Penyesalan Sari Dan Kasih Bunda

Posted on Posted in Perempuan

Sejak berangkat remaja, Sari mengambil posisi sebagai oposan Murni, bundanya.  Sebetulnya ia sangat mencintai bundanya tersebut, namun kekhawatiran bunda yang berlebihan terhadap dunia pergaulan Sari, membuat gadis cantik tersebut selalu menentang sang ibu tercinta.  Di matanya kecemasan sang bunda membuatnya tampak seperti pengekangan yang tak pada tempatnya.

Semakin lama Sari semakin memberontak apapun yang diterapkan Murni padanya.  SMS maupun telepon yang berkali-kali mengusik telepon selulernya jika ia sedang kuliah kerap diabaikan.  Gaun-gaun cantik yang dibelikan bunda tak pernah disentuhnya.  Sebagai gantinya Sari lebih suka mengenakan jeans belel dan kemeja kebesaran sebagai seragam kuliah kebanggaannya.

Padahal Murni, seperti ibu-ibu yang lain, selalu mengkhawatirkan berbagai hal akan terjadi pada putra-putrinya.  Berbagai pertanyaan selalu muncul pada benak seorang ibu.  Apakah anaknya sudah makan pagi, siang atau malam?  Apakah ia tidak kedinginan atau kehujanan?  Bagaimana perjalanannya? Amankah? Apakah ada masalah?  Dan beribu kecemasan lain yang malang melintang meminta penjelasan.  Begitulah insting seorang ibu yang selalu ingin melindungi anak-anaknya.

Sayangnya Sari tidak bisa memahami bundanya.  Ia semakin liar memberontak menimbulkan riak-riak konflik di rumah mereka.  Apalagi setelah berkenalan dengan Adam, seorang anggota band cadas yang banyak mempengaruhi gadis cantik itu kepada kehidupan malam.  Tentu saja kehadiran Adam ditentang habis-habisan oleh sang bunda.  Puncaknya Adam membawa lari Sari ke kontrakannya.

Murni tidak dapat berbuat banyak.  Ia hanyalah janda yang ditinggal begitu saja oleh suaminya untuk menikah kembali.  Murni sendiri berasal dari keluarga sederhana yang tidak tahu harus melakukan apa untuk mengambil kembali putrinya yang dilarikan Adam.  Apalagi hal itu dilakukan mau sama mau dan Sari sudah cukup dewasa untuk menentukan sikapnya.  Murni hanya bisa berdoa dan memohonkan ampun pada sang Kuasa untuk perilaku putri satu-satunya tersebut.  Badannya sampai susut menahan derita.

Sampai suatu ketika, tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan para tetangga yang menggedor rumahnya malam-malam.  Ia bergegas keluar dan menemukan Sari layu terkulai dipapah para tetangga dengan wajah kusut masai, rambut acak-acakan dan ceceran darah memenuhi bagian bawah gaunnya.  Mereka langsung melarikan Sari ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Setelah siuman dan mendapatkan penanganan tim medis, barulah Sari bisa bicara.  Gadis cantik yang kini terlihat pucat dan tak terurus itu menangis sejadi-jadinya setelah melihat wajah Murni.  Ia langsung melolong-lolong meminta ampun pada bunda yang menyayanginya tersebut.  Adam ternyata tidak suka begitu menemui kenyataan bahwa Sari hamil.  Ia langsung menghajar Sari habis-habisan dan mengusirnya.  Rupanya apa yang dilakukan Adam berpengaruh pada kehamilan Sari yang masih rentan.  Saripun keguguran dan ditemukan warga tergeletak pinsan di depan gang rumah Murni.

Begitu mendengar kisah itu, langsung warga berduyun-duyun mendatangi rumah Adam dan membawa pemuda bergajulan itu ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas tindakan penganiayaan yang telah menghilangkan nyawa janin Sari.  Adam tak bisa mengelak sehingga polisi langsung menangkapnya.  Untungnya para tetangga mau membantu Murni untuk mempraperadilankan pemuda yang memang perilakunya sudah meresahkan mereka selama ini.

Untung nyawa Sari masih bisa diselamatkan.  Gadis belia itu akhirnya hanya bisa terkulai tunduk di hadapan kaki sang bunda.  Sari tak mampu berkata-kata, hanya tangisannya yang lirih dan tatapan matanya yang nyaris kosong membuat Murni luruh dalam luapan rasa haru.  Kasih seorang bunda melampaui rasa kecewa maupun amarahnya.

Spontan dipeluknya putrinya tersebut erat-erat.  Diusapnya wajah dan tubuhnya dengan kasih sayang, seakan-akan ingin menghalau semua derita dari kehidupan anak tunggalnya tersebut. Tampak Sari ingin meluapkan kata-kata pembelaan, namun ditutupnya bibir sang anak dengan jari-jarinya yang lembut, sambil berkata, “Sudahlah, ibu sudah maafkan semua.  Mari kita pulang anakku.  Bunda hanya bisa berdoa semoga Allah Swt memaafkan dosa-dosamu dan dosaku karena tidak bisa menjaga putriku satu-satunya.  Mari kita pulang nak.” [esthi]