itu membuat hati Titi lumer.  Gadis manis ini merasa tersanjung, mengingat Haryo juga dikenal sebagai laki-laki yang menjadi incaran banyak perempuan.

Ia sendiri tidak pernah bisa membuktikan gosip tersebut, apalagi menangkap basah pria itu bersama perempuan lain.  Rupanya laki-laki ini cukup lihai dalam ‘permainannya’.  Sehingga Titi yakin bahwa suaminya sudah bertobat masalah perempuan.  Namun yang tidak dapat disembunyikan dari sang istri adalah kebiasaannya berjudi.  Minimal Titi tahu bahwa sebenarnya usaha sang suami sudah ambruk jika tidak ditopang dana olehnya.

Haryo memang suami yang pintar memilih istri dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.  Ia tahu bahwa Titi mewarisi saham dan harta yang sangat banyak dari usaha batik orangtuanya.  Dengan segala bujuk rayu, Haryo berhasil menguasai hampir semua saham milik istrinya.  Bahkan sebagian besar harta milik Titi pun sudah berpindah tangan untuk menopang bisnis dan kesukaannya berjudi serta main perempuan.

Sebetulnya banyak sekali jejak yang tak sengaja ditinggalkan Haryo mengenai hobinya bermain judi dan perempuan.  Namun Titi selalu melakukan penyangkalan diri.  Ia selalu bergumam sendiri, ‘Tidak mungkin ah mas Haryo berjudi atau bermain perempuan.  Selama ini dia suami yang baik.  Dia tidak pernah membohongiku!’  Tapi sebetulnya hatinya meyakini bahwa Haryo seorang yang misterius dan banyak hal yang tidak dikenalinya dari suaminya tersebut.

Beberapa kali ia menemukan bekas lipstick di kemeja Haryo, atau telepon salah alamat dari perempuan.  Namun berkali-kali pula ia menyangkal semua itu dan meyakini bahwa tidak ada yang salah dengan suaminya.  Ia hanya tidak bisa menyangkal bahwa kini uang pemberian kedua orangtuanya hampir habis, dan sahamnya sudah beralih tangan ke suaminya tersebut.  Titi selalu punya cara untuk membujuk ayahnya mengalihkan saham ke Haryo, atau menyuntikkan dana segar ke perusahaan suaminya tersebut.  Demi cintanya pada sang suami.

Suatu hari tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi bel di pagi hari.  Seorang perempuan muda bertubuh bak pragawati tiba-tiba merangsek masuk ke ruang tamunya sambil berteriak-teriak.  Perempuan itu membawa serta seorang anak berusia 3 tahun.

“Haryo…Haryo… dimana kau?”

Titi berusaha menenangkan perempuan itu, namun dijawab dengan perkataan yang menusuk hatinya,

“Oh, ini istri tuan Haryo yang bodoh itu?  Mau saja dipecundangi suaminya.  Mau saja dikeruk hartanya habis-habisan!  Tahu tidak?!  Haryo hanya mencintaiku seorang.  Aku berhasil memberinya seorang anak sedangkan engkau…apa?!  Hanya harta!  Hartamu mengalir ke rekeningku..tahu!”

Rupanya perempuan tersebut simpanan Haryo yang sedang gusar demi mendengar bahwa Haryo memiliki simpanan perempuan lain lagi.  Perempuan yang mengaku bernama Mila itu berkata bahwa aliran dana yang biasanya deras menuju koceknya sekarang berhenti karena Haryo sedang melirik perempuan muda lainnya.  Mila mengaku hendak menuntut Haryo ke pengadilan, karena dia memiliki surat nikah sah dari KUA sebuah desa terpencil di Jawa Timur.

Titi sudah tidak bisa lagi mendengar apa yang dikatakan Mila.   Semua jejak sang suami yang harusnya dapat menjadi petunjuk sejak beberapa saat sebelum mereka menikah tiba-tiba muncul dan berseliweran di pikirannya.  Rasanya fakta ini terlalu berat untuk dipikulnya seorang diri.  Perempuan yang malang itu akhirnya tidak lagi dapat menyangkal fakta-fakta yang sudah gamblang terbuka di hadapannya, dan ia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya.  Tiba-tiba Titi merasa tanah yang dipijaknya berputar dan dunianya gelap seketika.  Titi pingsan.

Begitu siuman, langsung dipanggilnya pengacara setia sang ayah.  Dikemasinya barang-barang sang suami dan dimintanya satpam di rumahnya untuk mengeluarkan semua barang-barang tersebut ke tempat sampah.  Tekadnya sudah bulat.  Ia tidak lagi mau membiarkan dirinya dan keluarganya jadi bulan-bulanan seorang pria macam Haryo.  Cukup sudah 7 tahun ia ditipu oleh suaminya sendiri, dan kini saatnya ia untuk mengusir lembaran hitam tersebut dari kehidupannya.  Ia harus bisa bangkit demi dirinya sendiri. [esthi]